Iran menunjuk Ayatollah Alireza Arafi sebagai Pemimpin Transisi Iran.
Penunjukan terjadi setelah pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei tewas akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Dikutip dari Al Jazeera pada Senin (2/3/2026), Iran telah mengumumkan dewan kepemimpinan sementara.
Dewan tersebut beranggotakan tiga orang yang salah satunya adalah Alireza Arafi.
Ia lahir dari keluarga ulama di Provinsi Yazd pada tahun 1959.
Arafi kemudian menempuh pendidikan agama di Kota Qom di bawa bimbingan sejumlah cendikiawan terkemuka.
Ia pun meraih gelar mujtahid yang memberinya kewenangan untuk mengeluarkan fatwa secara mandiri.
Kariernya melesat di bawah kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei.
Arafi dipercaya menduduki sejumlah posisi penting, termasuk menjadi imam salat Jumat di Meybod.
Ia juga pernah memimpin Universitas Internasional Al-Mustafa.
Pada 2019, Arafi diangkat sebagai anggota Dewan Garda, lembaga konstitusional berpengaruh yang bertugas menyeleksi legislasi dan kandidat politik.
Berdasarkan Konstitusi Iran, pemimpin tertinggi harus merupakan ulama Syiah senior yang dipilih oleh Majelis Ahli.
Penunjukan Arafi sebagai Pemimpin Transisi Iran terjadi saat sejumlah nama lain muncul sebagai pengganti Khamenei.
Namun, posisinya di Dewan Garda dan Majelis Ahli memberinya keunggulan institusional saat keputusan suksesi diambil.
Terbaru, muncul laporan bahwa Arafi tewas diserang AS-Israel beberapa saat setelah penunjukan.
Namun, laporan itu belum dapat diverifikasi kebenarannya.