Oleh: Supriadi, S.Ag., M.Pd.I
SETIAP kedatangan bulan Ramadhan selalu akan membawa suasana baru.
Ramadhan selalu datang dengan gegap gempita.
Orang yang menyambutnya pun tidak tanggung-tanggung persiapannya, terutama deretan menu pada sahur pertama.
Pada awal-awal puasa, senantiasa diisi dengan semangat berburu pahala.
Ada banyak indikator yang bisa dilihat, misalnya masjid-masjid seringkali penuh, bahkan jama’ahnya meluber sampai dibuatkan tenda di depan masjid oleh pengurusnya saking banyaknya jamaah.
Selain itu, tilawah al-Qur’an menggema dimana-mana.
Tentu saja tidak mengherankan karena Ramadhan adalah syahrul Qur’an atau bulannya al-Qur’an.
Dimana-mana tampak umat Islam rajin membacanya.
Begitu pula dengan sedekah yang terlihat seperti mengalir dengan lancar.
Kios-kios Ta’jil yang menjual aneka makanan berbuka puasa juga sangat banyak dengan aneka rupa dan rasa.
Semuanya campur aduk jadi satu membentuk suasana nan penuh gairah dan kegembiraan menghidupkan Ramadhan.
Tidak heran jika pahala yang besar menanti bagi mereka yang merasa senang dan bergembira dengan datangnya Ramadhan.
Seiring perjalanan waktu, kondisi yang tampak mulai berbalik dan kontras dengan fenomena di awal Ramadhan.
Ketika memasuki pertengahan bulan, suasana sering berubah.
Energi pun mulai menurun, rutinitas harian terasa seperti biasa saja, dan target ibadah perlahan terlupakan.
Pada titik inilah muhasabah menjadi sangat penting, guna mengembalikan semangat seperti di awal Ramadhan.
Al-Qur'an sebagai pedoman umat manusia telah mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok” (QS. Al-Hasyr: 18).
Ayat ini memberikan sebuah penegasan bahwa evaluasi diri bukan sekadar anjuran, tetapi sudah menjadi kebutuhan spiritual.
Pertengahan Ramadhan adalah momen strategis untuk “berhenti sejenak”, melihat ke dalam, dan menilai kualitas ibadah kita.
Adakalanya kita lebih fokus pada persoalan kuantitas, misalnya berapa juz yang sudah dibaca, berapa rakaat tarawih yang ditunaikan, berapa banyak takjil yang dibagikan.
Padahal Ramadhan bukan hanya tentang angka-angka semata, melainkan tentang perubahan hati.
Apakah puasa kita telah melatih kesabaran? Apakah lisan kita lebih terjaga? Apakah hubungan kita dengan keluarga dan sesama semakin hangat?
Pesan Rasulullah saw. sebagai pengingat bahwa betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga, menjadi sebuah peringatan keras bahwa esensi puasa sesungguhnya terletak pada pengendalian diri dan peningkatan takwa.
Jika pertengahan Ramadhan kita lalui tanpa melakukan refleksi, maka dikhawatirkan ibadah kita hanya akan menjadi rutinitas biasa tanpa ruh dalam beribadah.
Ada saatnya oang yang melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan ini melakukan Muhasabah.
Apalagi sudah memasuki pertengahan Ramadhan.
Hal ini bisa bermakna menyusun ulang strategi.
Misalnya secara konkrit jika target tilawah tertinggal, masih ada waktu untuk mengejar.
Jika shalat berjamaah mulai jarang, masih ada kesempatan untuk memperbaiki.
Bahkan jika kita merasa awal Ramadhan kurang maksimal, pertengahannya bisa menjadi titik balik.
Dalam tradisi para ulama, pertengahan Ramadhan adalah fase transisi menuju sepuluh malam terakhir yang penuh kemuliaan.
Muhasabah pada akhirnya tidak berhenti pada hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga menyentuh hubungan horizontal dengan manusia.
Ramadhan seharusnya mampu untuk melunakkan hati, mengikis ego, dan mempererat ukhuwah.
Jika masih ada dendam dalam diri ini, maka inilah saatnya untuk memaafkan.
Jika masih ada hak orang lain yang tertahan, maka sekaranglah waktunya untuk menunaikannya.
Pertengahan Ramadhan bukan tanda bahwa waktu hampir habis, melainkan alarm lembut agar kita tidak terlena.
Ramadhan adalah madrasah ruhani; dan seperti siswa yang baik, kita perlu mengevaluasi proses belajar sebelum ujian akhir tiba.
Muhasabah di pertengahan Ramadhan akan menjadikan akhir Ramadhan kita terasa lebih berkualitas, lebih khusyuk, dan lebih bermakna.
Karena yang terpenting bukan bagaimana kita memulai Ramadhan, tetapi bagaimana kita menutupnya — dan apakah setelahnya kita benar-benar menjadi pribadi yang lebih bertakwa.
Pada bagian akhir tulisan ini, dapat digaris bawahi bahwa umur adalah rahasia Allah yang tiada seorangpun mengetahuinya.
Bersyukurlah mereka yang mampu memanfaatkannya dan merugilah bagi yang melewatkannya.
Semoga apa yang dilakukan dalam mengisi kehidupan ini senantiasa menjadi amal saleh dan bernilai ibadah di mata Allah swt.
Tentang Penulis: