BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pernyataan Balai POM di Pangkalpinang yang memastikan tidak adanya temuan Rhodamin B dan Metanil Yellow pada jajanan takjil selama tiga tahun terakhir mendapat respons positif dari kalangan akademisi.
Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang, Karina Dwi Handini menyebut capaian tersebut sebagai kabar menggembirakan bagi perlindungan kesehatan masyarakat, khususnya selama Ramadan.
"Rhodamin B dan Metanil Yellow adalah zat pewarna sintetis untuk industri tekstil yang telah dinyatakan sebagai bahan berbahaya oleh Kementerian Kesehatan. Jika sampai digunakan dalam makanan, dampaknya bisa sangat serius," ujarnya kepada Bangkapos.com, Rabu (4/3/2026).
Karina menjelaskan, kedua zat tersebut bersifat karsinogenik atau dapat memicu kanker jika terakumulasi dalam tubuh. Rhodamin B, misalnya, dapat menyebabkan iritasi saluran pencernaan, gangguan fungsi hati hingga kanker hati. Sementara Metanil Yellow berisiko menimbulkan mual, muntah, sakit perut hingga kanker kandung kemih.
Karena itu, nihilnya temuan dalam tiga tahun terakhir dinilai sebagai jaminan keamanan pangan yang patut diapresiasi.
"Ini membawa angin segar bagi masyarakat. Artinya, dari sisi dua zat berbahaya itu, konsumen tidak perlu terlalu khawatir," katanya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa keamanan pangan tidak hanya berbicara soal pewarna tekstil.
Karina menegaskan, bahan tambahan pangan (BTP) yang legal sekalipun tetap memiliki batas maksimum penggunaan. Regulasi terbaru, yakni Permenkes Nomor 033 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan, telah mengatur jenis yang diizinkan, batas aman, hingga persyaratan pencampurannya.
"Walaupun diizinkan, tetap ada ambang batas. Jika digunakan berlebihan, dampaknya bisa muncul dalam jangka pendek maupun panjang," jelasnya.
Dampak akut yang mungkin timbul antara lain mual, muntah, sakit perut, diare, hingga pusing. Pada individu sensitif, bisa muncul reaksi alergi seperti ruam, gatal, hidung meler, radang tenggorokan, bahkan sesak napas.
Sementara dalam jangka panjang, konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko kerusakan organ seperti hati, ginjal, jantung, hingga gangguan metabolik yang berkaitan dengan diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Bahkan, pada anak-anak, paparan berlebih dikaitkan dengan gangguan perilaku dan penurunan fungsi kognitif.
"Zat gizi yang baik saja kalau berlebihan bisa berdampak buruk, apalagi bahan tambahan sintetis," tegasnya.
Sebagai langkah preventif, Karina menyarankan masyarakat lebih jeli mengenali ciri fisik makanan. Warna, aroma, tekstur, dan rasa menjadi indikator awal kualitas produk.
"Makanan yang sehat biasanya memiliki karakteristik yang mendekati bahan dasarnya," katanya.
Ia mencontohkan bakso sapi yang idealnya tetap memiliki warna dan aroma khas daging. Jika ciri fisik sudah jauh berbeda dari bahan utama, kemungkinan komposisi bahan tambahan lebih dominan.
Prinsip ini, menurutnya, berlaku untuk semua jenis pangan, termasuk minuman berwarna cerah yang banyak dijual saat Ramadan.
Karina juga menyoroti peningkatan konsumsi makanan manis dan berwarna selama Ramadan. Ia mengingatkan adanya kelompok rentan yang harus lebih berhati-hati, yakni bayi, anak usia sekolah, remaja putri, ibu hamil dan menyusui, serta lansia.
Selain bahan tambahan pangan, masyarakat juga perlu memperhatikan konsumsi GGL (Gula, Garam, Lemak). Berdasarkan Permenkes Nomor 30 Tahun 2013, batas konsumsi gula dianjurkan maksimal 50 gram atau sekitar empat sendok makan per hari. Garam dibatasi satu sendok teh per hari, sementara lemak sekitar lima sendok makan per hari.
"Kelebihan konsumsi GGL berisiko memicu penyakit degeneratif. Ramadan jangan sampai jadi momentum balas dendam makan," ujarnya.
Karina menekankan, selain pengawasan pemerintah, peran konsumen menjadi faktor kunci perlindungan berkelanjutan.
"Konsumenlah yang akan menerima dampaknya. Jadi harus jeli, waspada, dan memahami kualitas makanan yang dikonsumsi," katanya.
Ia menyarankan masyarakat memastikan kesegaran bahan, memperhatikan kebersihan tempat jualan, serta membaca label komposisi dan informasi gizi pada produk kemasan.
Menurutnya, konsumen yang cerdas tidak akan mudah tergiur tren viral atau harga murah jika mengetahui produk tersebut berisiko bagi kesehatan.
"Kalau konsumen sudah paham apa yang sehat dan tidak, maka produk yang tidak aman otomatis akan tersingkir dari pasar," pungkasnya.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)