TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Seorang karyawan kontrak asal Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Heni Ardagarini, menceritakan kondisi terkini di Oman di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah.
Heni mengatakan dirinya telah bekerja selama dua tahun di wilayah Bahla, Oman.
Ia merasakan perubahan situasi yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Biasanya jalan dan ruang publik selalu ramai, apalagi saat Ramadan, banyak aktivitas di luar rumah.
Namun, sejak polemik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat memanas, suasana di sejumlah titik berubah.
“Keramaian yang biasa terlihat kini berkurang dan aktivitas masyarakat tampak lebih lengang dari biasanya,” kata Heni kepada TribunnewsSultra.com melalui telepon, Selasa (3/3/2026).
Menurut Heni, peningkatan pengamanan juga mulai terlihat di Oman.
Baca juga: Konflik Israel-AS Vs Iran Memanas, Jemaah Umrah Sulawesi Tenggara Masih Aman Gunakan Direct Flight
Aparat kepolisian di negara bagian pantai tenggara Jazirah Arab itu berjaga di beberapa lokasi yang dianggap rawan.
“Yang terlihat sekarang, polisi Oman siaga di beberapa titik, terutama wilayah yang berpotensi red zone seperti di Alusta,” katanya.
Ia menyampaikan, kawasan Alusta memiliki pelabuhan komersial yang dikenal sebagai Port of Camden, sehingga pengamanan diperketat.
Situasi juga semakin tegang setelah beredar laporan serangan drone pada 1 Maret 2026.
Berdasarkan informasi yang ia pantau dari sejumlah media, dua drone dilaporkan menyerang area tempat tinggal pekerja lepas serta sebuah kapal tanker minyak.
Akibat insiden itu, beberapa kru dilaporkan mengalami luka-luka.
Peristiwa tersebut turut memicu kewaspadaan lebih tinggi di wilayah Oman, termasuk transportasi udara ikut terdampak.
Baca juga: Ketegangan Geopolitik AS-Israel-Iran, Harga Emas Naik, Investor Disarankan Beli Sebulan Sekali
“Hingga 3 Maret 2026, telah diumumkan secara resmi terkait pembatalan penerbangan akibat penutupan udara wilayah regional hingga saat ini,” tuturnya.
Heni mengaku kondisi ini membuatnya ingin segera pulang ke Indonesia.
Namun, situasi yang belum memungkinkan memaksanya tetap bertahan di Oman untuk sementara waktu.
“Tentu saya ingin segera pulang karena menghadapi situasi seperti ini di luar dugaan dan tidak mudah. Tapi karena belum memungkinkan, saya memilih tetap di sini sampai kondisi kembali kondusif,” ujarnya.
Kata dia, sejak 28 Februari, pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Oman telah mengeluarkan imbauan resmi kepada diaspora Indonesia agar tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) juga turut membuka layanan darurat bagi warga negara Indonesia di Oman.
Dalam kondisi mendesak, WNI dapat menghubungi hotline KBRI Muscat di nomor +968 9600 0210. (*)
(TribunnewsSultra.com/Dewi Lestari)