Hubungan Sukarno dan Hatta memang tak selalu berjalan hangat, terutama dalam hal politik dan kebangsaan. Meski begitu, keduanya tetaplah sahabat sejati yang diikat oleh dwitunggal.
Artikel ini pertama tayang di Majalah Intisari edisi Agustus 2016 dengan judul "Hatta 'Jauh Tapi Dekat Di Hati' Soekarno" | Penulis: Djati Surendro
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Tidak bisa dibayangkan seperti apa negara dan bangsa Indonesia di usianya yang ke 71 tahun ini, seandainya Sukarno dan Hatta tidak pernah bertemu. Namun kalimat retrospektif ini sekaligus bisa menjadi ungkapan syukur karena perjalanan sejarah bergulir lewat kenyataan, bukan pengandaian.
Sungguhpun sifat, karakter, pembawaan, bahkan pandangan politik kedua putra Pertiwi ini saling berseberangan, keduanya bisa disatukan dalam ikatan dwitunggal untuk merebut cita-cita kemerdekaan. Pasang surut hubungan kedua insan yang ikut mewarnai perjalanan bangsa ini, sungguh menyentuh hati.
Barangkali Hatta dan Sukarno tidak pernah membayangkan ditakdirkan tampil bersama sebagai pemimpin bangsanya dan tercatat dengan tinta emas pada lembar sejarah negeri ini.
Mohammad Hatta dilahirkan pada 12 Agustus 1902 di kaki Gunung Merapi dan Singgalang, tepatnya di Bukittinggi, Sumatera Barat. Setahun sebelumnya, di Surabaya, pada 6 Juni 1901 lahir Sukarno, dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo asal Blitar dan Ida Ayu Nyoman Rai dari Singaraja, Bali.
Seperti yang dipaparkan P. Swantoro dalam buku Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu (Kepustakaan Populer Gramedia/KPG bekerja sama dengan Rumah Budaya Tembi, 2002), terlepas dari perbedaan sifat dan pandangan politik keduanya, banyak kemiripan peristiwa yang mereka alami selama perjalanan hidup, baik dalam menempuh pendidikan, intervensi dari ibu masing masing, pernah ditahan dan mengalami masa pembuangan.
Hampir saja Hatta tidak meneruskan pendidikan ke MULO dan bekerja sebagai pegawai pos. Sedangkan Sukarno nyaris mengurungkan niat menjadi mahasiswa Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang Institut Teknologi Bandung).
Seandainya Sukarno diizinkan ibunya meneruskan studi di Belanda setamatnya dari HBS, tentu dia akan bertemu dengan Hatta. Kalau ini terjadi, barangkali suasana Perhimpunan Indonesia di Nederland bisa jadi berbeda, dan mungkin akan mengubah hubungan Hatta dan Sukarno.
Kenyataannya, nasib menentukan lain. Dalam biografi yang ditulis Cindy Adams, permintaan Sukarno agar diizinkan bersekolah ke Belanda ditolak oleh sang ibu.
“Anakku tidak akan ke Negeri Belanda,” kata ibunya.
“Tetapi apa salahnya pergi ke luar negeri?” pinta Sukarno.
“Memang tidak ada salahnya. Tetapi banyak kelirunya pergi ke Negeri Belanda. Apa yang menarik kamu? Harapan akan mendapat gelar universiter, atau keinginan akan perempuan kulit putih?”
“Saya mau ke universitas, Ibu.”
“Kalau demikian, kamu masuk universitas di sini. Pertama, kita harus mempertimbangkan hal pokok yakni uang. Terlalu mahal pergi ke luar negeri. Lagi pula kamu seorang anak yang lahir dengan darah Hindia. Saya mau kamu tinggal di sini di antara bangsamu sendiri.”
Berbeda dengan Sukarno yang tertahan di Tanah Air, Hatta dapat meneruskan pelajarannya ke Belanda karena memperoleh beasiswa Yayasan Van Deventer. Awal Agustus 1921, dengan Kapal Tambora Hatta berlayar ke Belanda dan mendarat di Rotterdam, 5 September 1921, untuk melanjutkan belajar di Handels Hogeschool, Rotterdam.
