Mengenal Yayasan Sanggar Bejo Lestari Laras: Ruang Kreativitas dan Pelestarian Seni di Pati
Nuryanti March 04, 2026 01:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Di tengah arus modernisasi yang semakin pesat, keberadaan sanggar seni menjadi benteng penting dalam menjaga dan melestarikan tradisi.

Sanggar Bejo Lestari Laras hadir sebagai ruang kreativitas sekaligus pusat pelestarian seni budaya Jawa, khususnya di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Yayasan Sanggar Kesenian Bejo Lestari Laras berlokasi di Dukuh Koroyo RT 05 RW 02, Desa Panggungroyom, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah.

Keberadaannya tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat setempat, tetapi juga menjadi wadah pembinaan seni lintas generasi.

Asal Usul Nama Yayasan Sanggar Bejo Lestari Laras

Sanggar Bejo Lestari Laras didirikan oleh H. Wagimin pada tahun 2019.

Saat ini, pengelolaannya diteruskan oleh anak-anaknya, Adhi Kusnari dan Siti Nurjanah.

Nama “Bejo Lestari Laras” dicetuskan langsung oleh H. Wagimin yang juga bertindak sebagai penasihat sanggar.

Nama tersebut memiliki sejarah dan makna yang mendalam.

Awalnya, terdapat seperangkat gamelan milik seseorang yang diberi nama “Lestari Laras.”

Sebelum gamelan tersebut berpindah tangan, pemiliknya berpesan kepada H. Wagimin agar nama tersebut tetap dipertahankan.

Baca juga: Menjaga Warisan Leluhur: Kisah Seniman Wayang Beber Dulu, Sekarang dan Masa Depan

“Kenapa diberi nama Sanggar Bejo Lestari Laras? Karena dahulu ada gamelan terakhir yang oleh pemiliknya diberi nama Lestari Laras,” ujar Siti Nurjanah, Sekretaris Yayasan Sanggar Bejo Lestari Laras saat diwawancarai Tribunnews, Minggu (1/3/2026).

“Pemilik gamelan sebelumnya meminta ayah saya untuk tidak menghilangkan nama gamelan tersebut,” lanjutnya.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap pesan tersebut, saat mendirikan sanggar, H. Wagimin tetap menggunakan nama “Lestari Laras.”

Ia kemudian menambahkan kata “Bejo,” yang berasal dari bahasa Jawa (beja) yang berarti beruntung atau memperoleh nasib baik.

Nama tersebut mengandung doa dan harapan agar sanggar senantiasa lestari, selaras, serta diberkahi keberuntungan dalam setiap langkahnya.

"Ya harapannya agar sanggar ini lestari, selaras, diberkahi dan beruntung," ungkapnya.

Berawal dari Sewa Gamelan dan Wayang Kulit

Pada awal berdirinya, sanggar ini bergerak di bidang penyewaan perangkat gamelan dan wayang kulit.

Namun, seiring perkembangan zaman dan meningkatnya kebutuhan masyarakat, muncul kesadaran bahwa pelestarian seni tidak cukup hanya dengan menyediakan sarana pertunjukan.

Dari sinilah lahir gagasan untuk membentuk sanggar yang tidak hanya menyewakan perangkat seni, tetapi juga aktif melakukan pembinaan dan pengembangan kesenian bagi generasi muda.

Langkah tersebut menjadi titik awal transformasi sanggar sebagai pusat pendidikan seni berbasis tradisi di Pati.

Kolaborasi dengan Dalang Remaja

Pengurus sanggar, Parliana, menyebutkan bahwa Sanggar Bejo Lestari Laras juga berkolaborasi dengan sejumlah dalang remaja berbakat dari daerah setempat.

Beberapa di antaranya adalah Rama Aditya, Vincent Colin Putra Farlian, Mohammad Fairuz Mizan, dan Diego Evanio Willy.

“Kehadiran bakat lokal ini jadi aset berharga yang perlu kita tingkatkan, lestarikan, serta diwariskan pada generasi berikutnya,” ujar Parliana.

BEJO LESTARI LARAS - Penyerahan Wayang Prabu Jarasandha dari Ki Rama Aditya kepada Ki Vincent Colin Putra Farlian saat acara rutinan setiap dua tahun sekali dan Gerebeg Suro di Sanggar Bejo Lestari Laras Pati (Juli 2025).
BEJO LESTARI LARAS - Penyerahan Wayang Prabu Jarasandha dari Ki Rama Aditya kepada Ki Vincent Colin Putra Farlian saat acara rutinan setiap dua tahun sekali dan Gerebeg Suro di Sanggar Bejo Lestari Laras Pati (Juli 2025). (HO/IST)

Kolaborasi ini dapat memperkuat eksistensi sanggar, terutama dalam pertunjukan wayang kulit yang menjadi salah satu identitas budaya Jawa.

Melalui pertunjukkan tersebut, nilai-nilai tradisi bisa tetap hidup dan relevan di kalangan generasi muda.

Perkumpulan Karawitan sejak 2019

Tepatnya mulai pertengahan tahun 2019, sanggar membentuk perkumpulan karawitan yang terbagi ke dalam beberapa kelompok yakni anak-anak, remaja/dewasa, serta bapak-bapak dan ibu-ibu.

Masing-masing kelompok memiliki jadwal latihan rutin yang telah disepakati bersama.

"Misalnya untuk tari 1 minggu sekali,  lalu yang gamelan juga sama 1 minggu sekali," kata Siti Nurjanah.

Anak-anak yang merupakan bibit lokal dari Desa Panggungroyom mulai dididik sejak tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga kini banyak yang telah duduk di bangku SMA/SMK.

"Perkembangan mereka sangat membanggakan, bahkan telah mampu menjadi kelompok karawitan yang mendampingi serta menjadi bagian penting dalam pertunjukan wayang kulit," tambah Parliana.

Hal ini menunjukkan bahwa pembinaan yang dilakukan tidak bersifat instan, melainkan berproses dan berkelanjutan.

Sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras, sanggar kerap menyelenggarakan kegiatan pentas seni secara rutin setiap dua tahun sekali.

Agenda ini menjadi momentum penting untuk menampilkan hasil latihan dan perkembangan para peserta.

"Pentas seni bukan sekadar pertunjukan, melainkan juga sarana evaluasi, motivasi, dan penyemangat. Melalui panggung tersebut, mereka belajar tentang tanggung jawab, kepercayaan diri, serta makna kebersamaan dalam berkarya," pungkasnya.

Keberadaan Sanggar Bejo Lestari Laras Pati bukan hanya sebagai tempat belajar seni, melainkan juga sebagai penjaga warisan budaya di tengah perubahan zaman.

Dengan semangat kebersamaan, kolaborasi lintas usia, serta komitmen melestarikan tradisi Jawa, sanggar ini terus menjadi rumah bagi tumbuhnya generasi pecinta seni di Kabupaten Pati.

(Tribunnews.com/Latifah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.