TRIBUNJAKARTA.COM - Purnawirawan TNI dan seorang peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan analisis tajam terkait dugaan ancaman nuklir serta kemungkinan konflik bersenjata yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat.
Dinamika geopolitik Timur Tengah yang terjadi jauh lebih kompleks dari sekadar perundingan diplomasi yang terlihat di permukaan.
Peneliti BRIN Nostalgiawan Wahyudi menegaskan bahwa perundingan antara Amerika Serikat dan Iran sebelumnya bukanlah langkah nyata menuju perdamaian, melainkan sebuah gimik politik yang dirancang untuk menutup niat asli Washington.
Menurut Nostalgiawan, serangan yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026) sebenarnya sudah dapat diprediksi jauh hari sebelumnya oleh lembaganya.
“Serangan yang cukup mendadak itu sebetulnya sudah kita antisipasi,” ujar Nostalgiawan dikutip dari Tribunnews.
Nostalgiawan menilai tujuan utama Presiden AS Donald Trump bukanlah negosiasi damai, tetapi justru menghancurkan fasilitas nuklir dan melemahkan sistem militer Iran secara strategis.
Ia menilai narasi diplomasi yang dibangun hanyalah upaya menenangkan publik dunia.
Sementara itu, Purnawirawan Laksamana Muda TNI Iskandar Sitompul menyatakan bahwa isu pengayaan uranium di Iran harus dipahami sebagai ancaman nyata dalam konteks pertahanan dan keamanan global, bukan sekadar polemik politik semata.
Dikutip dari Tribunnews, Iskandar mengungkap adanya indikasi kuat terkait kepemilikan uranium dalam jumlah signifikan di Iran.
“Data intelijen sudah mengatakan 440 kilo ada di sana,” ujar Iskandar dalam program Rakyat Bersuara yang tayang di kanal YouTube iNews pada Rabu (4/3/2026).
Angka ini, menurutnya, sangat mengkhawatirkan jika dibandingkan dengan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima—yang menggunakan sekitar 60 kilogram uranium.
“Kalau 60 kilo saja bisa menghancurkan Hiroshima, 440 kilogram bisa membuat 10 sampai 12 bom seperti Hiroshima dan Nagasaki. Inilah yang dikhawatirkan sekali,” tegasnya.
Kendati memberi peringatan keras terhadap potensi konflik, Iskandar menekankan bahwa perang harus dipandang sebagai opsi terakhir setelah semua jalur diplomasi ditempuh.
“Perang adalah terakhir. Yang pertama adalah diplomasi,” katanya.
Iskandar juga mengingatkan bahwa konflik bersenjata sering kali muncul akibat pelanggaran perjanjian internasional, termasuk perjanjian pembatasan senjata nuklir.
Ia menyinggung fakta bahwa pengakuan atas kepemilikan senjata nuklir sejauh ini hanya diberikan kepada beberapa negara tertentu, sementara negara lain berada di luar struktur tersebut.
Sebagai mantan prajurit yang telah mengabdi selama 40 tahun, Iskandar berbicara dalam kerangka profesional militer. Ia juga menilai media memiliki peran penting dalam mengimbangi informasi intelijen yang seringkali tertutup.
“Media itu kadang‑kadang lebih cepat daripada intelijen,” ujarnya.
Iskandar percaya bahwa jika diplomasi telah dijalankan secara maksimal namun tetap menemui kebuntuan, maka eskalasi konflik menjadi risiko yang sulit dihindari.
Namun demikian ia kembali menegaskan pentingnya menaati regulasi dan perjanjian internasional.
“Bilamana kita semuanya baik‑baik saja, saya yakin negara kita aman‑aman,” tambahnya.
Baca juga: Analisis Andi Widjajanto Sebut Nuklir Bisa Cegah Perang Dunia III, AS-Israel dan Iran Takut Hancur
Baca juga: Rocky Gerung Nilai Prabowo Subianto Tak Mungkin Ubah Trump yang Anggap Iran Mainan
Baca juga: Iran Tak Mudah Tumbang, Andi Widjajanto Sebut Taktik Perang Asimetrik Bisa Jadi Senjata Pamungkas