Saat berangkat beasiswa itu belum dia peroleh, karena terlambat mengajukan permintaan. Untung dia masih mempunyai uang simpanan yang cukup untuk membeli tiket kapal, ƒ1.100. Sisa tabungannya kurang lebih ƒ2.500, diperkirakan cukup untuk biaya hidup di Rotterdam selama setahun.

Terjun ke dunia politik
Di samping belajar, baik Hatta maupun Sukarno mengenal kegiatan politik melalui para tokoh pergerakan. Mohammad Hatta berkenalan antara lain dengan Haji Agus Salim dan Abdul Muis yang saat itu anggota Volksraad (Dewan Rakyat). Mewakili Jong Sumatranen Bond Hatta pernah mengadakan pertemuan dengan Abdul Muis yang datang ke Sumatera Barat pada Agustus - September 1918.
Sementara proses perkenalan Sukarno pada dunia politik dimulai ketika ia belajar di HBS Surabaya dan tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto, seorang tokoh Sarekat Islam yang disegani. “I soaked up more and more politics at Tjokro’s house, the cookshop of nationalism,” kata Soekarno.
Sukarno bahkan sudah diramalkan oleh beberapa orang penting akan menjadi pemimpin. Antara lain Prof. Hartagh, guru sekolah ketika Sukarno masih belasan tahun. Juga Dr. Douwes Dekker Setiabudi pernah mengatakan, “Anak kecil ini kelak akan menjadi penyelamat bangsanya.” Tjokroaminoto pun berpesan kepada seluruh keluarganya, “Ikutilah anak ini. Dia diutus Allah untuk menjadi Pemimpin Besar. Saya bangga memberinya tempat berteduh di rumah saya.”
Berbeda dengan Mohammad Hatta. Dia tidak pernah mendapat bekal ramalan dalam menempuh perjalanan hidupnya. Apa pegangannya? “Cepat, tepat, dan teratur, itulah warisan yang kubawa dari PHS (Sekolah Dagang Prins Hendrik School — Red.) plus didikan dari Handels-hogeschool di Rotterdam,” kata Hatta.
”Berbuat karena Allah menjadi dasar didikanku dari rumah yang membentuk aku sebagaimana aku dalam pelajaran, pendidikan, dan perjuangan untuk bangsa dan Negara selama hidupku. Carilah kebenaran, tuntutlah kebenaran, dan laksanakan kebenaran itu dalam masyarakat, senantiasa menjadi peganganku dalam segala tindakan,” ungkap Hatta.
Berdebat dulu, ditangkap kemudian
Hatta sempat ditahan di Den Haag selama enam bulan karena didakwa menghasut perlawanan terhadap Kerajaan Belanda. Meski kemudian dibebaskan setelah pengadilan menyatakan dakwaan itu tidak terbukti.
Sekembali ke Indonesia Hatta aktif dalam pergerakan kebangsaan lewat ormas PNI Baru. Di sini terlihat perbedaan pandangan politik antara Hatta dengan Sukarno, utamanya dalam sikap non-kooperasi terhadap pemerintah kolonial. Nyaris sepanjang tahun 1932 kedua tokoh ini terlibat adu pendapat dan polemik tentang non-kooperasi. Perang pendapat ini dilakukan terbuka melalui beberapa surat kabar semisal Utusan Indonesia, Sin Po, dan Daulat Ra’jat.
Polemik itu menjadi pertentangan paham antara Partai Indonesia (Partindo) dan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI). Menurut Partindo, seorang non-kooperatif melanggar asasnya apabila mau masuk ke dalam Tweede Kamer. Sedangkan menurut PNI, duduk bersidang dalam Tweede Kamer tidak bertentangan dengan asas non-kooperasi karena Tweede Kamer adalah suatu parlemen, bukan dewan jajahan. Dalam parlemen, pemerintah dan oposisi sama derajatnya.
