Momentum Ramadan, DPRD DKI Dorong UMKM dan Sektor Usaha Perkuat Ekonomi Jakarta
Wahyu Septiana March 02, 2026 09:07 PM

TRIBUNJAKARTA.COM - DPRD DKI Jakarta menekankan pentingnya mendorong pelaku UMKM dan sektor usaha lokal untuk memperkuat perekonomian ibu kota.

Melalui dukungan kebijakan yang terstruktur dan inklusif, Pemprov DKI diharapkan mampu memperluas akses pasar, memfasilitasi bazar takjil hingga tingkat RW, serta meningkatkan literasi digital bagi para pelaku usaha.

Langkah ini diyakini tidak hanya mendorong perputaran ekonomi selama Ramadan, tetapi juga menumbuhkan peluang berkelanjutan bagi UMKM Jakarta.

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Rany Mauliani mengapresiasi berbagai sektor industri yang berkontribusi positif terhadap pertumbuhan perekonomian. 

Melalui fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan, DPRD berkomitmen memastikan setiap kebijakan dan program pembangunan mampu memperkuat sektor usaha, meningkatkan investasi, serta membuka lapangan kerja bagi masyarakat. 

Sinergi antara eksekutif dan legislatif dapat mempercepat pemulihan dan pertumbuhan ekonomi Jakarta. Sehingga kesejahteraan warga semakin meningkat dan daya saing daerah semakin kuat.

Peran Strategis UMKM

Di sisi lain, Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Dwi Rio Sambodo memandang pelaku UMKM punya peran strategis menggerakkan ekonomi.

Termasuk usaha kecil perdagangan pedagang takjil saat Ramadan.

Anggota DPRD DKI Jakarta Dwi Rio Sambodo
Anggota DPRD DKI Jakarta Dwi Rio Sambodo (TribunJakarta/Yusuf Bachtiar)

 

Aktivitas ekonomi yang tumbuh setiap bulan suci berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat. Bahkan, memperkuat perputaran ekonomi lokal.

"Oleh karena itu, diperlukan kebijakan fasilitasi yang terstruktur, terukur, dan berkelanjutan," kata Dwi Rio Sambodo dalam keterangan tertulisnya, Senin (2/3/2026).

Rio menegaskan, dukungan Pemprov DKI Jakarta bisa terwujud lewat kebijakan konkret. 

Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) DKI Jakarta bisa memperluas penyelenggaraan bazar Ramadan dan sentra takjil secara merata hingga tingkat kelurahan dan RW.

Rio berpendapat, perlu pendekatan berbasis data kewilayahan agar program mampu menjangkau pelaku UMKM secara inklusif.

Dengan demikian, keuntungan ekonomi selama Ramadan tidak hanya terpusat di pusat perbelanjaan atau kawasan bisnis di tengah kota.

Pelaku usaha di lingkungan permukiman warga juga ikut merasakan.

"Hal ini penting agar keuntungan ekonomi Ramadan tidak hanya terpusat di mal atau pusat kota, tapi juga dinikmati pelaku usaha di lingkungan tempat tinggal warga," kata Rio.

Selain perluasan akses lokasi usaha, Rio juga menyoroti pentingnya afirmasi bagi UMKM binaan dalam setiap bazar resmi yang difasilitasi pemerintah.

Skema promosi produk lokal harus memberikan kemudahan berupa biaya partisipasi yang terjangkau atau bahkan subsidi.

Langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari strategi peningkatan akses pasar, sekaligus memperluas jejaring usaha pelaku UMKM.

Sehingga, UMKM mampu berkembang secara berkelanjutan, tidak hanya bergantung pada momentum musiman.

Di sisi lain, Rio menekankan urgensi percepatan transformasi digital bagi UMKM Jakarta. 

Pelatihan pemanfaatan marketplace, optimalisasi media sosial untuk promosi, serta perluasan penggunaan sistem pembayaran non-tunai seperti QRIS.

Dengan begitu kemampuan literasi digital meningkat. Sekaligus memperkuat daya saing pelaku usaha di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin mengarah pada transaksi digital.

"Meningkatkan literasi digital dan daya saing pelaku usaha secara berkelanjutan," tutur dia.

Wakil Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Wahyu Dewanto mengungkapkan hal senada.

Ia menyebut keberadaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) takjil memiliki peran penting menjaga perputaran ekonomi selama Ramadan.

Pasalnya, pedagang hidangan ringan berupa makanan atau minuman manis untuk berbuka puasa itu selalu menuai minat warga.

Karena itu, para pelaku usaha kecil harus memanfaatkan momentum itu secara optimal.

“Tentu hal ini kesempatan bagi UMKM memanfaatkan momentum ini,” ucap dia, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, aktivitas penjualan takjil sudah menjadi bagian dari tradisi dan sudah sepatutnya mendapat perhatian dari Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) DKI Jakarta.

Sebagian UMKM, lanjut dia, muncul sebagai usaha musiman.

Sementara lainnya menyesuaikan jenis dagangan mengikuti kebutuhan Ramadan.

Ia berharap, warga memanfaatkan momentum itu sebaik mungkin, perputaran roda perekonomian berjalan dengan baik.

“Pada dasarnya hal ini sudah menjadi tradisi. Mudah-mudahan usaha musiman ini bisa berjalan dengan baik,” tukas Wahyu.

Berita Terkait

Baca juga: Setahun Pramono–Rano, DPRD Nilai Pembangunan Jakarta Makin Terukur dan Berdampak Nyata

Baca juga: Tak Temukan Pelanggaran Izin, Pemprov DKI Tak Bisa Hentikan Pembangunan Krematorium di Jakbar

Baca juga: Pramono Anung Wanti-wanti Dampak Konflik AS-Iran, Harga Barang di Jakarta Bisa Meroket

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.