Membayangkan Pulo Aceh Menjadi “Kampung Inggris”
mufti March 04, 2026 09:36 AM

AHMAD ZAKY, S.Kom., alumnus Fakultas MIPA Universitas Syiah Kuala (USK), melapor dari Kampung Inggris, Pare, Jawa Timur

Bayangkanlah sebuah pulau dengan hamparan laut biru, memiliki sejarah gemilang, dan budaya yang kaya raya. Itulah Pulo Aceh, gugusan pulau yang membentang di ujung barat Indonesia, menyimpan potensi wisata bahari, dan sumber daya alam yang luar biasa.

Namun, di balik keindahannya, tersimpan pekerjaan rumah besar yang tak kalah penting: bagaimana menyiapkan generasi muda Pulo Aceh agar mampu bersaing di kancah global?

Jawabannya mungkin tidak perlu jauh-jauh dicari hingga ke Amerika Serikat atau Inggris.

Cukup menatap ke sebuah fenomena unik di Jawa Timur: Kampung Inggris, Pare.

Sebuah desa biasa yang menjelma menjadi “ibu kota” kursus bahasa Inggris terbesar di Indonesia, tempat ribuan anak muda dari berbagai penjuru negeri berbondong-bondong mengejar mimpi menguasai bahasa internasional yang satu ini.

Bukankah Pulo Aceh, dengan segala keunikannya, juga bisa melakukan hal serupa?

Urgensi bahasa Inggris

Data terkini dari Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA 2025 memberikan tamparan keras bagi dunia pendidikan Aceh. Provinsi Aceh menempati peringkat ke-31 dari 38 provinsi dengan nilai rata-rata gabungan mapelnya hanya 35,93. Yang lebih memprihatinkan, skor bahasa Inggrisnya anjlok di angka 22,74, tertinggal jauh dari provinsi lain seperti DI Yogyakarta yang mencapai 46,33.

Ironisnya, capaian ini kontras dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Aceh yang justru meningkat dari 73,29 pada 2020 menjadi 76,23 pada 2025. Ini membuktikan bahwa kuantitas pendidikan belum berbanding lurus dengan kualitas hasil belajar, terutama dalam penguasaan bahasa asing.

Bagi generasi muda yang tinggal di Pulo Aceh dengan keterbatasan akses geografis, kesenjangan ini akan semakin lebar jika tidak segera diatasi. Penguasaan bahasa Inggris bukan sekadar nilai rapor, melainkan kunci untuk membuka pintu beasiswa luar negeri, akses literatur internasional, dan daya saing di pasar kerja yang semakin kompetitif.

Menelisik keajaiban Pare

Apa sebenarnya rahasia Kampung Inggris Pare sehingga mampu mencetak ribuan lulusan dengan kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni?

Bukan gedung megah atau teknologi canggih, melainkan ekosistem dan metode.

Penelitian akademik membuktikan efektivitas metode di Pare. Sebuah studi yang dipublikasikan di Language and Education Journal (2025) menunjukkan bahwa pembelajaran imersif di Pare mampu meningkatkan skor kemampuan bahasa Inggris siswa hingga 25 persen (dari pretest ke post-test). Lingkungan yang mendukung, program yang terstruktur, dan metode pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-

centered learning) menjadi kunci utama keberhasilan ini. Metode ini terbukti mempercepat kelancaran berbicara (speaking) siswa hingga tiga kali lipat lebih cepat.

Jejak Aceh di Kampung Inggris Yang mengejutkan, sebenarnya benih koneksi antara Aceh dan Pare sudah lama ditanam. Pada tahun 2022, Pemerintah Aceh melalui Dinas Pemuda dan Olahraga mengirimkan 32 utusan pemuda, santri, dan santriwati untuk mengikuti kursus bahasa Inggris selama dua minggu di Kampung Inggris, Pare.

Anggota DPRA, Tgk H Irawan Abdullah kala itu menyatakan harapannya agar ke depan tidak ada lagi kendala bahasa saat putra-putri Aceh hendak disekolahkan ke luar negeri.

Langkah serupa juga dilakukan oleh Forum Dai Milenial (FDM) yang melakukan studi banding ke Kampung Pare pada 2024 selama tiga bulan untuk mempelajari metode pengajaran inovatif dan efektif. Artinya, sudah ada kesadaran dan upaya untuk mentransfer ‘magi’ Pare ke tanah Aceh.

Sayangnya, upaya ini baru sebatas mengirim orang, belum sampai pada tahap membangun ekosistem serupa di Aceh sendiri.

