BANGKAPOS.COM--Suasana duka menyelimuti Dusun Cuwet, Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, setelah seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) tewas akibat ledakan petasan rakitan, Minggu (1/3/2026) sore menjelang Magrib.
Korban diketahui bernama Rifai Kurnia Putra, seorang remaja belasan tahun yang merupakan anak pemilik rumah.
Ia meninggal dunia di lokasi kejadian dengan kondisi luka bakar parah di hampir seluruh tubuhnya.
Ledakan dahsyat yang terjadi secara tiba-tiba itu menghancurkan rumah milik Minten di RT 02 RW 02 dusun setempat.
Genteng rumah tampak melorot, kusen pintu rusak total, dan bangunan dilaporkan mengalami kerusakan hingga sekitar 90 persen.
Suara ledakan yang keras membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah.
Kasatreskrim Polres Ponorogo, AKP Imam Mujali, membenarkan adanya korban jiwa dalam insiden tersebut.
“Korban meninggal dunia adalah anak pemilik rumah,” ujarnya.
Selain Rifai, dua orang lainnya turut menjadi korban.
Ahmad Fato, warga Desa Morosari, Kecamatan Sukorejo, mengalami luka bakar hingga 90 persen dan kini dirawat intensif di RSUD dr Harjono Ponorogo setelah sempat dilarikan ke Rumah Sakit Bantarangin.
Sementara itu, Hindar Agusta, warga Desa Plosojenar, mengalami luka bakar sekitar 16 persen dan juga menjalani perawatan di rumah sakit yang sama.
Tangis keluarga pecah di lokasi kejadian. Minten, ibu korban, tak kuasa menahan duka dan terus memeluk jasad putranya sebelum akhirnya dibawa ke kamar jenazah RSUD dr Harjono Ponorogo untuk proses visum.
Seorang saksi mata, Siswanto, mengatakan saat dirinya tiba di lokasi, belum ada petugas kepolisian dan korban masih berada di pelukan ibunya.
“Waktu saya sampai lokasi belum ada polisi ibunya terus memeluk sang anak itu. Ya dari tadi seperti itu,” ungkap seorang saksi mata, Siswanto di lokasi.
Menurutnya, saat sampai lokasi, ada dua korban tergeletak. Kedua korban adalah Reva (16) yang merupakan anak pemilik rumah dan Toni warga Desa Morosari, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, Jatim.
“Saat di sini dua-duanya masih hidup. Yang Rifai dipeluk ibunya. Yang satunya Toni saya bawa ke rumah sakit bantarangin pakai sepeda motor saya,” urainya.
Menurut keterangan awal, ledakan diduga terjadi saat korban berada sangat dekat dengan sumber petasan rakitan.
Kerasnya benturan dan panas ekstrem membuat korban tak sempat diselamatkan meski warga berupaya memberikan pertolongan pertama.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan bahaya penggunaan petasan rakitan yang kerap menimbulkan korban jiwa dan kerusakan besar, terutama menjelang bulan Ramadhan ketika penggunaan petasan kerap meningkat.
Polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti ledakan tersebut.
(TribunNewsmaker.com/Eri Ariyanto)(Tribunnews.com)