Menahan Rindu Keluarga di Bulan Suci, Mahasiswa Gayo Pilih Bertahan di Banda Aceh Pascabencana
Agus Ramadhan March 03, 2026 07:03 PM

Menahan Rindu Keluarga di Bulan Suci, Mahasiswa Gayo Pilih Bertahan di Banda Aceh Pascabencana

Laporan dari Banda Aceh, Suryani

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Bulan suci Ramadhan umumnya menjadi waktu yang dinanti untuk berkumpul bersama keluarga. 

Namun, kondisi tersebut tidak dapat dirasakan oleh sebagian mahasiswa asal Kabupaten Aceh Tengah yang saat ini menempuh pendidikan di Banda Aceh. 

Ramadhan tahun ini mereka jalani jauh dari kampung halaman, melihat kondisi daerah asal yang masih dalam tahap pemulihan pascabencana.

Pilihan untuk tetap bertahan di Banda Aceh bukanlah keputusan yang ringan. 

Kerinduan akan suasana Ramadhan di Dataran Tinggi Gayo harus dihadapi dengan sikap realistis. 

Situasi keluarga yang masih terdampak bencana, ditambah dengan padatnya aktivitas akademik, membuat para mahasiswa menunda rencana pulang kampung.

Salah seorang mahasiswa asal Aceh Tengah, Nabil, mengungkapkan bahwa kebiasaan pulang ke kampung halaman saat awal Ramadhan terpaksa tidak ia lakukan tahun ini.

“Biasanya setiap awal Ramadhan saya pulang ke Aceh Tengah. Namun tahun ini belum memungkinkan karena kondisi keluarga masih terdampak bencana,”

“Akses jalan juga belum sepenuhnya baik, sementara saya pulang menggunakan sepeda motor. Di sisi lain, saya juga harus fokus menjalani perkuliahan di Banda Aceh,” ujar Nabil, Minggu (1/3/2026).

Menjalani ibadah puasa jauh dari keluarga, terlebih dalam situasi penuh kekhawatiran, menjadi ujian tersendiri bagi para mahasiswa rantau. 

Meski demikian, mereka tidak sepenuhnya merasa sendiri.

Kepedulian masyarakat Kota Banda Aceh menjadi sumber kekuatan bagi para mahasiswa tersebut.

Sejumlah kampus dan pengurus masjid diketahui secara rutin menyediakan takjil gratis serta hidangan berbuka puasa. 

Kepedulian ini menghadirkan kehangatan dan rasa kekeluargaan baru di tengah keterbatasan.

Lebih dari sekadar menjalankan ibadah puasa, Ramadhan tahun ini menjadi proses pembelajaran mental bagi mahasiswa asal Aceh Tengah.

Mereka belajar tentang ketabahan, empati, serta pentingnya saling menguatkan dalam menghadapi masa sulit.

Di sela kesibukan perkuliahan, doa terus dipanjatkan agar kondisi Aceh segera pulih dan keluarga dapat kembali menjalani aktivitas secara normal. (*)

*) Penulis merupakan mahasiswa internship dari Prodi Sosiologi, FISIP, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.