TRIBUNWOW.COM - Polemik terkait masa depan Iran di Piala Dunia 2026 menempatkan turnamen edisi kali ini dalam situasi yang sangat rumit, baik dari sisi olahraga maupun geopolitik.
Ancaman mundur dari Iran memicu beragam skenario, mulai dari penunjukan negara pengganti hingga potensi perubahan format grup, sesuai kewenangan FIFA dalam regulasi turnamen.
Di saat yang sama, kebijakan larangan perjalanan pemerintah Amerika Serikat terhadap warga Iran menambah lapisan persoalan baru.
Akibatnya, muncul kendala terkait mobilitas Timnas Iran dan suporter menuju lokasi pertandingan.
Mehdi Taj bahkan menyatakan bahwa situasi saat ini dapat membuat keikutsertaan di turnamen menjadi mustahil.
Baca juga: Alarm Cedera di Kubu Argentina, 3 Nama Penting Terancam Absen Jelang Piala Dunia 2026
Menurutnya, keputusan finalnya nanti akan ditentukan oleh otoritas olahraga dan politik negara tersebut.
Jika Iran benar-benar mundur, hal ini akan menjadi guncangan besar bagi turnamen dan memaksa FIFA menyiapkan skenario pengganti menjelang dimulainya ajang empat tahunan tersebut.
Dalam konteks inilah, penting untuk memahami apa yang akan terjadi jika Iran benar-benar mundur dari Piala Dunia 2026.
Mengingat belum adanya preseden tim yang secara sukarela menarik diri dari Piala Dunia FIFA, situasi Iran merupakan kasus yang sangat unik.
Selama ini, tim-tim yang absen dari turnamen biasanya disebabkan oleh sanksi atau larangan dari badan sepak bola global maupun regional.
Sebagai contoh, Rusia menjadi kasus terbaru setelah mereka dikeluarkan dari beberapa kompetisi internasional karena invasi militernya ke Ukraina pada Februari 2022..
Jika Iran memutuskan mundur, besar kemungkinan FIFA akan menunjuk negara lain sebagai pengganti demi menjaga kelancaran format dan jadwal turnamen.
Mengingat Iran mewakili jatah Konfederasi Sepak Bola Asia, penggantinya hampir pasti berasal dari kawasan Asia.
Oleh karena itu, Uni Emirat Arab dan Irak menjadi kandidat utama, bergantung pada hasil akhir proses kualifikasi dan babak play-off.
Skenario yang paling sederhana adalah tempat Iran diambil alih oleh Uni Emirat Arab atau Irak, mengingat posisi keduanya dalam rangkaian kualifikasi.
Irak saat ini dijadwalkan menghadapi Bolivia atau Suriname pada laga play-off Piala Dunia pada bulan Maret.
Di mana pemenang pertandingan tersebut akan lolos ke turnamen dan menempati Grup I bersama Prancis, Senegal, dan Norwegia.
Apabila Irak langsung menggantikan posisi Iran di Piala Dunia, maka Uni Emirat Arab berpeluang besar untuk mengisi slot play-off antarbenua yang ditinggalkan.
Iran sendiri tergabung di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru, dengan seluruh laga mereka dijadwalkan berlangsung di Pantai Barat AS.
Tim Melli akan menghadapi Selandia Baru pada 16 Juni di Stadion SoFi pukul 08.00 WIB, kemudian melawan Belgia pada 22 Juni di stadion yang sama pukul 02.00.
Baca juga: 4 Bintang Termahal Timnas Argentina Jelang Menuju Piala Dunia 2026: Bukan Messi, 1 Nama Baru Mencuat
Selanjutnya, Iran akan menutup fase grup dengan menghadapi Mesir pada 27 Juni di Stadion Lumen Field pukul 10.00.
Dikutip dari data di Flashcore, berikut jadwal babak penyisihan grup Tim Melli:
Pertanyaan mengenai apakah tim dan suporter Iran akan diizinkan masuk ke Amerika Serikat untuk Piala Dunia juga menjadi isu krusial di tengah situasi politik yang memanas.
Walaupun pertandingan Iran dijadwalkan berlangsung di kota-kota Pantai Barat Amerika Serikat, wilayah tersebut diketahui memiliki komunitas diaspora Iran yang cukup besar.
Kehadiran para suporter Timnas Iran juga diharapkan dapat memberi dukungan langsung bagi skuad.
Namun, para suporter yang datang langsung dari Iran diperkirakan akan menghadapi hambatan serius.
Hal ini disebabkan oleh kebijakan larangan perjalanan yang mencantumkan Iran sebagai satu dari 12 negara yang warganya dilarang memasuki wilayah Amerika Serikat.
Di mana kebijakan tersebut diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pada bulan Juni 2025 lalu, sementara pemerintah Iran mengkritik keras kebijakan tersebut.
Mereka menyebutnya sebagai langkah yang "rasis" dan mencerminkan permusuhan mendalam terhadap warga Iran serta umat Muslim secara umum.
Secara keseluruhan, polemik masa depan Iran di Piala Dunia 2026 menunjukkan betapa eratnya keterkaitan antara sepak bola, situasi geopolitik, dan kebijakan keamanan negara.
Ancaman mundur yang disuarakan Mehdi Taj, ditambah tekanan konflik dan larangan perjalanan ke Amerika Serikat, membuat partisipasi Tim Melli jauh dari kata pasti.
Di sisi lain, FIFA harus menyiapkan berbagai skenario, mulai dari penunjukan pengganti hingga penyesuaian jadwal dan format, demi menjaga kelancaran turnamen jika Iran benar-benar menarik diri.
Dalam kondisi yang serba tidak menentu ini, nasib Iran di Piala Dunia 2026 pada akhirnya akan ditentukan oleh keputusan politik dan olahraga di Teheran.
Dampak dari keputusan tersebut akan dirasakan tidak hanya oleh suporter Iran, tetapi juga oleh seluruh ekosistem sepak bola dunia.
(TribunWow.com/Peserta Magang dari Universitas Sebelas Maret/Alifazahra Avrilya Noorahma)