Menyusuri Langgar Kidoel Kauman Yogyakarta, Saksi Bisu Revolusi Arah Kiblat Gagasan KH Ahmad Dahlan
Joko Widiyarso March 03, 2026 08:14 PM

 

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Seakan tak lekang oleh waktu, Kampung Kauman, yang berlokasi di Kemantren Gondomanan, Kota Yogyakarta, menyimpan sejarah peradaban nan panjang.

Di tengah labirin gang sempit dan padatnya permukiman yang kental dengan nuansa religius, berdiri bangunan bersahaja yang menjadi saksi bisu sebuah revolusi pemikiran besar.

​Masyarakat mengenalnya sebagai Langgar Kidoel KH Ahmad Dahlan, yang terselip di sebuah gang yang jadi penghubung antara Kampung Kauman dengan Jalan Nyai Ahmad Dahlan. 

Bukan sekadar tempat sujud, bangunan dua lantai ini menjadi saksi bisu pembaruan arah kiblat yang kala itu sempat memicu kontroversi panas di kalangan ulama, hingga penguasa.

Ahmad Paramasatya, salah satu canggah Ahmad Dahlan, mengisahkan, Langgar Kidoel dibangun oleh KH Abu Bakar (ayah dari KH Ahmad Dahlan), yang pada masanya menjabat sebagai Abdi Dalem Pamethakan yang menangani urusan keagamaan Keraton Ngayogyakarta.

Namun, ia tidak menampik, sejarah besarnya justru terjadi saat langgar di sisi selatan Kampung Kauman ini diwariskan KH Abu Bakar kepada putra bungsunya, yakni Ahmad Dahlan.

Keresahan arah kiblat

Dituturkan Ahmad, keresahan sang kakek buyut terhadap arah kiblat bermula dari pengamatannya selama berdagang dan menunaikan salat di masjid-masjid di luar Kauman. 

Pendiri persyarikatan Muhammadiyah itu dengan seksama memperhatikan, banyak orang Jawa ketika itu sebatas salat menghadap lurus ke arah barat, tanpa presisi yang akurat.

​"Sehingga, beliau bertanya-tanya, apakah benar dari Yogyakarta kalau ditarik garis lurus ke barat pasti sampai ke Makkah," ungkapnya.

Alhasil, sepulang haji dan belajar agama Islam di Makkah pada kisadan tahun 1888, Ahmad Dahlan mulai melakukan sebuah tajdid atau pembaruan meluruskan arah kiblat.

Berbekal kompas, jangka, dan peta dunia, Ahmad Dahlan menggulirkan riset mandiri yang hasilnya sangat mengejutkan pada zamannya, yakni arah kiblat dari Yogyakarta seharusnya miring agak ke utara, bukan lurus ke barat. 

​Namun, kebenaran ilmiah tersebut tidak langsung diterima dengan tangan terbuka, bahkan dianggap 'kebablasan' oleh Kyai Pengulu Keraton Ngayogyakarta saat itu.

Robohnya Langgar Kidoel 

Peringatan demi peringatan diabaikan oleh Ahmad Dahlan, hingga akhirnya peristiwa memilukan berupa perobohan Langgar Kidoel terjadi di tengah bulan suci Ramadan.

​"Karena kontroversi koreksi arah kiblat. Tapi, peristiwa itu justru jadi pemantik. Setelah langgar ini hancur, masjid-masjid lain, termasuk Masjid Gedhe Kauman, mulai menghitung ulang arah kiblat mereka," ucapnya.

​Pasca-penghancuran, keluarga besar Ahmad Dahlan bahu membahu membangun kembali langgar tersebut, dengan lantai kayu di bagian atas dan beberapa ruangan di lantai bawah.

Salah satu artefak paling berharga yang masih terjaga hingga kini adalah sebuah goresan di lantai tempat peribadatan, tepat di dekat pengimaman, yang menjadi penanda arah kiblat Langgar Kidoel.

"Dalam sejarah lisan keluarga kami diceritakan, goresan dibuat langsung oleh Kyai Dahlan sebagai patokan kiblat di langgar ini. Ada garis lintang utara-selatan dsn garis koreksi miring dari timur ke barat," cetusnya.

Kini, Langgar Kidoel menjadi ruang edukasi bagi warga masyarakat dari berbagai daerah, yang ingin belajar ataiu memahami sejarah Muhammadiyah beserta pemikiran-pemikiran Ahmad Dahlan.

Satu hal yang terus diingat, langkah berani Ahmad Dahlan dari langgar kecil ini terbukti telah mengubah cara pandang umat Islam di seantero Nusantara dalam menghadap Sang Khalik. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.