TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Komoditas ekspor Sulawesi Selatan (Sulsel) ke Amerika Serikat (AS) cukup tinggi.
Bahkan masuk dalam tiga besar negara tujuan ekspor.
Gejolak geopolitik memang sedang dialami AS.
Konflik Timur Tengah melibatkan AS. Eskalasi memanas terlebih usai meninggalnya Pimpinan Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Situasi ini pun cukup mengkhawatirkan dunia industri.
Utamanya iklim investasi maupun aktivitas ekspor dan impor.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Sulsel Asrul Sani menjelaskan konflik Timur Tengah tidak berdampak langsung terhadap ekspor dari Sulsel ke AS.
"Kalau Amerika kan sebenarnya banyak produknya kita ekspor ke sana. Tapi kalau menurut saya, kalau perang di Timur Tengah tidak berdampak langsung," kata Asrul Sani saat ditemui di Lobby Utama, Kantor Gubernur Sulsel, Jl Urip Sumoharjo, Kota Makassar pada Selasa (3/3/2026).
Baca juga: Ekspor Sulsel Turun 39,33 Persen, Nikel dan Kakao Tetap Komoditas Unggulan
"Ini kan yang paling pertama ekspornya, paling besar itu ke Jepang, ke Cina, ke Amerika. Tapikan tidak berpengaruh langsung," katanya melanjutkan. .
Secara umum, ekspor ke AS didominasi hasil sumber daya perikanan.
Asrul menjelaskan situasi konflik terfokus di wilayah Timur Tengah.
Sehingga tidak berpengaruh signifikan terhadap aktivitas ekspor.
"Kita ekspor daging di sana 37 persen, kita ekspor ikan, udang, buah-buahan, kopi, karet, olahan dari tepung. Kalau ada dampaknya, pasti ada dampaknya, tapi tidak signifikan buat kita," ujar Asrul Sani mengenakan kemeja putih.
Pada tahun 2025 lalu, volume ekspor dari Sulsel ke Amerika Serikat mencapai 4.347 ton dengan nilai 41.555.942 US Dollar. Komoditas yang dikirimkan antara lain agar-agar, biji kopi, carrageenan, cumi-cumi, daging kepiting, gurita, ikan olahan, ikan segar, konjac powder, mete kupas, udang olahan, dan udang segar.
Ikan olahan mendominasi dengan hampir 1.000 ton.
Di sisi lain, Pemerintah Iran resmi menutup Selat Hormuz.
Langkah Iran memicu kekhawatiran global mengingat Selat Hormuz selama ini salah satu titik paling strategis dalam pasokan minyak dan gas alam.
"Selat hormuz itukan di kontrol sama iran. Selat hormuz itu adalah jalur vital energi dunia. Kecil dia (selatnya) yang dikontrol tapi dampaknya sangat besar," kata Pakar Energi Universitas Hasanuddin Prof Bachtiar Nappu saat dihubungi Tribun-Timur.com, pada Senin (2/3/2026).
Hormuz merupakan selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan Samudra Hindia.
Pada titik tersempit, lebarnya hanya sekitar 33 kilometer.
Namun jalur pelayaran efektifnya jauh lebih kecil karena dibagi untuk arus masuk dan keluar kapal tanker.
Prof Bachtiar Nappu menjelaskan harga minyak mentah maupun Liquefied Natural Gas (LNG) atau gas alam cair sangat tergantung pada pasokan via selat Hormuz.
"20 persen sampai 26 persen minyak mentah, dan LNG (Gas alam cair) itu lewat selat hormuz sehingga mengontrol fluktuasi market share crude oil maupun LNG. Disitu lewat dari Arab, Kuwait, Oman, Iran sendiri. Jalurnya itu semua," kata Guru Besar Unhas ini.
Setiap ketegangan atau gangguan di Selat Hormuz selalu memicu sentimen negatif di pasar.
Dampaknya Harga minyak dunia meroket, lebih jauh berdampak terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM)
Tekanan pun dihadapi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.
Prof Bachtiar memprediksi kenaikan Harga minyak mentah bisa mencapai 40-50 persen.
"Ekspektasi saya akan tembus 90 sampai 100 USD per barel, sekarang kan 70 USD per barel. Itu akan picu kenaikan BBM," sambungnya.
Ketegangan di Timur Tengah dengan penutupan Selat Hormuz, diyakini Prof Bachtiar akan berdampak ke Indonesia.
Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, Faqih Imtiyaaz