Pemekaran Luwu Raya, PT Vale Tetap Patuh Aturan dan Jalankan Program Pemberdayaan
Sukmawati Ibrahim March 03, 2026 07:22 AM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pemekaran Luwu Raya tengah diperjuangkan belakangan ini.

Hanya saja, pembentukan Provinsi Luwu Raya dan Kabupaten Luwu Tengah belum terwujud karena moratorium pemekaran wilayah oleh pemerintah pusat.

Moratorium ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, khususnya Pasal 38. Sejak 2014, pemerintah menunda pembentukan daerah otonomi baru (DOB) dengan alasan penataan daerah, pengendalian beban fiskal, dan evaluasi kinerja daerah hasil pemekaran.

Di tengah dinamika tersebut, PT Vale Indonesia Tbk, menegaskan siap menghadapi skenario pemekaran Provinsi Luwu Raya dan Kabupaten Luwu Tengah.

PT Vale Indonesia Tbk beroperasi di Blok Sorowako, Desa Sorowako, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Wilayah ini merupakan pusat tambang dan pengolahan nikel terintegrasi.

Termasuk fasilitas smelter dan program pemberdayaan masyarakat menjangkau desa-desa sekitar.

Saat ini, PT Vale memberikan kontribusi signifikan berupa pajak, royalti, dan PAD bagi Kabupaten Luwu Timur dan Provinsi Sulawesi Selatan.

Wilayah Luwu Raya

Apabila Luwu Raya memisahkan diri dari Sulawesi Selatan menjadi provinsi baru, wilayah ini akan mencakup empat kabupaten/kota, yakni

-Luwu Timur (lokasi operasional PT Vale)

-Luwu Utara

-Luwu

-Palopo 

Head of External Relations Regional & Growth PT Vale Indonesia, Endra Kusuma, menegaskan perusahaan tetap patuh pada peraturan dan undang-undang yang berlaku.

“Program pemberdayaan masyarakat tetap berjalan di Luwu Timur, mencakup 38 desa dan 4 kecamatan yang terdampak langsung dengan kawasan kami,” ujar Endra saat Buka Puasa Bersama PT Vale Indonesia Tbk bertajuk Harmoni Ramadan: Kolaborasi Untuk Keberlanjutan di Aloha Coffee and Eatery, Jl Sawerigading, Makassar, Senin (2/3/2026).

Ia menambahkan, kontribusi perusahaan berupa royalti, pajak, dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) akan tetap berjalan sama, baik di provinsi lama maupun jika pemekaran dilakukan.

“Inntinya kami tidak akan ikut dalam politik praktis,” tegas Endra.

Baca juga: Konflik AS-Israel dan Iran Berpotensi Ganggu Industri Tambang, PT Vale Siapkan Efisiensi

Dampak Perang Iran dan AS-Israel

Konflik panas di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai berpotensi berdampak terhadap industri pertambangan, termasuk PT Vale Indonesia.

“Kalau melihat dampak dalam jangka panjang tentu sangat berdampak. Timur Tengah juga berkaitan dengan salah satu komoditas kita, dan tentunya bukan hanya Vale,” kata Endra.

Menurut Endra, salah satu komoditas yang paling terdampak adalah minyak bumi. Minyak menjadi bahan bakar utama untuk operasional pabrik.

“Bahan bakar kami minyak untuk pabrik. Ketika harga komoditas naik, tentu akan berpengaruh terhadap operasional kami,” jelasnya.

Ia menyebutkan, kenaikan harga minyak dan energi seperti BBM dan batu bara akan berdampak pada biaya produksi.

Komoditas turunan seperti nikel juga berpotensi terdampak karena sangat berkaitan dengan dinamika harga energi global.

“Minyak bumi berdampak. Jika terjadi kenaikan, tentu akan memengaruhi biaya. Emas dan energi seperti BBM maupun batu bara juga termasuk komoditas yang terpengaruh,” katanya.

Endra menambahkan, pascakonflik biasanya terjadi peningkatan kebutuhan berbagai komoditas untuk proses pemulihan dan pembangunan kembali.

Kondisi tersebut dapat memicu fluktuasi harga di pasar global.

Selain energi, komoditas lain yang turut terdampak adalah sulfur.

Saat ini sulfur masih menjadi salah satu bahan yang sensitif terhadap gangguan pasokan global.

Dampak lain yang turut diperhitungkan adalah biaya logistik.

Ketidakstabilan kawasan dapat memengaruhi jalur distribusi dan biaya pengiriman.

Untuk meminimalkan dampak, PT Vale menyiapkan langkah efisiensi dan pengendalian biaya operasional.

“Kami tentu berupaya meminimalkan dampak dengan menurunkan cost dan meningkatkan efisiensi,” ujarnya.

Meski demikian, pihaknya berharap konflik tidak berlangsung lama sehingga dampaknya terhadap industri tidak terlalu signifikan.

“Mudah-mudahan tidak terlalu berdampak,” katanya.

Endra menegaskan, sektor pertambangan tetap memiliki peran penting dalam pembangunan dan transisi energi ke depan.

“Bagi kami, tidak ada masa depan tanpa pertambangan dan tidak ada pertambangan tanpa masa depan,” tegasnya.

Turut hadir Head of Corporate Communications PT Vale Indonesia, Vanda Kusumaningrum, tim komunikasi dan manajemen PT Vale Indonesia. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.