TRIBUNSUMSEL.COM -- Putra tertua kedua Ali Khamenei, Motjaba Khamenei dikabarkan terpilih jadi pimpinan tertinggi Iran.
Setelah Majelis Para Ahli Iran (Assembly of Experts) dilaporkan memilih Motjaba melansir dari Iran International.
Pemilihan ini disebut berlangsung di bawah tekanan kuat dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Lalu siapakah sosok Motjaba Khamenei?
Melansir dari Tribunnews.com, rabu (4/3/2026) Mojtaba (56) merupakan putra tertua kedua Ali Khamenei dan dikenal memiliki hubungan yang kuat dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
Mojtaba bukanlah ulama berpangkat tinggi.
Ia tidak pernah memegang jabatan resmi dan tidak memiliki peran formal dalam rezim tersebut.
Namun, ia diyakini memiliki pengaruh yang cukup besar di balik layar.
Ia pernah bertugas di angkatan bersenjata Iran selama perang Iran–Irak.
Meskipun kemungkinan terdapat penolakan terhadap pemilihannya, mengingat prinsip-prinsip Syiah, banyak petinggi Iran juga telah dinetralisir dalam serangan terhadap negara tersebut.
Mojtaba disebut sebagai salah satu anggota keluarga Khamenei yang selamat, sementara istri, putri, cucu, menantu perempuan, dan menantu laki-laki mendiang pemimpin tertinggi itu dilaporkan tidak selamat.
Mojtaba menikah dengan Zahra Haddad-Adel.
Zahra merupakan putri dari Gholam-Ali Haddad-Adel, seorang politikus konservatif Iran dan mantan Ketua Parlemen.
Keduanya dilaporkan menikah pada tahun 2004.
Zahra dilaporkan tewas pada tahun 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran.
Pasangan ini dilaporkan memiliki tiga anak, meskipun tidak banyak detail yang tersedia mengenai anak-anak tersebut.
Meskipun banyak pihak sejak lama meyakini bahwa Mojtaba akan menjadi kandidat terdepan untuk menggantikan Khamenei, para ahli memiliki pandangan yang berbeda.
Khamenei sendiri dilaporkan tidak memasukkan Mojtaba dalam daftar calon pengganti yang dibuatnya tahun lalu.
Dalam kalangan ulama Muslim Syiah Iran, suksesi ayah ke anak tidak dipandang positif.
Sebelumnya, pernyataan resmi dikeluarkan pemerintah Iran terkait kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei.
Selain Ali Khamenei, serangan gabungan AS dan Israel juga turut menewaskan putri, menantu, dan cucu pemimpin tertinggi Iran tersebut.
Berikut pernyataan pemerintah Iran melansir dari Tribunnews.com, Minggu (1/3/2026)
Dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
"Orang-orang yang berbuat zalim akan mengetahui ke mana mereka akan dikembalikan." (Surat Asy-Syu’ara Ayat 227)
Rakyat Iran yang terhormat dan penuh kebanggaan!
Dengan kesedihan dan duka mendalam, diumumkan bahwa setelah serangan brutal oleh pemerintah kriminal Amerika dan rezim Zionis yang keji, teladan iman, jihad, dan perlawanan, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatollah Agung Imam Khamenei, telah meraih anugerah besar berupa kesyahidan.
Beliau adalah penerus sejati Ruhullah (Imam Khomeini) yang selama lebih dari 37 tahun kepemimpinan bijak, memegang panji terdepan Islam dengan keberanian dan iman teguh, membuka babak baru dalam sejarah pemerintahan Islam, dan hingga akhir hayatnya yang penuh berkah, memimpin umat Islam melawan kekafiran, tirani, dan kesombongan.
Syahid yang mulia, Ayatollah Agung Imam Khamenei, teladan pengorbanan dan perlawanan di era kini, adalah “Imam janji tulus, Imam harapan dan kekuatan” di benak kaum merdeka, tertindas, dan para pejuang dunia.
Namanya akan abadi bersama “Khomeini Sang Agung” di hati bangsa-bangsa dunia. Keilmuan luas, penguasaan ilmu kontemporer, kebijaksanaan, pandangan jauh, iman murni, ketulusan dalam amal, tekad baja, keyakinan mendalam pada kata dan perbuatannya, keberanian tiada banding, pengetahuan agama yang luas, jiwa lembut dan suci, serta harapan dan tawakal kepada Sang Pencipta adalah ciri khas luar biasa dari pribadi besar ini yang jarang ditemukan pada pemimpin politik mana pun.
Pemerintah Republik Islam Iran menyampaikan belasungkawa atas kehilangan besar ini kepada Qa’im al-Mahdi (semoga jiwa kami dikorbankan untuk beliau), bangsa Iran yang mulia, umat Islam yang agung, dan seluruh kaum merdeka di dunia.
Sebagai bentuk simpati kepada bangsa Iran yang tangguh, pemerintah menetapkan 40 hari berkabung nasional dan 7 hari libur umum.
Kejahatan besar ini tidak akan pernah dibiarkan tanpa balasan dan akan menandai babak baru dalam sejarah dunia Islam dan Syiah. Darah suci pemimpin agung ini akan mengalir bagaikan mata air yang bergemuruh dan akan melenyapkan penindasan serta kejahatan Amerika-Zionis.
Kali ini, dengan segala kekuatan dan ketegasan, bersandar pada umat Islam dan kaum merdeka dunia, kami akan membuat para pelaku dan dalang kejahatan besar ini menyesali perbuatannya.
Iran tercinta kita, dengan dukungan kemenangan ilahi, bersatu dan sehati, akan dengan bangga melewati masa sulit ini; sebab Allah senantiasa mengawasi musuh-musuh yang menindas dan menjadi penolong bagi orang-orang beriman serta kaum tertindas.
(*)