UI Lakukan Riset Program MBG di 5 SD Jakarta, Temuannya Mengejutkan!
GH News March 02, 2026 09:10 PM
Jakarta -

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berlangsung satu tahun lamanya. Program yang menyasar ibu hamil, balita, dan siswa ini masih menjadi sorotan lantaran kontroversi yang menyertainya.

Salah satu kontroversi yang tidak luput dari perhatian adalah keracunanMBG. Selain itu, Data Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI) juga menemukan hanya 17% menuMBG yang memenuhi target Angka Kecukupan Gizi (AKG).

Permasalahan ini mendorong para pengajar dari Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) melakukan penelitian pada program MBG. Riset ini berlangsung pada Juni-September 2025 di lima SD Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, dan Jakarta Pusat.

Menu MBG biasanya dibagikan pada jam istirahat pertama sekolah, sekitar pukul 09.00-10.00 WIB. Makanan akan disajikan pada wadah stainless steel bernama ompreng yang telah dicap dengan logo MBG.

Temuan Tim FISIP UI soal MBG

Pengantaran Terlalu Pagi atau Terlalu Siang

Para peneliti menemukan jika ada kasus pembagian MBG yang terlalu pagi dan terlalu siang. Kasus pertama adalah makanan datang terlalu pagi yang membuat makanan menjadi dingin sebelum disantap.

"Kami menemukan beberapa kasus menarik. Ada dua sekolah. Di sekolah pertama, ada kalanya makanan MBG diantarkan pukul 04.00-05.00 pagi. Ini terlalu pagi, karena guru dan siswa belum ada di sana, sehingga dianggap tidak tepat untuk makanan tiba pada waktu itu," jelas Indraini Hapsari salah satu anggota peneliti dalam pemaparan hasil Studi Tentang Awal Peluang, Kendala, dan Tantangan Implementasi Program di Sekolah Dasar di Wilayah DKI Jakarta di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP, UI, Depok, Jawa Barat pada Senin (2/3/2026).

Kemudian pada kasus kedua yang terjadi adalah kebalikannya. Makanan baru tiba pukul 09.30 WIB. Waktu yang terlalu siang mengganggu jam belajar siswa.

"Makanan tiba antara pukul 09.30 pagi, yang terlalu siang, sehingga siswa sudah terlambat untuk makan," ujarnya.

Orang Tua Ikut MembagikanMBG

Bukan guru, tapi beberapa orang tua juga ikut turun membagikan MBG. Pada beberapa sekolah, orang tua bertugas untuk:

1. Menghitung jumlah ompreng saat pengiriman

2. Membagi ompreng ke kelas

3. Mengumpulkan kembali ompreng setelah makan

Indraini mengatakan ada sekolah dengan lantai bertingkat. Agar tidak merepotkan siswa, biasanya orang tua ikut membagikan ompreng MBG tersebut.

"Kalau misalnya kelas kecil, kelas 1 SD sampai kelas 3 itu biasanya guru tadi yang dilakukan oleh guru tim MBG. Kemudian orang tua juga," ujarnya.

Hanya 4-5 Siswa yang Makanannya Habis

Tim juga menemukan hanya maksimal lima siswa dalam satu kelas yang menghabiskan makanan MBG tanpa bersisa. Saat ditanya mengapa makanan mereka tidak habis biasanya siswa berdalih karena kenyang atau belum lapar.

"Yang kedua tidak suka dengan menu-nya," ujar M Arief Wicaksono, anggota peneliti.

Wicaksono mengatakan, tim peneliti yang sudah mencicipi menu MBG mengatakan beberapa menu terasa hambar. Inilah yang mengurangi ketertarikan siswa menghabiskan MBG.

"Kami pernah juga mencicipi tempe yang tidak terlalu ada rasanya, hambar,"ungkapnya.

Kendala MBG

Dian Sulistiawati selaku ketua peneliti mengatakan siswa senang saat mendapatkan paket MBG. Namun hal ini tidak tercermin pada porsi MBG yang dimakan sampai habis.

"Karena tadi, kenyataannya kami melihat, dari setiap kelas hanya paling banyak lima [siswa] menghabiskan semua," ujarnya.

Menurut Dian, perlu adanya penyebaran pengetahuan tentang makanan dan nutrisi. Selain itu, perlu ada kepastian siapa yang bertanggung jawab MBG dikonsumsi dengan baik.

"Pengetahuan tentang gizi saja tidak cukup membuat anak kemudian mau dengan sendirinya mengonsumsi makanan yang diberikan. Tapi perlu ada upaya afeksi lagi," ujarnya.

Selain itu, Dian mengungkapkan sekolah tidak mengetahui mengapa sekolah mereka terpilih sebagai penerima MBG. Hal ini yang memunculkan rasa 'terpaksa' guru dalam menjalankan MBG.

"Jadi informasi tentang apa itu program MBG dan apa manfaatnya buat sekolah itu memang tidak dapat. Guru tidak mendapatkan informasi yang cukup sehingga memang rasa memiliki terhadap program ini tidak kuat," tuturnya.

"Jadi ada keterpaksaan guru dalam menjalankan program ini," tambahnya.

Nikita Rosa
Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.