Mojtaba Lebih Keras dari Khamenei
Sukmawati Ibrahim March 05, 2026 02:05 AM

HL TRIBUN TIMUR, KAMIS (5/3/2026)

Mojtaba Lebih Keras dari Khamenei

*Suksesi Kedua Pemimpin Tertinggi Iran Sejak Revolusi 1979

MAKASSAR, TRIBUN - Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei (56) figur berpengaruh di balik layar dalam struktur kekuasaan Iran.

Mojtaba putra kedua mendiang Ayatollah Ali Hosseini Khamenei (86), pemimpin tertinggi Iran sejak 1989 hingga wafat pada 28 Februari 2026.

Selama hampir empat dekade, Ali Khamenei memegang otoritas tertinggi di Republik Islam Iran.

Profesor Vali Nasr, pakar Iran dan Islam Syiah di Universitas Johns Hopkins, mengatakan pemilihan Mojtaba akan menjadi pilihan mengejutkan dan memiliki arti penting. “Dia telah lama dijadwalkan menjadi pengganti,” kata Prof Nasr.

“Tetapi selama dua tahun terakhir, sepertinya dia hilang dari radar. Jika dia terpilih, ini menunjukkan sisi rezim Garda Revolusi yang lebih keras kini memegang kendali,” jelas Prof Nasr.

Sepeninggal Ali Khamenei, kekosongan kepemimpinan memicu dinamika politik yang cepat di Teheran.

Assembly of Experts atau Majelis Para Ahli dilaporkan telah menetapkan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru.

Keputusan tersebut diambil untuk mengisi kekosongan kekuasaan setelah kematian Khamenei dalam serangan udara pekan lalu.

“Mojtaba adalah pilihan paling bijaksana saat ini karena dia sangat akrab dengan pengelolaan dan koordinasi aparat keamanan dan militer,” kata Mehdi Rahmati, seorang analis di Tehran.

“Dia sudah memimpin ini sebelumnya,” Rahmati menambahkan.

Meski begitu, tidak semua orang akan senang. “Sebagian masyarakat akan bereaksi negatif dan keras terhadap keputusan ini, dan hal itu akan menimbulkan backlash,” jelas Rahmati.

Nama Mojtaba bukan sosok asing di lingkaran elite. Ia dikenal memiliki kedekatan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), institusi militer yang berpengaruh besar dalam struktur politik dan keamanan Iran.

Meski tak pernah memegang jabatan pemerintahan formal, pengaruh Mojtaba disebut terus menguat dari tahun ke tahun.

Ia dikenal tertutup, jarang tampil di ruang publik, dan hampir tak pernah menyampaikan pidato seperti ayahnya.

Namun, penunjukan Mojtaba memunculkan kekhawatiran. Sejumlah pihak menilai status barunya berpotensi menjadikannya target utama dalam eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat-Israel.

Di tengah situasi krisis dan ketegangan kawasan, sebagian pengamat menilai Mojtaba memiliki karakter lebih tegas dan keras dibanding ayahnya.

Suksesi Kedua 

Kandidat lain yang mencuat sebagai finalis adalah Alireza Arafi, seorang ulama dan ahli hukum yang masuk dalam dewan transisi kepemimpinan beranggotakan tiga orang pasca wafatnya Ali Khamenei.

Nama Seyed Hassan Khomeini, cucu pendiri Revolusi Islam Ruhollah Khomeini, juga disebut sebagai kandidat kuat.

Baik Arafi maupun Hassan Khomeini dipandang sebagai tokoh yang relatif moderat.

Hassan Khomeini dikenal memiliki kedekatan dengan faksi reformis yang selama ini terpinggirkan dalam dinamika politik Iran.

Di Iran, pemimpin tertinggi tidak dipilih langsung oleh rakyat. Jabatan ini ditentukan oleh sebuah badan khusus bernama Assembly of Experts atau Majelis Ahli.

Majelis Ahli terdiri dari 88 ulama senior yang dipilih publik setiap delapan tahun sekali. Namun proses pencalonannya ketat.

Setiap kandidat anggota Majelis harus lolos pemeriksaan dan mendapat persetujuan dari Guardian Council, dewan pengawas yang sebagian anggotanya ditunjuk langsung oleh Pemimpin Tertinggi.

Jika jabatan Pemimpin Tertinggi kosong karena wafat atau mundur, Majelis Ahli segera bersidang untuk menentukan pengganti melalui pemungutan suara sederhana. Mekanisme ini cukup untuk menetapkan pemimpin tertinggi yang baru.

Sesuai konstitusi Iran, kandidat harus seorang ahli hukum senior dengan pemahaman mendalam tentang yurisprudensi Islam Syiah.

Selain itu, ia juga harus memiliki penilaian politik yang matang, keberanian, serta kemampuan administratif.

Di Iran, posisi Pemimpin Tertinggi atau Rahbar merupakan otoritas tertinggi negara. Jabatan ini mengendalikan lembaga-lembaga utama, termasuk militer dan peradilan.

Rahbar juga bertindak sebagai Panglima Tertinggi angkatan bersenjata serta memiliki kewenangan mengambil keputusan strategis dalam urusan pemerintahan, militer, sosial, hingga kebijakan luar negeri.

Iran menjadi salah satu dari sedikit negara di dunia di mana pemimpin agama memegang kekuasaan politik tertinggi.

Perannya kerap disandingkan dengan Paus di Vatikan, yang memiliki otoritas keagamaan sekaligus pemerintahan.

Sejak Revolusi Islam 1979, hanya dua tokoh pernah menduduki jabatan tersebut, yakni Ruhollah Khomeini dan Ali Khamenei. Ali Khamenei menjabat selama 37 tahun sejak 1989, menggantikan Ruhollah Khomeini.

Keberadaan Presiden, Parlemen, Guardian Council, maupun Assembly of Experts tidak mengurangi dominasi otoritas Pemimpin Tertinggi dalam struktur politik Iran.(tribunnews.com/kompas.com)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.