Namun pada akhirnya, pemerintah kolonial melarang kegiatan Partindo dan PNI Baru. Dewan Hindia – Sekretaris Umum A.D.A. de Kat Angelino dan Jaksa Agung R.J.M. Verheijen – pada tanggal 24 - 25 Februari 1934, menangkap para pemimpin PNI Baru, antara lain Mohammad Hatta, Sjahrir, Maskoen, Boerhanoeddin, dan Moerwoto. Tidak lama kemudian, Bung Karno yang sudah ditangkap sebelumnya, 1 Agustus 1933, pun dibuang ke Ende, Flores.
Awal Januari 1935, Mohammad Hatta dibuang ke Boven Digul bersama Sutan Sjahrir, Bondan, Boerhanoeddin, Soeka Soemitro, Maskoen Soemadiredja, dan Moerwoto. Dalam buku Mohammad Hatta Biografi Politik tulisan Deliar Noer tergambar bagaimana tanah buangan itu sangat ditakuti orang pergerakan. Di Digul Hatta diperlakukan sama dengan orang buangan lain, mengatur sendiri gubuk tempatnya tinggal, menanam sayuran di halaman, belanja dari uang saku f 2,50. Setahun kemudian, awal Januari 1936, Hatta dipindah ke Banda Neira. Kedua tokoh itu baru dapat meninggalkan tempat pengasingan setelah Jepang menguasai Hindia Belanda pada 1942.
Saling mendukung
Meski berbeda tempat dan waktu, kedua tokoh ini saling mendukung perjuangan masing-masing dalam melawan pemerintah kolonial. Mungkin bila diibaratkan bentuk persahabatan kaum muda di media sosial zaman sekarang, mereka saling bertukar mention di akun Twitter masing-masing.
Seperti misalnya, ketika mendapat kabar bahwa Bung Hatta ditangkap dan akhirnya dibebaskan oleh pengadilan Den Haag karena dakwaan yang dibebankan padanya tak terbukti, Bung Karno menyambut gembira peristiwa ini dengan menuliskan perasaan hatinya di surat kabar.
“Saudara-saudara kita bebas! ... Bahagialah Ibu Indonesia yang mempunyai Putera-putera yang segagah itu! Dan kamu, Mohammad Hatta, Abdul Madjid, Ali, dan Nazir Pamuntjak, kamu, putera-putera Indonesia, yakinlah, bahwa segenap rakyat Indonesia adalah berhangatan hati melihat sikapmu itu.”
Hal sebaliknya pun dilakukan Bung Hatta ketika Bung Karno ditangkap Belanda akhir tahun 1920-an. Meski tak pernah berada dalam satu partai atau kelompok, saat itu Bung Hatta menuliskan Bung Karno sebagai “ketua kita”: “Kita masygul, kita bersedih hati, oleh karena ketua kita Ir. Soekarno serta beberapa pemimpin-pemimpin kita yang lain masih dalam tahanan.”

Mengikat janji Dwitunggal
Dalam buku Biografi Politik Mohammad Hatta diungkapkan, sebelum diasingkan Hatta sempat bertemu dengan Sukarno di Bandung tanggal 25 September 1932. Pertemuan itu terjadi berkat bantuan Mr. Sartono, pendiri PNI Baru. Tujuan pertemuan untuk penyatuan Partindo dan PNI Baru. Hasilnya, tidak perlu penyatuan organisasi, tetapi perlu untuk bekerja sama dan tidak saling menyerang. Inti keterangan kedua tokoh itu sama. Mereka tidak dapat bergabung dalam satu organisasi. Sukarno bahkan mengatakan, sifat dirinya dan Hatta memang berlawanan total. “Hatta, a man totally opposite to me in nature,” kata Sukarno dalam biografinya.
Pada 9 Juli 1942 sekitar pukul 20.30 mereka bertemu untuk kedua kali di rumah Bung Hatta, Oranje Boulevard No. 57 (sekarang Jln. Diponegoro, Jakarta). Bung Karno menyebut pertemuan malam itu sebagai our first tactical meeting. Menurut Bung Karno, mereka berdua telah lama hidup dalam suasana percekcokan. Meskipun ketika itu tidak saling menyerang, mereka sama-sama tengah menghadapi tugas yang terlalu besar untuk dipikul sendiri-sendiri. Oleh karena itu perbedaan dalam hal partai maupun strategi pun tiada lagi.
