Doa Nuzulul Qur’an dan 4 Amalan Utama untuk Menjemput Malam Lailatul Qadar
Sarah Elnyora Rumaropen March 04, 2026 06:00 AM

SURYAMALANG.COM, - Mencari malam yang lebih baik dari seribu bulan bukan hanya soal fisik yang terjaga, tapi juga soal hati yang bermunajat melalui doa.

Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar adalah dua momentum agung yang menandai turunnya cahaya petunjuk bagi umat manusia.

Untuk meraih keberkahannya, umat Islam tidak hanya dianjurkan untuk memperbanyak amalan fisik seperti iktikaf dan salat malam, tetapi juga melafalkan doa yang memohon agar Al-Qur'an menjadi pemimpin serta pembela di hari akhir. 

Makna dan Sejarah Dua Tahap Turunnya Al-Qur’an

Nuzulul Qur’an secara harfiah berarti malam diturunkannya Al-Qur’an. Dalam catatan sejarah Islam, proses turunnya mukjizat agung ini terjadi dalam dua tahapan besar:

Tahap pertama, Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan (sekaligus) dari Lauhul Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia. Peristiwa mulia ini terjadi pada malam yang dikenal sebagai Lailatul Qadar.

Tahap kedua, Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril.

Baca juga: 5 Keutamaan Dahsyat Puasa Hari ke-14 Ramadhan 1447 H: Setara Ibadah 200 Tahun Bersama Nabi

Proses penyampaian lafaz dan makna secara bertahap inilah yang lazim kita peringati sebagai peristiwa Nuzulul Qur’an.

Keagungan peristiwa ini telah diabadikan oleh Allah SWT dalam QS. Al-Qadr ayat 1-5:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar.”

Berikut adalah panduan doa Nuzulul Qur’an beserta empat amalan utama yang bisa Anda lakukan untuk menjemput malam kemuliaan tersebut.

1. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an

Amalan pertama adalah memperbanyak membaca Al-Qur’an, terutama di bulan Ramadhan.

Dalam hadis disebutkan setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur’an mengandung kebaikan, dan setiap satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat.

"Misalnya, di dalam bulan suci Ramadan ketika kita membaca huruf alif, huruf lam, dan huruf mim, tidak lantas alif lam mim ini digabungkan menjadi satu, tetapi Allah melipat gandakan pahalanya dari masing-masing huruf" ujar Salman Faris, dikutip dari Program Tanya Ustadz di YouTube Tribunnews, Selasa (3/3/2026).

"Huruf alif mengandung satu kebaikan. Dari satu kebaikan itulah diberikan 10 kali lipat pahala oleh Allah Subhanahu wa taala," imbuhnya. 

"Begitu pula huruf lam dan juga huruf mim. Oleh karenanya, mari kita sama-sama memperbanyak membaca Al-Qur'an di bulan suci Ramadan ini," jelasnya.

2. Beriktikaf di Masjid

Amalan kedua adalah beriktikaf.

Secara bahasa, iktikaf berasal dari kata Arab yaitu 'akafa - ya'kifu - ukufan yang berarti menahan atau menetap. 

Secara istilah, iktikaf berarti berdiam diri di dalam masjid dengan niat karena Allah SWT.

Niat iktikaf dapat diucapkan dalam hati :

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ مَا دُمْتُ فِيْهِ

Lafal Latin: 

Nawaitu an a’takifa fî hâdzal masjidi mâ dumtu fîh.

Artinya: “Saya berniat iktikaf di masjid ini selama saya berada di dalamnya.”

Niat lain yang dapat digunakan adalah niat iktikaf yang dikutip dari Kitab Al-Majmu` karya Imam An-Nawawi: 

Niat Iktikaf (Versi Kitab Al-Majmu`):

نَوَيْتُ الِاعْتِكَافَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Lafal Latin: 

Nawaitul i’tikâfa fî hâdzal masjidil lillâhi ta’âlâ.

Artinya: “Saya berniat i`tikaf di masjid ini karena Allah SWT.”

Iktikaf menjadi sarana untuk mengesampingkan urusan dunia sementara waktu dan fokus beribadah kepada Allah. 

