Di Tengah Kesibukan Politik, Wasik Rahman Tetap Setia Rawat Pendidikan Alquran
Rendy Nicko Ramandha March 03, 2026 08:40 PM

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, PASURUAN - Kesibukan sebagai anggota DPRD tidak membuat Wasik Rahman Hamzah meninggalkan akar yang membesarkannya.

Di sela rapat komisi dan paripurna, politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) asal Pandaan itu tetap setia “ngopeni” pendidikan Al-Qur’an.

Bagi Wasik, dunia pendidikan keagamaan bukan sekadar aktivitas sosial tapi bagian dari perjalanan hidupnya.

“Sejak kecil saya dididik mengaji oleh orang tua. Dari situlah saya tumbuh, sampai akhirnya bisa mondok di Pesantren PIQ Singosari,” katanya, Selasa (3/3/2026).

Wasik lahir dan besar di lingkungan keluarga santri. Ia bercerita, sang kakek pernah berwasiat agar kelak lahan yang dimiliki keluarga dapat dimanfaatkan untuk lembaga pendidikan Al-Qur’an gratis bagi masyarakat sekitar.

Baca juga: Menteri KKP Tinjau KNMP Banyuwangi, Kampung Nelayan Modern Bergaya Osing

Wasiat itu, menurutnya, bukan hanya pesan keluarga, tetapi amanah moral yang harus dijaga.

“Dulu sistem belajarnya masih sangat sederhana. Mengaji di musala, dipimpin ustaz yang dihormati warga. Semua dilakukan dengan ikhlas untuk syiar agama,” kenangnya.

Kini, meski metode pembelajaran sudah lebih modern dan klasikal, semangat pengabdian itu tetap ia pegang.

Ia mengakui, mengelola pendidikan keagamaan bukan perkara materi karena dari sisi finansial kerap tidak menjanjikan. Namun baginya, nilai keberkahan jauh lebih penting.

“Kalau bicara materi, tentu tidak sebanding. Tapi saya merasa punya tanggung jawab moral. Saya bisa sampai di titik ini juga karena didikan ngaji dari orang tua,” ujarnya.

Di tengah dinamika politik dan padatnya aktivitas sebagai wakil rakyat, Wasik mengaku terus berupaya menyisihkan waktu dan perhatian untuk keberlangsungan pendidikan Al-Qur’an.

Ia ingin generasi Qur’ani tetap tumbuh di tengah perubahan zaman. “Motivasi saya sederhana. Apa yang dulu saya terima, harus tetap hidup dan bisa dirasakan anak-anak sekarang,” imbuhnya.

Bagi Wasik, politik dan pengabdian keagamaan bukan dua hal yang bertentangan.

Keduanya justru saling menguatkan. Di gedung dewan ia memperjuangkan aspirasi masyarakat, sementara di lingkungan pendidikan Al-Qur’an ia menjaga nilai dan akar yang membentuknya.

Istiqamah, kata Wasik, bukan soal besar kecilnya peran. Tapi tentang konsistensi merawat amanah, sekecil apa pun itu, agar tetap memberi manfaat bagi sesama.

(Galih Lintartika/TribunJatimTmur.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.