Pasar Desa Adat Serangan Dapat 10 Unit Teba Modern untuk Kelola Sampah Organik
Ida Ayu Suryantini Putri March 03, 2026 06:39 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR —  Sebanyak 10 unit Teba Modern diserahkan ke Pasar Desa Adat Serangan sebagai langkah konkret memperkuat pengelolaan sampah berbasis sumber di tingkat komunitas.

Dukungan ini diberikan oleh BTID yang bertujuan mendorong tata kelola sampah yang lebih tertib, ramah lingkungan, serta selaras dengan kearifan lokal.

Inisiatif ini melanjutkan komitmen BTID selaku Badan Usaha Pengelola dan Pembangunan (BUPP) Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali dalam mendukung sistem pengelolaan sampah yang mandiri di Pulau Serangan.

Baca juga: DPRD Denpasar Dorong PDU Padangsambian Tingkatkan Kapasitas Olah Sampah 35 Ton per Hari

Pada 2025, melalui gerakan ‘Serangan Bersinar (Bersih, Indah dan Asri)’, BTID telah menyerahkan 19 unit Teba Modern kepada Desa Serangan. 

Teba Modern merupakan inovasi dari konsep teba lubang sampah tradisional yang dikembangkan menjadi sarana pengomposan organik secara alami.

Metode ini tidak hanya mengurangi volume sampah organik yang terbuang, tetapi juga menghasilkan pupuk kompos yang dapat dimanfaatkan kembali untuk menyuburkan tanaman.

Baca juga: Sempat Menginap, Truk Swakelola Kembali Buang Tumpukan Sampah di TPA Suwung Bali

I Wayan Suwarjaya selaku Kepala Pasar Desa Adat Serangan mengungkapkan apresiasinya kepada manajemen KEK Kura Kura Bali. Ia menyebut kehadiran Teba Modern di pasar Desa Adat Serangan membantu mendorong pedagang untuk memilah jenis sampah yang dihasilkan.

“Saya ucapkan terima kasih kepada BTID sudah membantu dan mendukung pasar Desa Adat Serangan dengan memberikan lubang biopori atau Teba Modern ini,” jelas, Suwarjaya pada, Selasa 3 Maret 2026. 

Menurut beliau, dengan adanya teba ini, mereka bisa melakukan pemilahan sampah, yang organik dibuang ke teba dan yang non-organik bisa dijual ke bank sampah yang ada di Serangan. Hal senada juga disampaikan oleh I Made Warse, selaku Badan Pengawas Pasar Desa Adat Serangan.

Baca juga: Revitaliasi TPA Linggasana 19 Persen, Jadi Pusat Pengelolaan Sampah di Karangasem Bali

“Dengan adanya bantuan Teba Modern ini, pedagang pasar di sini sedikit demi sedikit semakin disiplin dalam mengolah sampah mereka,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi BTID Zefri Alfaruqy menyatakan bahwa pengelolaan lingkungan dan kebersihan pasar sudah seharusnya untuk diperhatikan.

Zefri menegaskan pasar tradisional bukan sekadar tempat bertemunya penjual dan pembeli, melainkan juga menjadi pusat edukasi lingkungan bagi warga.

“Kami percaya bahwa solusi lingkungan yang berkelanjutan selalu berakar dari inisiatif masyarakat itu sendiri. Peran kami di BTID adalah mendukung inisiatif penggunaan Teba Modern di pasar ini bisa terus bertumbuh hingga menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Bali,” kata, Zefri. 

Baca juga: Tekankan Efisiensi Anggaran di Musrenbangcam, Bupati Satria Minta Prioritaskan Sampah

Selain pengelolaan sampah organik melalui teba modern, pedagang juga dapat menyalurkan sampah plastik dan kertas ke bank sampah setempat yang kemudian dikonversi menjadi saldo rupiah.

Skema ini memperkuat rantai pengelolaan sampah sekaligus memberikan nilai ekonomi tambahan. Salah satu pedagang pasar Desa Adat Serangan, Darmi mengatakan inisiatif pengelolaan sampah ini memiliki manfaat yang baik bagi kebersihan pasar.

“Bagus itu, kehadirannya (Teba Modern) mengurangi sampah agar tidak berserakan. Kita bisa memiilah-milah sampah, jadinya ada manfaatnya,” beber, Darmi. 

Darmi berharap agar kolaborasi antara Pasar Desa Serangan dengan BTID bisa berlangsung untuk jangka panjang. 

“Semoga ini berjalan lancar untuk jangka panjang. Semoga banyak manfaatnya untuk masyarakat, untuk kita semua,” pungkasnya. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.