Kapal Perang Iran Diduga Diserang Kapal Selam Misterius di Perairan Sri Lanka
Noval Andriansyah March 05, 2026 12:19 AM

Tribunlampung.co.id, Colombo - Kapal perang milik Iran dikabarkan tenggelam diduga karena diserang kapal selam misterius saat berada di dekat perairan Sri Lanka.

Angkatan laut Sri Lanka kemudian menyelamatkan 32 orang dari kapal fregat Iris Dena yang berawak 180 orang setelah dilaporkan mengirimkan panggilan darurat Rabu(4/3/2026) pagi ini sekitar 25 mil selatan pelabuhan Galle.

Seorang pejabat pertahanan mengatakan bahwa tim penyelamat terus melakukan pencarian.

"Tetapi kami belum tahu apa yang terjadi pada awak kapal lainnya," ujar Pejabat tersebut.

Masih belum jelas berapa banyak orang yang berada di atas kapal, atau apa penyebab tenggelamnya kapal tersebut.

Baca juga: IRGC Klaim Sudah Tewaskan 100 Prajurit AS, 17 Kapal Perang Iran Hancur

Namun diduga kapal milik Iran itu diserang kapal selam asing.

IRIS Dena merupakan fregat kelas Moudge yang beroperasi dalam Armada Selatan Angkatan Laut Iran.

Hingga kini, otoritas Sri Lanka belum mengonfirmasi apakah kapal perang Iran tersebut benar-benar diserang.

Sebelum insiden tersebut, kapal perang Iran itu diketahui baru saja mengikuti latihan angkatan laut multinasional Milan 2026 serta parade armada yang digelar di Visakhapatnam, India.

Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran sejak Sabtu.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta 786 orang lainnya, termasuk sejumlah siswi sekolah.

Sebagai balasan, Teheran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan lokasi yang terkait dengan Amerika Serikat di negara-negara kawasan Teluk, yang menyebabkan sejumlah korban jiwa.

Enam personel militer Amerika Serikat dilaporkan tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka.

Klaim Tewaskan 100 Prajurit AS

Memasuki hari kelima perang terbuka Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel, kedua kubu saling melancarkan serangan keras berhias klaim-klaim kerusakan yang diterima lawan masing-masing.

Pada Rabu (4/3/2025), Markas besar Garda Revolusi Iran di Khatam al-Anbiya mengklaim kalau serangan Garda Revolusi menargetkan 160 pasukan infanteri AS di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).

IRGC mengklaim serangan itu menewaskan 100 personel AS di pangkalan militer yang ada di negara tersebut.

Pernyataan Markas Besar IRGC menambahkan:

"Garda Revolusi menargetkan pasukan infanteri AS di Kuwait dengan puluhan drone perusak, dan juga menargetkan pangkalan AS di wilayah Sheikh Isa di Bahrain dengan rudal dan drone".

Sebagai catatan, klaim ini belum terverifikasi. Sejauh ini pihak Amerika Serikat menyatakan kalau korban jiwa dari pasukan AS yang berada di Kawasan Teluk karena serangan Iran hanya berjumlah enam personel.

CENTCOM: 17 Kapal Perang Iran Hancur

Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan kalau pasukannya telah menghancurkan 17 kapal Iran sebagai bagian dari operasi yang sedang berlangsung.

Selain itu, CENTCOM AS menyatakan kalau pasukan AS telah membom hampir 2.000 target di dalam Iran.

Dampak serangan masif AS tersebut, kata CENTCOM, membuat tidak ada satu pun kapal Iran yang berlayar di Teluk Arab, Selat Hormuz, atau Teluk Oman saat ini.

Pernyataan Komando Pusat AS juga menambahkan bahwa pasukan AS telah secara signifikan melemahkan pertahanan Iran, menghancurkan ratusan rudal, platform peluncuran, dan drone.

"Sejauh ini CENTCOM AS mencatat kalau Iran telah meluncurkan lebih dari 500 rudal balistik dan lebih dari 2.000 drone," kata pernyataan itu.

Komandan Komando Pusat mengkonfirmasi kalau pasukan AS menargetkan untuk menenggelamkan seluruh angkatan laut Iran.

Demi target perang tersebut,  CENTCOM AS menyebut kalau AS mengerahkan 50.000 tentara dan 200 jet tempur, selain dua kapal induk dan pesawat pembom, ikut serta dalam operasi tersebut.

Pertempuran Hari Kelima, Israel Invasi Lebanon

Garda Revolusi Iran mengatakan telah meluncurkan lebih dari 40 rudal ke sasaran AS dan Israel pada Rabu seiring berlanjutnya perang melawan Iran.

Garda Revolusi juga mengumumkan dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu bahwa mereka telah "menguasai sepenuhnya" Selat Hormuz, yang sangat penting bagi perdagangan minyak global, di pintu masuk Teluk Persia.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Selasa kalau Angkatan Laut AS mampu mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz "jika diperlukan."

Korban Jiwa Sipil di Kuwait

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Kuwait mengumumkan kalau korban jiwa dan kerugian material tercatat akibat pecahan peluru yang jatuh di sebuah rumah setelah mencegat target udara, Rabu pagi.