“Sekarang kita satu. Dipersatukan dalam perjuangan bersama,” begitu ujar Sukarno.
“Setuju,” sahut Hatta.
Mereka lalu berjabat tangan. “Ini lambang Dwitunggal kita, dua dalam kesatuan,” kata Bung Karno melanjutkan. “Inilah sumpah khidmat kita berdua untuk bekerja berdampingan, dan tidak pernah terpisahkan lagi sampai Negara kita merdeka sepenuhnya.” Hatta juga sepakat, kepentingan seluruh bangsalah yang dipertaruhkan.
Kedwitunggalan mereka adalah semangat yang terjalin di antara keduanya selama masa revolusi, dalam kebersamaan saling membantu dan menunjang, dan keputusan seseorang diakui sebagai keputusan bersama. Selama revolusi berjalan, banyak sekali perjalanan ke daerah-daerah di Jawa dilakukan bersama oleh Sukarno dan Hatta. Bahan-bahan pidato Sukarno yang resmi biasanya dipersiapkan oleh Hatta. Atau pidato Sukarno yang telah dipersiapkannya sendiri, dibaca dahulu oleh Hatta.
Kencing di celana Hatta
Peristiwa lucu dialami Hatta ketika kedua tokoh ini “diculik” para pemuda ke Rengasdengklok (Mohammad Hatta Menuju Gerbang Kemerdekaan, Penerbit Buku Kompas 2011).
Saat itu tanggal 16 Agustus 1945 jatuh pada bulan Ramadhan. Menurut cerita Soekarni, tokoh pemuda pergerakan, besok sekitar 15.000 massa rakyat akan menyerbu ke kota dan bersama dengan mahasiswa dan Peta melucuti Jepang. Oleh karena itu Bung Karno dan Bung Hatta harus diamankan dulu ke suatu tempat.
Awalnya mereka dibawa ke sebuah asrama Peta yang dikomandani Soetjipto, seorang cudanco. Kemudian diantarkan ke rumah Camat Rengasdengklok. Setelah kurang lebih satu jam menunggu di sana, akhirnya mereka diantarkan ke sebuah rumah tuan tanah Tionghoa yang telah disiapkan.
Berjam-jam lamanya tidak ada kabar dari Soekarni. Menurut Hatta kegiatan mereka waktu itu tak lain hanya mengasuh dan memangku Guntur berganti-ganti. Dia ingin minum, tapi susu tidak ada. Karena susu kaleng dan barang-barang keperluan bayi yang dibawa dari rumah tertinggal di mobil yang sudah balik ke Jakarta. Tak pelak Guntur sering menangis.
“Waktu kami memangku Guntur berganti-ganti, aku mengalami satu hal yang lucu. Selagi duduk di pangkuanku, Guntur kencing dan celanaku basah di bagian lutut. Sungguh pun dia cepat-cepat kuturunkan, kecelakaan sudah terjadi. Aku tidak dapat bersalin celana karena sepotong pakaian pun tidak ada yang kubawa dari Jakarta. Maka celana yang basah itu terpaksa aku pakai terus sampai kering dengan sendirinya. Hanya saja dengan pakaian itu aku tidak dapat mengerjakan sembahyang,” kata Bung Hatta.
Mundur dari wapres
Dalam buku Meutia Farida Hatta, yang berjudul Bung Hatta, di Mata Tiga Putrinya (Penerbit Buku Kompas, 2015), dilukiskan betapa di masa berlangsungnya pemerintahan RI hubungan keduanya semakin renggang bahkan dirundung berseberangan.
Bung Hatta menyesalkan Bung Karno lantaran menandatangani pemecatan Sosrodanukusumo oleh Kabinet Ali Sastroamidjojo I pada tahun 1955 tanpa berkonsultasi dengan Bung Hatta. Apalagi prosedur pemecatannya tidak wajar. Selain itu yang membuat Bung Hatta kesal, yaitu sikap Bung Karno yang suka melakukan lawatan ke luar negeri tanpa diundang.
