BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Dunia usaha tak selama mulus. Ada turun naik, berada di atas dan kadang turun drastis. Ini juga yang sudah ia rasakan sejak masih kecil, tak heran karena dulu orangtuanya seorang pengusaha perkayuan yang sukses.
Tapi, kejayaan usaha orangtuanya meredup dan bangkrut. Dengan keterbatasan ekonomi, wanita ini bertekad terus belajar ekonomi dan belajar dari pengalaman. Apa saja upaya yang dilakukan wanita haus ilmu ini? Berikut petikan wawancaranya.
Bisa ceritakan tentang keluarga dan masa sekolah Anda?
Saya lahir di kampung Bakumpai Kuin Utara, Banjarmasin, sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara.
Lahir dari orangtua pengusaha kayu dari Barito. Orangtua saya pemilik pabrik kayu di zaman bisnis kayu sebagai primadona perekonomian di Kalimantan Selatan.
Dari aktivitas orangtua ini, kegiatan perdagangan telah mewarnai kehidupan saya dan mendarah daging, sehingga saat SMA memilih program IPS sebagai jurusan setelah pernah masuk di Prodi Fisika dan Biologi.
Apakah latar belakang perdagangan itu yang membuat Anda tertarik belajar ilmu ekonomi?
Dorongan sangat kuat untuk memahami masalah ekonomi adalah ketika usaha kayu para pengusaha lokal kalah dengan para konglomerat pada zaman itu yang memiliki hak atas pengelolaan hutan, sehingga tetap bisa berproduksi sementara pengusaha lokal harus gulung tikar.
Usaha ayah saya bangkrut, kondisi terendah ini justru menjadi titik balik untuk saya bangkit dan membuktikan bahwa saya bisa berhasil dengan segala keterbatasan ekonomi.
Lulus kuliah di bidang ekonomi, apa karir pertama Anda?
Setelah lulus S1 pada 1996, saya ikut program campus hearing Bank Danamon dan lulus. Pekerjaan di bank ini sebagai sarana menguji kemampuan untuk memastikan, pengetahuan yang diterima sepanjang perkuliahan memang relevan.
Kemudian berkarier sebagai dosen?
Universitas Lambung Mangkurat adalah tempat saya menempa diri menimba ilmu, dan ketika saya kembali ke 'rumah' saya sebagai tempat pulang, maka akan selalu saya jaga.
Saya berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik, dan tentunya upaya-upaya pengembangan profesional sudah saya rasakan sejak saya baru bergabung di awal 1997 menjadi PNS dosen, di tahun yang sama, enam bulan kemudian saya sudah dikirim untuk mengikuti studi lanjut.
Anda gigih belajar ekonomi, bahkan terus belajar ke jenjang lebih tinggi, apa motivasinya?
Motivasi untuk melanjutkan studi pada program S3 Prodi Ilmu Ekonomi karena memang ingin menjadi seorang ekonomi yang mendalami bidang yang linier.
Masa itu, doktor ahli ekonomi juga masih sangat terbatas, sehingga terpanggil untuk melanjutkan studi.
Apa Visi Anda dalam bekerja?
Visi saya sebagai Wakil Dekan di Bidang Akademik adalah mewujudkan lulusan yang berkualitas, membekali mahasiswa dengan metode pembelajaran berbasis kurikulum OBE agar mampu bersaing dalam dunia kerja, sehingga masa tunggu kerja pendek dengan mendapatkan pekerjaan dengan gaji 1,5 kali UMP.
Adakah tantangan yang dihadapi selama menjadi dosen?
Tantangan yang dihadapi sebagai dosen selama kurang lebih sudah 29 tahun adalah perbedaan cara menghadapi mahasiswa dengan gap yang cukup lebar antara gen X dan Z.
Perlu penyesuaian diri agar bisa masuk ke dunia mereka, jika tidak maka kita akan sangat kaku dan tidak asyik. Kemampuan beradaptasi sangat diperlukan sebagai seorang dosen.
Kemudahan mendapatkan informasi juga mengharuskan kita sebagai dosen untuk terus belajar sehingga tidak gaptek.
Bagaimana Anda membagi waktu antara tugas sebagai dosen dan jabatan wakil dekan?
Membagi waktu sebagai dosen, pejabat struktural sebagai Wakil Dekan 1 serta peneliti atau researcher, sudah ada jadwal masuk kuliah sebagai dosen, dan adanya dukungan teknologi sangat membantu kami melakukan tugas dengan cara WFA, sehingga baik sebagai dosen, tenaga struktural dan peneliti tetap bisa dijalankan dengan baik.
Anda juga aktif berorganisasi?
Ya, saya berorganisi satu di antaranya Apsepi atau Asosiasi Dosen Ekonomi Pembangunan Indonesia. Ini sebagai wadah bagi kami untuk mendapatkan upgrade pengetahuan, berbagi pengalaman dan berkumpul bersama dengan seluruh dosen dari berbagai universitas di Indonesia.
Kami mendiskusikan cara atau mencari jalan keluar dari berbagai masalah yang dihadapi prodi dan masalah bangsa. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)
Berikan Terbaik untuk Orangtua
SELAMA kariernya, Muzda mendapat penghargaan Satyalancana Karya Satya Perak (warna perak).
Ia juga menerima Satya Wacana Silver atas pengabdian sebagai PNS, yang diterima untuk pengabdian 20 tahun masa kerja dan baru diberikan setelah ia lebih dari 25 tahun bekerja.
Pesan Muzda bagi mahasiswa khususnya Universitas Lambung Mangkurat adalah saat ini mereka mendapatkan kesempatan untuk belajar di universitas negeri yang tidak bisa dicapai semua orang, maka hargai pencapaian tersebut.
"Berikan yang terbaik untuk orangtua yang sudah berkorban untuk Anda mewujudkan cita-cita," katanya.
Dikatakan Muzda, tidak ada kata menyerah Waja sampai Kaputing sebagai motto pegangan pantang melangkah mundur usaha sampai akhir. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)
Biodata
Nama: Dr Muzdalifah SE MSi
Lahir: Banjarmasin, 10 April 1972
Alamat: Jalan Brigend H Hasan Basri Kompleks Meranti XI Banjarmasin.
Pekerjaan:
- Dosen dengan Jabatan Lektor Kepala Pangkat Pembina Gol IV/a, Fakultas Ekonomi ULM
- Dosen Program Magister Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi ULM
Riwayat pekerjaan:
- Pegawai Bank Danamon Banjarmasin 1996
- Dosen di FEB 1997 sampai sekarang
Pendidikan
- Program Doktor (S3) Prodi Ilmu Ekonomi Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (2013-2019)
- Program Magister (S2) Program Pascasarjana Unhas Makassar Prodi Perencanaan & Pengembangan Wilayah (1997-2000)
- Program S1 Fakultas Ekonomi ULM Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (1991-1996)
Minat Penelitian:
- Perencanaan Regional dan Perkotaan
- Kebijakan Fiskal
- Keuangan Daerah
- Demografi
Organisasi :
- Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia
- Apsepi Indonesia