TRIBUNNEWS.COM - Ramadan merupakan bulan yang paling dinantikan umat Islam, bulan yang di dalamnya tersimpan nilai spiritual, pengendalian diri, dan penguatan hubungan dengan Allah SWT.
Selama Ramadan, setiap Muslim yang baligh dan mampu diwajibkan menjalankan puasa, yakni menahan diri dari makan, minum, serta segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Ibadah ini tidak hanya berdimensi fisik, tetapi juga melatih kesabaran, kejujuran, serta empati kepada mereka yang kekurangan.
Dalam menjalankan puasa, ketepatan waktu menjadi hal yang sangat penting.
Karena itu, umat Islam berpedoman pada jadwal imsakiyah, yaitu panduan waktu harian yang memuat informasi tentang imsak, waktu salat lima waktu, hingga waktu berbuka puasa.
Imsak menjadi pengingat agar kaum Muslim menghentikan makan dan minum sebelum masuknya waktu Subuh, sementara azan Maghrib menandai berakhirnya puasa pada hari tersebut.
Bagi masyarakat di Pangkalpinang, jadwal imsakiyah bukan sekadar informasi rutin, tetapi pegangan penting untuk menata aktivitas selama Ramadan.
Dengan mengetahui waktu yang akurat, umat Islam dapat mempersiapkan sahur tepat waktu, menunaikan salat dengan disiplin, serta berbuka puasa sesuai syariat.
Ketertiban dalam mengikuti jadwal ini menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas ibadah agar tetap khusyuk dan penuh keberkahan di bulan suci.
Mengutip dari kanal Ramadan Kebaikan Melokal, berikut rincian waktu imsak dan sholat:
Baca juga: Meraih Pahala Besar di Bulan Ramadan 1447 H dengan Kekuatan Sabar
Dengan jadwal tersebut, umat Muslim dianjurkan menyelesaikan santap sahur sebelum pukul 04.38 WIB sebagai bentuk kehati-hatian.
Masuknya waktu Subuh pada pukul 04.48 WIB menandai dimulainya puasa hari itu.
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هٰذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna hâdzihis sanati lillāhi ta‘ālā.
Artinya:
“Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadan tahun ini karena Allah Ta’ala.”
(Beberapa ulama, khususnya dalam mazhab Maliki, membolehkan niat di awal Ramadan untuk satu bulan penuh)
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ كُلِّهِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma syahri Ramadhāna kullihi lillāhi ta‘ālā.
Artinya:
“Aku niat berpuasa selama satu bulan Ramadan penuh karena Allah Ta’ala.”
Niat dalam puasa bukan sekadar formalitas, melainkan penegasan bahwa ibadah dilakukan semata-mata karena Allah SWT.
Dengan niat yang benar, puasa memiliki nilai ibadah yang sah dan berpahala.
Pertama, niat menegaskan kesungguhan hati dalam menjalankan perintah agama, dikutip dari baznas.go.id.
Puasa tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi bentuk ketaatan yang disadari sepenuhnya.
Kedua, niat membedakan puasa Ramadan dari aktivitas menahan makan biasa, seperti diet atau alasan kesehatan.
Unsur ibadah terletak pada tujuan yang diniatkan.
Ketiga, sahur yang disertai niat memiliki keberkahan tersendiri.
Selain memberi kekuatan fisik, sahur juga menjadi pembeda antara puasa umat Islam dan praktik puasa lainnya.
Agar puasa sah secara syariat, niat perlu diperhatikan dengan baik:
(Tribunnews.com/Farra)