Pengamat UI Nilai Iran Makin Militan Perang Lawan AS-Israel Pasca Kematian Ali Khamenei 
Hironimus Rama March 02, 2026 09:29 PM

Laporan Wartawan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy 

TRIBUNNEWDEPOK.COM, BEJI - Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei gugur dalam insiden serangan Amerika Serikat (AS)-Israel yang menargetkan kediamannya di pusat Teheran pada Sabtu (28/2/2026) lalu.

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana menilai, gugurnya pria 86 tahun itu justru memicu perlawanan yang lebih militan dari otoritas Iran.

Pasalnya, Ali Khamenei dianggap sebagai sebagai martir atau mati syahid oleh para pengikutnya atas serangan AS-Israel selaku musuh bebuyutannya.

Baca juga: Perang AS-Iran Berkecamuk, Jemaah Umrah Ungkap Kondisi Bandara Jeddah yang Sepi

Alhasil, baik militer maupun pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tidak ada alasan untuk tidak melanjutkan perlawanan. 

“Ali Khamenei meninggal, itu kalau dari sisi Amerika Serikat, seperti di Venezuela, Maduro diambil, wakil presidennya naik,” kata Juwana, Senin (2/3/2026).

“Dan nanti wakil presidennya kalau dia bisa berkompromi dengan apa yang diinginkan oleh AS, AS tidak akan lagi menyerang,” sambungnya.

Berbeda dengan Venezuela, Iran justru tidak mau berunding dengan AS pasca pemimpinnya gugur dalam pertempuran tersebut.

Alhasil, perang masih tetap berlangsung bahkan lebih militan tidak hanya ditujukan ke Israel, tetapi juga ke pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah, seperti di Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA).

“Yang mereka takutkan (pasukan Iran) adalah bukan perang, tapi menyerah dalam perang,” pungkasnya. (m38)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.