Pada sisi lain, Bung Hatta menilai Bung Karno terlalu percaya pada PKI, dan selaku Wakil Presiden telah memperingatkan Bung Karno agar “tidak membesarkan anak ular”. Siapa yang dimaksud dengan istilah “anak ular” tentulah PKI.
Berbagai kekecewaan Bung Hatta terhadap Bung Karno itu mau tak mau menyebabkan suasana kerja yang tidak nyaman sehingga menjadi salah satu alasan Bung Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden RI. Namun penyebab utamanya adalah menyangkut suatu prinsip yang selalu dia pegang teguh.
Hatta berpendapat, setelah DPR yang dipilih rakyat mulai bekerja dan Konstituante pilihan rakyat sudah tersusun, tiba saatnya bagi Hatta untuk mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI. Hatta sejak dulu merasa tidak perlu ada jabatan Wakil Presiden dalam sistem Kabinet Parlementer. Begitulah disebutkan dalam surat Bung Hatta tanggal 20 Juli 1956 kepada DPR.
Bung Hatta masih sempat mengatakan bahwa, “...banyak soal-soal yang kalau konsepsi saya dijalankan tidak akan mengakibatkan keruwetan seperti ini ... dalam banyak hal saya tidak diajak berunding oleh Bung Karno dan dilampaui begitu saja ...”
Mundurnya Hatta sempat membuat Bung Karno kecewa dan sedih. Dalam usahanya meluluhkan hati karibnya agar mengurungkan niatnya, Bung Karno membujuk Rahmi Hatta dengan manis, “Yuke, bilang dong sama Bung Hatta supaya tidak mengundurkan diri.” Namun Rahmi mengatakan, “Om, apa yang sudah menjadi keputusan Kak Hatta, itu sudah dianggapnya sebagai hal terbaik. Karena itu saya ikut saja dengan keputusan Kak Hatta.”
Selanjutnya melalui surat kabar atau forum-forum, Bung Hatta sering mengecam dan menggugat kebijakan-kebijakan Bung Karno dan menganggapnya sebagai seorang diktator. Namun Bung Karno tak pernah membantah kecaman-kecaman Bung Hatta. Dalam tanggapannya, paling Bung Karno hanya mengucapkan terima kasih atau menanyakan kapan mereka bisa bertemu untuk membahasnya. Sebaliknya, ketika Bung Hatta berkunjung ke Amerika Serikat dan mendapati Bung Karno diberondong cemooh dan hinaan, Bung Hatta tegas menukas, “Baik buruknya Bung Karno, beliau adalah Presiden saya!”
Mencaci tapi dekat di hati
Meski terdapat jurang perbedaan yang dalam di antara keduanya, Bung Hatta tidak pernah memusuhi Sukarno maupun keluarganya. Mereka beserta keluarga juga kerap makan bersama. Seperti diceritakan Hatta dalam buku Bung Hatta Menjawab, wawancara Bung Hatta dengan Dr. Z. Yasni (PT. Gunung Agung, 1978), awal tahun 1958 Bung Karno mau pergi istirahat ke Tokyo. Dia bertemu dengan Rahmi Hatta, “Oom mau pergi istirahat ke Tokyo. Kapan Oom mau diundang makan sebelum berangkat?” Rahmi Hatta menjawab, “Nantilah, saya bicarakan dulu dengan Kang Hatta kapan dia sempat.” Kemudian setelah dibicarakan, Bung Hatta menyampaikan, “Baiklah, kalau memang akan ke Tokyo, singgahlah ke rumah.”
Dalam buku Bung Hatta di Mata Tiga Putrinya, Meutia Farida Hatta menceritakan, pertengahan tahun 1963 saraf lengan Bung Hatta terganggu dan segera dilarikan ke rumah sakit Tjipto Mangunkusumo (RSCM). Meski masih sehat, tim dokter neurologi khawatir ada penyumbatan pembuluh darah ke otak dan memeriksa secara lebih saksama. Mendengar hal itu Bung Karno memutuskan untuk besuk di RSCM, tepatnya di Paviliun 5 Cendrawasih, tempat Bung Hatta dirawat. Beberapa tokoh ikut membesuk, di antaranya Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Selang beberapa hari setelah peristiwa di RSCM, Bung Karno meminta Bung Hatta untuk berobat ke luar negeri atas biaya pemerintah RI. Akhirnya Bung Hatta dirawat di Swedia, atas saran dr. Mahar Mardjono. Selama dalam perjalanan itu diizinkan membawa pendamping yang disetujui Negara.
