Terungkap! CCTV Iran Diretas untuk Lacak Rute Harian Ali Khamenei Sebelum 30 Rudal Ditembakkan
Wawan Akuba March 03, 2026 08:43 PM

TRIBUNGORONTALO.COM -- Laporan investigasi terbaru mengungkap bagaimana jaringan kamera lalu lintas di Teheran diduga disusupi untuk memantau pergerakan harian pejabat tinggi Iran menjelang operasi militer yang berujung pada tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Menurut laporan Financial Times, infiltrasi terhadap sistem pengawasan lalu lintas itu dimanfaatkan untuk melacak pola mobilitas para pejabat penting Iran, termasuk rute perjalanan dan jadwal rutin Khamenei.

Aparat intelijen dari pihak yang berseberangan disebut memetakan secara rinci kebiasaan harian tersebut guna menentukan momen paling tepat untuk melancarkan serangan.

Surat kabar tersebut menyebut pengumpulan data tidak hanya mengandalkan pemantauan fisik, tetapi juga teknologi canggih.

Baca juga: Fantastis! Amerika Rugi Rp 12 Triliun Hanya dalam 24 Jam Serang Iran, Ini Rincian Biayanya

Operasi itu dilaporkan menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan algoritma tingkat lanjut untuk menganalisis data dalam jumlah besar yang dihimpun terkait kepemimpinan Iran dan pergerakan mereka selama bertahun-tahun.

Selain itu, Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat atau Central Intelligence Agency (CIA) disebut turut menyediakan sumber intelijen manusia yang mengonfirmasi lokasi persis Khamenei pada hari pembunuhan terjadi.

Konfirmasi tersebut menjadi elemen penting untuk memastikan target berada di lokasi yang telah dipantau sebelumnya.

Laporan tersebut juga merinci bahwa serangan dilakukan terhadap kompleks yang dijaga ketat menggunakan rudal jenis Sparrow.

Pesawat tempur dikerahkan pada siang hari untuk menciptakan kejutan taktis, meskipun tingkat kewaspadaan keamanan di seluruh Iran sedang berada dalam kondisi tinggi.

Sebanyak 30 rudal diluncurkan ke arah kompleks tersebut. Sebelum serangan dimulai, menara seluler di sekitar lokasi dilaporkan dinonaktifkan untuk mencegah aparat keamanan menerima panggilan peringatan atau melakukan koordinasi cepat.

Operasi ini memadukan berbagai teknik intelijen, mulai dari penyadapan sinyal (signals intelligence), infiltrasi jaringan seluler, hingga konfirmasi langsung dari sumber Amerika Serikat bahwa pertemuan yang menjadi target memang sedang berlangsung saat serangan dilancarkan.

Menurut laporan itu, perencanaan operasi telah dimulai sejak 2001. Saat itu, Perdana Menteri yang menjabat, Ariel Sharon, disebut menginstruksikan badan intelijen Mossad untuk menjadikan Iran sebagai prioritas utama dalam strategi jangka panjang.

Operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Iran dilaporkan resmi dimulai pada 28 Februari.

Serangkaian serangan tersebut menewaskan sejumlah pejabat Iran dan memicu serangan balasan yang menyasar negara-negara di kawasan Teluk.

Sejak operasi berlangsung, enam personel militer Amerika Serikat dilaporkan tewas. Ketegangan regional pun meningkat tajam dan memunculkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.