Imbas Konflik Timur Tengah, Waspada Harga BBM Meroket, Pertamina Jamin Pasokan Tetap Aman
Putu Dewi Adi Damayanthi March 04, 2026 06:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Harga minyak dunia melambung imbas konflik di Timur Tengah yang berujung pada penutupan Selat Hormuz.

Sebagaimana dilansir Reuters, harga minyak Brent naik 6,4 persen menjadi 77,57 dollar AS per barel, meski sempat menyentuh 82,00 dollar.

Sementara harga minyak AS naik 6,2 persen menjadi US$ 71,17 per barel.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia bisa ikut terdampak.

Baca juga: Pertamina Tindak Tegas Agen BBM Industri Pelaku Penimbunan Solar Subsidi di Denpasar Bali

Apalagi, serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran masih berlangsung tanpa tanda-tanda mereda.

Iran pun membalas dengan serangan di berbagai wilayah yang menjadi lokasi aset-aset AS.

Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, termasuk potensi tantangan akibat penutupan Selat Hormuz.

“Untuk saat ini, kami memperhatikan keselamatan dan keamanan pekerja maupun aset yang ada di sekitar wilayah tersebut,” kata Roberth seperti dilansir Kompas.com, Senin 2 Maret 2026.

Saat disinggung soal kenaikan harga BBM imbas konflik yang terjadi, Roberth hanya menyampaikan bahwa pihaknya akan memastikan pasokan BBM di Indonesia tetap aman.

“Pertamina terus memantau perkembangan situasi di wilayah timur tengah secara intensif untuk memastikan operasional Pertamina dalam menjaga pasokan energi tetap aman,” tuturnya.

Di samping itu, sebagai perusahaan distribusi BBM di Indonesia, Pertamina juga menjamin keamanan pekerja yang berada di sekitar wilayah konflik.

Roberth menuturkan, keselamatan mereka kini menjadi prioritas perusahaan.

“Kami akan terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait,” ucapnya.

Roberth menambahkan, Pertamina dari hulu sampai hilir tetap berkomitmen menyalurkan energi ke masyarakat untuk menjaga ketahanan energi nasional.

Pada awal Maret 2026, Pertamina baru saja menaikkan harga BBM non subsidinya.

Dilansir dari pengumuman di laman resmi Pertamina, Sabtu 28 Februari 2026, harga terbaru BBM di SPBU Pertamina naik sekitar Rp 500 untuk Pertamax (RON 92).

Besaran kenaikan per SPBU bisa berbeda-beda lantaran harga BBM di tiap wilayah tidaklah sama.

Harga BBM di Jabodetabek, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara per 1 Maret 2026 yaitu Pertamax (RON 92) dari Rp 11.800 per liter naik menjadi Rp 12.300.

Sedangkan Pertamax Green 95: dari Rp 12.450 per liter naik menjadi Rp 12.900.

Kemudian, Pertamax Turbo (RON 98) dari Rp 12.700 per liter naik menjadi Rp 13.100, Dexlite (CN 51): dari Rp 13.250 per liter naik menjadi Rp 14.200, dan Pertamina Dex (CN 53) dari Rp 13.500 per liter naik menjadi Rp 14.500.

Ke depannya, harga BBM diprediksi naik apabila gejolak di Timur Tengah tak kunjung mereda. (kontan)

3 Sektor Utama Paling Terdampak

Pemerintah mewaspadai dampak memanasnya konflik geopolitik antara Iran dan Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat (AS) serta sejumlah negara di kawasan Timur Tengah terhadap perekonomian nasional tahun 2026.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, eskalasi konflik di kawasan tersebut berpotensi memicu gangguan pada sejumlah sektor strategis yang dapat berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap ekonomi Indonesia.

Menurut Airlangga, terdapat tiga sektor utama yang paling terdampak dari meningkatnya tensi geopolitik tersebut, yakni pasokan minyak dunia, transportasi dan logistik global, serta sektor pariwisata.

“Ya (berdampak ke ekonomi), pertama yang terganggu kan pasti suplai minyak. Yang kedua transportasi logistik. Dan yang ketiga tentunya kita melihat turisme akan sangat terganggu,” ujar Airlangga kepada awak media di Jakarta, Senin 2 Maret 2026.

Airlangga menjelaskan, gangguan pada pasokan minyak global berpotensi mendorong kenaikan harga energi, termasuk harga bahan bakar minyak (BBM).

Lonjakan harga minyak dunia berisiko meningkatkan beban subsidi energi dan memberi tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Kondisi ini dinilai serupa dengan situasi saat pecahnya perang Rusia-Ukraina yang sempat memicu lonjakan harga energi global dan inflasi di berbagai negara.

“Otomatis akan naik sama seperti saat perang Ukraine kan naik. Tetapi kan kali ini supply dari Amerika juga akan meningkat dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya,” kata Airlangga.

Ia menambahkan, tambahan pasokan dari Amerika Serikat serta kebijakan peningkatan produksi oleh negara-negara OPEC diharapkan dapat meredam lonjakan harga minyak yang terlalu tajam.

Selain sektor energi, dampak konflik juga berpotensi menjalar ke perdagangan internasional, termasuk kinerja ekspor Indonesia.

Gangguan jalur pelayaran dan logistik global dapat memicu kenaikan biaya pengiriman dan memperlambat arus barang.

Namun demikian, menurut Airlangga, besaran dampak terhadap perdagangan masih sangat bergantung pada durasi konflik.

“Ya kalau negara tergantung juga berapa lama. Balik lagi kita monitor saja bahwa perang ini lama atau perang 12 hari atau perang berapa jauh,” ujarnya.

Sektor pariwisata juga diperkirakan terdampak apabila eskalasi konflik meluas dan memicu kekhawatiran global.

Ketidakpastian geopolitik biasanya membuat wisatawan menunda perjalanan internasional, terutama dari dan menuju kawasan yang terdampak.

Padahal, sektor pariwisata menjadi salah satu penopang pemulihan ekonomi nasional pascapandemi dan berkontribusi terhadap devisa negara.

Meski risiko terhadap ekonomi cukup besar, pemerintah belum menyiapkan langkah kebijakan khusus dalam waktu dekat.

Pemerintah masih akan memantau dinamika geopolitik global sebelum mengambil langkah lanjutan.

“Nanti kita monitor dulu,” kata Airlangga. (kontan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.