Kementerian Kesehatan Kuwait menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa seorang gadis berusia 11 tahun tewas akibat tertimpa reruntuhan di daerah pemukiman di provinsi ibu kota.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Kuwait, Abdullah Al-Sanad, mengatakan bahwa "Rumah Sakit Al-Amiri menerima... kasus cedera seorang gadis berusia 11 tahun yang tinggal di negara itu, akibat pecahan peluru yang jatuh di daerah pemukiman di Kegubernuran Ibu Kota."

Dia menambahkan bahwa "upaya penyelamatan dilakukan di dalam ambulans saat anak itu diangkut ke rumah sakit, dan upaya penyelamatan berlanjut selama hampir setengah jam setelah tiba di Rumah Sakit Al-Amiri, tetapi dia meninggal akibat luka tersebut."

Kementerian Pertahanan Arab Saudi melaporkan telah mencegat dua rudal dan sebuah drone di Provinsi Timur, serta sembilan drone lainnya segera setelah memasuki wilayah udara negara tersebut.

Kemudian, kementerian tersebut mengatakan bahwa dua rudal jelajah dicegat dan dihancurkan di kota Al-Kharj, 100 kilometer tenggara Riyadh. Ditambahkan bahwa sebuah drone juga dicegat dan dihancurkan di Provinsi Timur.

Israel Bombardir Iran

Di sisi lain, tentara pendudukan Israel mengatakan bahwa mereka menargetkan direktorat pasokan dan logistik pasukan darat Iran, serta menghancurkan platform peluncur rudal Iran.

Militer Israel juga mengumumkan bahwa mereka telah melancarkan serangan udara terhadap "puluhan" pusat komando keamanan Iran pada hari Rabu, menargetkan berbagai lokasi di ibu kota, Teheran.

Dalam sebuah pernyataan, militer menjelaskan bahwa "Angkatan Udara Israel melakukan gelombang serangan tambahan yang menargetkan pusat-pusat komando milik rezim teroris Iran di Teheran," termasuk lokasi-lokasi milik keamanan internal dan pasukan mobilisasi Basij yang terkait dengan Garda Revolusi.

Menteri Pertahanan Israel Yisrael Katz mengancam para pemimpin Iran dengan lebih banyak pembunuhan.

Katz mengatakan, "Setiap komandan yang ditunjuk oleh rezim Iran akan menjadi target langsung pembunuhan." Dia menambahkan, "Kami telah menginstruksikan tentara untuk mempersiapkan dan menggunakan segala cara untuk melakukan pembunuhan."

Menteri Pertahanan Israel mengindikasikan bahwa "menargetkan para pemimpin rezim Iran adalah bagian dari tujuan Operasi Lion's Roar... Kami akan terus bekerja sama dengan mitra Amerika kami untuk menghancurkan kemampuan rezim Iran dan menciptakan kondisi bagi rakyat untuk menggulingkannya dan menggantinya," katanya.

Invasi Israel di Lebanon

Pendudukan Israel melancarkan serangan brutal di pinggiran selatan Beirut di Lebanon pada Rabu pagi, dan mengeluarkan peringatan kepada 30 kota dan desa di selatan negara itu untuk mengevakuasi penduduk mereka sebagai persiapan untuk pemboman, dengan dalih memantau aktivitas Hizbullah Lebanon.

Juru bicara militer meminta warga kota dan desa tersebut untuk segera mengosongkan rumah mereka dan pindah setidaknya satu kilometer dari tempat tinggal mereka.

Serangan udara Israel yang dahsyat menargetkan sebuah bangunan di Haret Hreik di pinggiran selatan Beirut pada Rabu pagi, dan pasukan pendudukan melancarkan serangan lain di daerah Hadath di pinggiran selatan juga.

Militer Israel mengatakan telah mulai menyerang infrastruktur Hizbullah di pinggiran selatan.

Evakuasi karyawan Amerika

Departemen Luar Negeri AS mengumumkan pada hari Rabu evakuasi sejumlah karyawannya dari Pakistan dan Siprus.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan telah memerintahkan staf non-esensial di konsulatnya di Karachi dan Lahore untuk meninggalkan Pakistan bersama keluarga mereka karena masalah keamanan.

Kedutaan Besar AS di Pakistan menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa "Departemen Luar Negeri telah memerintahkan personel pemerintah AS yang tidak penting dan anggota keluarga staf pemerintah AS dari konsulat AS di Lahore dan Karachi untuk meninggalkan Pakistan karena risiko terhadap keselamatan mereka."

Amerika Serikat juga mengumumkan pada hari Rabu bahwa mereka telah mengizinkan personel non-esensialnya untuk meninggalkan Siprus, tempat pangkalan militer Inggris diserang oleh Iran pada Senin pagi.

Kedutaan Besar AS di Siprus menyatakan bahwa Departemen Luar Negeri "mengizinkan personel pemerintah AS yang tidak penting" dan keluarga mereka "untuk meninggalkan Siprus" karena alasan keamanan.

Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu pagi lalu, memicu perang yang hingga kini telah menewaskan ratusan orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan para pejabat keamanan Iran.

Teheran merespons dengan meluncurkan rudal dan drone ke arah Israel dan apa yang mereka sebut sebagai "pangkalan Amerika" di negara-negara di kawasan itu, tetapi beberapa di antaranya menyebabkan kematian dan cedera serta menimbulkan kerusakan material.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.