Tak ada Pembeli, Penambang di Bolmong dan Boltim jual Emas hingga ke Manado 
Rizali Posumah March 03, 2026 11:36 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID, KOTAMOBAGU -- Tegar salah seorang penambang asal Modayag harus pulang dengan tanah kosong. 

Niatan untuk menjual emas ke pasar Kotamobagu berakhir tanpa hasil.

Pasalnya, para pembeli emas hasil tambang yang ada di pasar Kotamobagu gulung tikar. 

Mereka tak lagi melayani pembelian emas karena takut terkena operasi.

"Saya datang untuk jual emas, tapi tak ada yang beli," ujarnya ketika ditemui Selasa 3 Maret 2026 di Kotamobagu.

Ia mengaku terpaksa mencari penjual hingga ke Manado.

"Dulu kami yang dicari pembeli, sekarang kami kesulitan," ungkapnya.

Hal senada dikatakan Sandy warga Dumoga. 

Menurutnya, sebagian besar warga bergantung dari pertambangan. 

"Tapi ketika pembeli tak ada, kami yang susah," ungkap dia. 

"Belum lagi menghadapi Idul Fitri yang sudah didepan mata," ucapnya. 

Ayah satu orang anak ini mengatakan operasi yang terjadi dalam dua pekan terakhir ini sangat menggangu kerja-kerja penambang. 

"Susah sekali. Bahkan ada yang menahan emas mereka hingga dua kilogram," ungkap dia. 

Dirinya berharap ada solusi bagi para penambang. 

"Pokoknya semoga ada solusi terbaik bagi kami," tandas dia. 

Pasar Emas Kotamobagu Lesu

Aktivitas perniagaan di pusat pertokoan emas Kotamobagu terpantau tetap berjalan normal meski baru saja ada penggeledahan oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Utara. 

Hingga Selasa (3/3/2026), mayoritas pedagang masih membuka pintu toko bagi pelanggan.

Berdasarkan pantauan di lokasi, sekitar sembilan toko emas di Pasar Kotamobagu tetap melayani transaksi jual beli.

Namun, pemandangan berbeda terlihat pada salah satu gerai yang kini tampak dipasangi garis pembatas milik Kejaksaan.

Bagi sebagian warga, tetap bukanya toko-toko ini merupakan angin segar, terutama mengingat momentum hari raya yang sudah di depan mata.

Deden, salah seorang warga setempat, menyatakan rasa syukurnya karena denyut ekonomi di sektor ini tidak sepenuhnya mati.

"Sebagian besar warga di Kotamobagu dan Bolmong adalah penambang. Mereka bergantung hidup disana, kalau emas tidak ada yang beli maka ekonomi mereka akan sulit," tegasnya.

Namun, di balik operasional toko-toko tersebut, tersimpan keresahan bagi para penambang lokal.

Yoga, seorang penambang, mengungkapkan bahwa meski toko tetap buka, mereka menerapkan kebijakan selektif yang menyulitkan para pekerja tambang.

Saat ini, toko-toko tersebut hanya bersedia melayani jual beli emas dalam bentuk perhiasan.

"Kami yang berjualan emas hasil tambang tidak dibeli," ungkap Yoga dengan nada kecewa.

"Yang dibeli hanya perhiasan saat ini, makanya kami sangat kesulitan," tuturnya lagi.

Kondisi ini menciptakan hambatan ekonomi bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari hasil bumi.

Para penambang kini merasa kehilangan pasar dan sangat membutuhkan kehadiran pemerintah untuk memberikan jalan keluar atas kebuntuan transaksi hasil tambang ini.

"Banyak pembeli sudah kabur, emas kami tak laku," keluh Yoga.

"Jadi kami berharap ada solusi dari pemerintah," tegasnya mengakhiri pembicaraan.

WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK 


 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.