Selama iktikaf, seseorang dapat mengisi waktunya dengan membaca Al-Qur’an, berzikir, melaksanakan salat sunah, serta memperbanyak doa.

"Iktikaf dianjurkan dilaksanakan di dalam masjid. Kenapa? Dengan di dalam masjid kita diharapkan dapat khusyuk dalam menjalankan ibadah," jelas Salman Faris.

Iktikaf memiliki beberapa hukum tergantung pada niat dan kondisi orang yang melaksanakannya.

Pada dasarnya, hukum iktikaf adalah sunah, artinya jika dikerjakan akan mendapat pahala, dan jika ditinggalkan tidak berdosa.

Namun, iktikaf bisa menjadi wajib apabila seseorang telah bernazar untuk melakukannya. Jika nazar tersebut tidak dipenuhi, maka ia berdosa.

Iktikaf juga bisa menjadi haram apabila dilakukan dengan niat yang tidak baik, misalnya untuk tujuan yang merusak atau tidak sesuai syariat.

Selain itu, iktikaf dapat menjadi makruh jika dilakukan dengan cara yang tidak menjaga adab, seperti berdandan atau melakukan hal-hal yang dapat menarik perhatian orang lain sehingga mengganggu kekhusyukan ibadah.

3. Melaksanakan Salat Malam

Amalan ketiga adalah melaksanakan salat malam atau qiyamul lail.

Pada malam hari, malaikat berkeliling mencari hamba-hamba Allah yang bangun untuk beribadah.

Ketika ada seorang hamba yang bersungguh-sungguh dalam salat malamnya, malaikat menyaksikan dan mendoakan agar permohonannya dikabulkan oleh Allah SWT.

Baca juga: Bacaan Dzikir dan Doa Setelah Sholat Tahajud dan Witir Ramadahn 2026 Tulisan Latin, Arab dan Artinya

"Apa yang dilakukan malaikat saat seorang hamba bangun untuk salat malam? Malaikat mendekat dan menyaksikan hamba tersebut beribadah dengan khusyuk" ujar Salman Faris. 

"Mereka menunggu hingga salatnya selesai, lalu mendengarkan doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah. Doa itu dicatat, kemudian malaikat memohon kepada Allah agar permintaan hamba tersebut dikabulkan," ungkapnya.

"Inilah salah satu keutamaan salat malam, saat banyak orang terlelap, ada doa yang dipanjatkan dalam keheningan dan didoakan pula oleh para malaikat," lanjut Salman.

4. Membaca Doa Nuzulul Qur’an

Amalan terakhir adalah memperbanyak doa, khususnya doa yang berkaitan dengan Al-Qur’an.

Salah satu doa yang dapat dibaca adalah:

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا بِالْقُرْآنِ، وَاجْعَلْهُ لَنَا إِمَامًا وَنُورًا وَهُدًى وَرَحْمَةً. اَللّٰهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نُسِيْنَا، وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا، وَارْزُقْنَا تِلَاوَتَهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ، وَاجْعَلْهُ لَنَا حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Lafal Latin:

Allahummarhamnâ bil Qur’ân, waj‘alhu lanâ imâman wa nûran wa hudan wa rahmah. Allahumma dzakkirnâ minhu mâ nusînâ, wa ‘allimnâ minhu mâ jahilnâ, warzuqnâ tilâwatahu ânâ’al-laili wa athrâfan-nahâr, waj‘alhu lanâ hujjatan yâ Rabbal ‘âlamîn.

Artinya:

"Ya Allah, rahmatilah aku dengan Al-Qur'an. Jadikanlah ia sebagai pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rahmat bagiku. Ya Allah, ingatkanlah aku atas apa yang terlupakan darinya. Ajarilah aku atas apa yang belum tahu darinya. Berikanlah aku kemampuan membacanya sepanjang malam dan ujung siang. Jadikanlah ia sebagai pembelaku, wahai tuhan semesta alam."

Doa ini berisi permohonan agar Al-Qur’an menjadi cahaya, petunjuk, rahmat, serta pengingat dalam kehidupan kita.

(Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.