Suatu hari di tahun 1968, Guntur putra sulung Bung Karno kebingungan mencari wali nikah karena sang ayah tak dapat menghadirinya. Tanpa ragu Bung Karno menyebutkan nama Bung Hatta sebagai wali nikah putranya. Guntur kaget dan tak yakin Bung Hatta bersedia. Kemudian Bung Karno menyebutkan, Bung Hatta bisa mencaci-maki dirinya tentang berbagai kebijakan politik, tapi dalam kehidupan pribadi mereka terikat persaudaraan selama perjuangan kemerdekaan. Dan benarlah. Ketika diminta, Bung Hatta langsung menyatakan kesediaannya menjadi saksi pernikahan Guntur dengan Henny. Bahkan ketika Megawati dan Rahmawati menikah, Bung Hatta selalu hadir.
Bertukar air mata di akhir jumpa
Di penghujung hayatnya Sukarno menjadi tahanan politik rezim Orde Baru. Hatta yang mendengar kondisi sahabatnya tersebut, menulis surat pada Soeharto dan mengkritik cara merawat Soekarno.
Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan. Dia bicara pada Rachmi untuk bertemu dengan Bung Karno. “Kakak tidak mungkin ke sana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik.” Hatta menoleh pada istrinya dan berkata, “Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan di antara kita itu lumrah tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno disakiti seperti ini.”
Hatta menulis surat kepada Soeharto untuk bertemu Soekarno. Surat Hatta langsung disetujui, dia diperbolehkan menjenguk Bung Karno di Wisma Yaso, Jakarta. Pertemuan terakhir mereka terjadi di Rumah Sakit Gatot Subroto, Jakarta, 20 Juni 1970 sore. Dengan hati-hati Hatta menghampiri sahabat itu. Bung Karno yang semalam koma mendadak tersadar dengan kehadiran Hatta. Berkata lirih Bung Karno kepada Bung Hatta, “Hatta... kau di sini? Hati Bung Hatta seperti teriris-iris melihat sahabatnya yang tergolek tak berdaya tersebut. “Ya... bagaimana keadaanmu, No..?”
Sambil menyembunyikan kepedihan hatinya, Hatta memegang lembut tangan Bung Karno. Bung Karno melanjutkan sapaan lemahnya dalam bahasa Belanda, “Hou gaat het met jou..?” Hatta benar-benar tak kuasa menahan derasnya arus kesedihan mendengar sahabatnya menyapanya dalam bahasa Belanda yang mengingatkannya pada masa nostalgia perjuangan. Apalagi, usai berkata-kata lemah, Bung Karno terisak. Hatta yang dingin dan tak terbiasa memperlihatkan perasaannya kali ini tak kuat membendung air matanya. Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan erat seolah tak mau lepas. Keduanya bertangis-tangisan. “No...” Hanya kata itu yang sanggup Hatta ucapkan..... Sukarno minta Hatta untuk memasangkan kaca mata agar bisa melihat sahabatnya itu lebih jelas. .... selanjutnya, Bung Karno hanya diam, mata keduanya bertatapan.
Saat itu tidak ada lagi perbedaan politik di antara keduanya. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Demikian dekatnya hubungan kedua insan ini, hingga di saat-saat terakhir pun Bung Karno masih menunggu Bung Hatta menjenguk, baru kemudian esok harinya ‘pergi’.
Tugas sejarah telah dituntaskan oleh keduanya. Dwitunggal Sukarno-Hatta meninggalkan kesan dan teladan yang mendalam bagi bangsa ini. Sebuah persahabatan sejati putra terbaik negeri yang kini makin jarang ditemui.