Jakarta (ANTARA) - Polres Metro Jakarta Utara meminta Forum Komunikasi Pimpinan Kota (Forkopimko) di daerah itu untuk meningkatkan kewaspadaan terkait eskalasi situasi di Timur Tengah saat ini.

“Adanya eskalasi situasi di Timur Tengah, seluruh wilayah perlu meningkatkan kewaspadaan,” kata Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Erick Frendriz dalam Rapat Koordinasi Forkopimko Jakarta Utara di Jakarta, Senin.

Menurut dia, pemerintah kota harus mengantisipasi kemungkinan dampak dari isu nasional maupun kelompok tertentu agar tidak menimbulkan hal yang tidak diinginkan.

"Perlu dilakukan koordinasi dalam mengatasi kemungkinan yang tidak diinginkan," kata dia.

Ia menambahkan untuk situasi kewilayahan, lanjutnya perlu mewaspadai daerah rawan tawuran, balap liar maupun kegiatan yang berpotensi mengganggu keamanan dan kenyamanan warga dalam beribadah.

Ia menambahkan bahwa intensitas pergerakan masyarakat diperkirakan semakin tinggi, sehingga pengamanan harus diperkuat.

“Ini yang perlu menjadi penekanan kita agar menjaga situasi tetap aman dan nyaman di sepanjang Ramadhan hingga Idul Fitri,” kata dia.

Sebelumnya, pihaknya juga meminta masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam menjaga wilayah dalam mengantisipasi terjadinya tindakan anarkis.

"Seperti kita ketahui, belakangan ini mulai ada lagi informasi atau gerakan-gerakan yang mencoba mengulangi kejadian Agustus tahun lalu, yakni kita tidak tahu asalnya, kemudian mereka berkumpul dan melakukan penyerangan terhadap fasilitas umum maupun kantor polisi," katanya.

Hal ini disampaikan saat apel bersama organisasi masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama di Jakarta Utara.

Erick pun meminta agar masyarakat untuk bersiaga sampai beberapa hari ke depan dan dirinya meminta tolong kepada semuanya untuk siaga tentunya.

“Pasang mata dan pasang telinga untuk malam hari ini dan berapa hari ke depan jangan sampai kejadian kemarin terulang kembali," kata dia.

Ia mengatakan kejadian pada Agustus 2025, ada sekelompok orang yang melakukan lemparan ke dalam Mako Polres Metro Jakarta Utara.

Kemudian adanya provokator membuat masyarakat yang dari sekitar Polres malah ikut melakukan penyerangan juga.

"Jadi, orang-orang ini berusaha membuat keributan. Mereka kemudian lari ke belakang. Begitu ada penangkapan, mereka sudah kabur duluan, nah itu tidak kita inginkan,” kata dia.

Menurut dia, ini bentuk-bentuk dari provokasi atau provokator yang ada yang tentunya tidak diinginkan.

“Jadi, saya rasa kita semua di sini sepakat, wilayah kita harus aman harus tentram," kata dia.

Sebelumnya Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo memerintahkan jajarannya untuk bersiap menghadapi kemungkinan krisis di tengah konflik antara Iran dan Israel-Amerika.

“Saya menyampaikan kepada jajaran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk kita selalu berpikir tentang krisis. Sehingga kalau ada kekurangan, misalnya produk-produk tertentu, kita harus mempersiapkan untuk itu,” ujar Pramono.

Pramono berharap, konflik tersebut tidak akan berlangsung lama. Namun, sebagai pemimpin Jakarta, ia juga menyadari bahwa kondisi tersebut akan berdampak pada Ibu Kota khususnya di bidang barang dan jasa.



Apabila itu terjadi, kenaikan harga barang mungkin akan terjadi di Jakarta.

“Karena pertama, rantai pasoknya melalui Selat Hormuz yang di situ hampir 30 persen lebih minyak dunia itu selalu melewati selat ini, termasuk juga barang-barang yang lain. Maka kalau kemudian ini ditutup, pasti dampaknya semakin panjang, ongkos perjalanan untuk barang tersebut menjadi lebih mahal dan dampaknya kepada harga pasti akan terdampak,” kata Pramono.