TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Misteri pembunuhan C. Adventus J. Hutasoit, 47 tahun, belum terungkap.
Pembunuhan itu terjadi di Dusun Plasma, Desa Pancur, Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir.
Jasadnya ditemukan dengan kondisi mengenaskan di jalan depan pondok milik korban dalam areal perkebunan kelapa sawit pada Rabu (14/1/2026).
Korban meninggal dengan sejumlah luka di bagian leher dan kepala. Keluarga meyakini Hutasoit dibunuh.
Hal itu diungkap Gaya Hutasoit, abang kandung korban yang tercatat sebagai warga Kota Pekanbaru. Keyakinan itu berdasarkan luka mengerikan pada jasad korban.
"Keluarga meyakini adik kami dibunuh secara sadis. Ada beberapa tebasan benda tajam di leher bagian belakang dan kepala," ungkapnya dalam keterangan tertulis yang diterima Tribunpekanbaru.com, Senin (2/3/2026).
Ia menduga kuat pelaku mengetahui kondisi sehari-hari adiknya yang hidup sendiri di pondok.
Bahkan dari fakta lapangan yang diketahui, terdapat indikasi pembunuhan itu berencana.
Pihak keluarga ikut berupaya mengumpulkan informasi dari berbagai sumber seputar tewasnya korban.
Baca juga: Bupati Afni Z Tekankan Disiplin ASN, Rp1,1 Triliun APBD Siak Terserap untuk Belanja Pegawai
Baca juga: Dewan Dukung Pemprov Riau Terlibat Kelola Lahan Sitaan Bersama Agrinas, Usul 20 Persen untuk BUMD
Tujuannya untuk membantu pihak kepolisian dalam bekerja.
Ia mengaku keluarga amat sedih karena pelaku belum juga ditangkap. Bahkan khawatir jika akhirnya pelaku tak kunjung terungkap sampai bertahun-tahun.
"Sudah hampir dua bulan pelakunya belum juga ditangkap. Keluarga selama ini tidak bisa tenang, khawatir dan gelisah memikirkan bagaimana ujung dari masalah ini nanti," ujarnya.
Ia berharap polisi segera menangkap pelaku. Ia juga mendesak Kepala Kepolisian Daerah Riau turun tangan dalam penanganannya.
"Kami mohon Bapak Kapolda turun tangan untuk memberi rasa keadilan kepada keluarga. Kami yakin kalau Bapak Kapolda yang turun tangan, pasti pelakunya ditangkap," pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Kepolisian Resor Indragiri Hilir, AKBP. Farouk Oktora menyatakan, perkara tersebut masih dalam proses penyelidikan pelaku. Beberapa langkah telah dilakukan.
"Masih proses penyelidikan pelaku, sudah sekitar 17 saksi yang kita periksa, kita sudah olah TKP dengan melibatkan laboratorium forensik Polda Riau," ujarnya ketika dikonfirmasi, Senin malam. (*)