Kampung Inggris, Pulo Aceh

Lalu, mengapa tidak kita bangun saja “Kampung Inggris” di Pulo Aceh? Tentu bukan sekadar meniru persis, melainkan mengadopsi filosofi dan menyesuaikannya dengan kearifan lokal Aceh.

Pulau secara alami adalah kawasan imersif yang sempurna. Keterbatasan akses keluar-masuk justru bisa menjadi keuntungan untuk menciptakan English Area yang lebih terkontrol. Bayangkanlah sebuah gampong (desa) di Pulo Aceh yang ditetapkan sebagai kawasan wajib berbahasa Inggris pada jam-jam tertentu. Siswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi hidup di lingkungan yang mendukung praktik berbahasa.

Selain itu, kearifan lokal sebagai fondasi keunikan Aceh adalah budaya dan nilai-nilai keislamannya yang kuat. Penelitian terbaru tentang Eco-ELT (Environmental English Language Teaching) di Aceh menunjukkan bahwa guru-guru bahasa Inggris di Aceh memiliki kesadaran ekologis yang kuat (skor persepsi 4,42) dan sangat menghargai kearifan lokal sebagai sumber pedagogis (skor 4,51). Ini adalah modal besar!

“Kampung Inggris” di Pulo Aceh tidak perlu meniru gaya pergaulan bebas ala Barat.

Justru bisa mengintegrasikan nilai-nilai Islam dan budaya Aceh ke dalam kurikulum.

Pembelajaran bisa menggunakan cerita rakyat Aceh, folklor, dan tema-tema ekologis setempat. Dengan cara ini, siswa tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokalnya.

Ketiga, libatkan alumni dan masyarakat lokal. Sama seperti di Pare, para pengajar bisa berasal dari alumni program beasiswa atau anak muda lokal yang telah menguasai bahasa Inggris.

Mereka bisa dilatih dengan metodologi ‘student-centered learning’ yang telah terbukti efektif, seperti storytelling, role-play, dan communication games.

Keempat, bersinergi dengan program yang sudah ada.

Pemerintah Aceh, khususnya Dinas Pendidikan telah memiliki program kolaborasi internasional seperti Fatih Volunteering Teaching Program (FVTP) bersama Australia. Program yang telah berjalan lima tahun ini bisa diintegrasikan dengan “Kampung Inggris” lokal.

Sukarelawan asing bisa didatangkan ke Pulo Aceh untuk memberikan pengalaman interaksi langsung dengan ‘native speaker’, sementara infrastruktur dan ekosistemnya sudah disiapkan oleh pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

Tantangan terbesar

Tentu, mengadopsi konsep ini tidak semudah membalik telapak tangan. Tantangan terbesar justru bukan pada infrastruktur fisik, melainkan pada pola pikir (mindset) dan kebijakan.

Pembangunan “Kampung Inggris” harus dilihat sebagai investasi jangka panjang untuk mencetak sumber daya manusia unggul, bukan sekadar proyek fisik belaka. Seperti diingatkan oleh pengamat kebijakan publik, masa depan Aceh ditentukan oleh seberapa dalam kompetensi generasi mudanya, bukan hanya seberapa tinggi IPM di atas kertas.

Mimpi jadi nyata

Pulo Aceh memiliki semua modal untuk melompat jauh: pemuda yang tangguh, budaya yang kokoh, dan alam yang indah. Bahkan, tarian ‘likok pulo’ yang mendunia itu, berasal dari pulai ini.

Kini saatnya merajut semua modal itu menjadi sebuah ekosistem pendidikan yang transformatif.

Konsep Kampung Inggris Pare telah membuktikan  bahwa lingkungan, metode, dan komunitas adalah kunci keberhasilan penguasaan bahasa, jauh melampaui faktor gedung sekolah dan kurikulum formal.

Jika konsep ini bisa diadopsi dan disesuaikan dengan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal Aceh, bukan tidak mungkin suatu saat nanti, para pemuda dari Pulo Aceh tidak hanya fasih berbahasa Inggris, tetapi juga mampu menjadi duta budaya yang memperkenalkan keindahan Aceh ke seluruh dunia.

Saatnya berhenti hanya mengirim anak muda ke Jawa. Bangun saja ekosistem serupa di tanah kelahiran sendiri, di pulau-pulau yang menjanjikan itu. 

Pulo Aceh perlu “Kampung Inggris”-nya sendiri. Pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan para pemuda harus bergandengan tangan mewujudkannya. Karena investasi terbesar untuk masa depan bukanlah gedung, melainkan generasi yang siap bersaing secara global tanpa kehilangan jati dirinya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.