Tapi berdampak juga pada warga Banua, terutama bagi mereka yang sedang sujud di depan Kabah atau yang kini tengah sibuk mengemas koper untuk berangkat haji kecil alias umrah.
Laporan menunjukkan betapa tipisnya batas antara ibadah dan bahaya saat ini. Salah satu warga yang merasakan Elsa Pratiwi, jemaah asal Banjarmasin.
Dia salah satu yang paling beruntung bisa mendarat di Tanah Air tepat sebelum pembatalan penerbangan meluas. Elsa tiba kembali di Banua tepat setelah sehari perang Timur Tengah meletus.
Imbauan Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Kalsel, agar warga Kalsel menunda keberangkatan umrah bukanlah bentuk penghalang bagi niat suci menuju Baitullah.
Sebaliknya ini adalah wujud nyata dari tanggung jawab pemerintah dalam meminimalkan risiko bagi jemaah.
Dalam kaidah fiqih, kita mengenal prinsip Hifdzun Nafs—menjaga jiwa. Ibadah memang kewajiban, namun menjemput bahaya di tengah wilayah konflik yang menutup ruang udaranya bukanlah hal yang dianjurkan.
Hifdzun Nafs bermakna melindungi diri dari segala hal yang merusak, baik secara fisik maupun spiritual, serta memastikan kelangsungan hidup manusia. Menunda keberangkatan di saat genting seperti ini adalah bentuk ketaatan kita pada akal sehat dan keselamatan nyawa yang dititipkan Tuhan.
Sikap wait and see yang diambil travel-travel besar di Kalsel, seperti PT Kaltrabu dan Ramasindo Tour, juga patut didukung.
Informasi terbaru meski muncul pembatasan dan pelarangan penerbangan di sejumlah wilayah Timur Tengah akibat eskalasi konflik jemaah umrah asal Indonesia dipastikan tidak mengalami kendala perjalanan pulang.
Sebanyak dua puluh delapan jemaah yang masih berada di Mekkah dijadwalkan kembali ke Tanah Air pada 8 Maret, dan diharapkan tetap berjalan sesuai rencana.
Lainnya menyebut rombongan berjumlah empat puluh orang dalam kondisi aman dan tetap menjalankan agenda, termasuk kegiatan city tour di sekitar Kota Makkah tanpa gangguan. Bahkan rencananya, rombongan tersebut akan kembali ke Banua pada 25 Maret nanti.
Namun di tengah situasi internasional yang memanas, sabar adalah ibadah yang paling utama. Keselamatan jemaah adalah prioritas. Dan di atas segala rencana manusia, kita pasrahkan keamanan saudara-saudara kita yang berada di kawasan Timur Tengah kepada Allah SWT. (*)