TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Geliat ekonomi kreatif di Bali bakal memasuki babak baru melalui momentum Musyawarah Cabang (Muscab) serentak dan Musyawarah Wilayah (Muswil), Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) Provinsi Bali.
Gekrafs Bali resmi melakukan penyegaran kepemimpinan sekaligus mempertegas visi besarnya, salah satunya menjadikan karya seni lokal seperti Ogoh-ogoh bukan sekadar simbol ritual, melainkan aset ekonomi yang diakui secara global.
Ketua DPW Gekrafs Bali, Ari Setiya Wibawa, mengungkapkan bahwa agenda besar pemilihan ketua di sembilan kota dan kabupaten di Bali dilakukan untuk memperkuat sinergi para pelaku industri kreatif dengan pemerintah, terutama dalam mengimbangi peran Kementerian Ekonomi Kreatif.
Namun, di balik konsolidasi organisasi tersebut, ada misi besar yang sedang diperjuangkan, yakni perlindungan kekayaan intelektual atau Intellectual Property (IP).
Baca juga: Muscab PDIP Tabanan, Kader Muda Menguat dan PAC Ditetapkan Serentak, Ini Nama Namanya
Ari menekankan bahwa tantangan utama para seniman Bali saat ini adalah bagaimana menghargai karya mereka secara hukum melalui HAKI (Hak Kekayaan Intelektual).
Selama ini, banyak seniman seperti muralis hingga pelukis yang karyanya mudah ditiru tanpa ada kompensasi yang layak.
Dengan mendorong transformasi digital dan pendaftaran IP, karya seni tersebut dapat memiliki nilai valuasi yang diakui oleh perbankan sebagai jaminan modal usaha.
Secara khusus, Ari menyoroti potensi besar yang selama ini tersembunyi dalam tradisi Bali, yakni Ogoh-ogoh. Baginya, kreativitas tanpa batas para seniman Ogoh-ogoh harus segera naik kelas ke ranah industri yang lebih profesional dan luas.
"Potensi kita yang paling penting untuk digerakkan bersama adalah Ogoh-ogoh. Ini menjadi sebuah modal di mana kita memiliki banyak sekali karya kreasi dari para seniman kita," kata Ari saat dijumpai Tribun Bali di Dharma Negara Alaya Denpasar, pada Rabu 4 Maret 2026
"Tapi kenapa kemudian ogoh-ogoh ini tidak bisa dipresentasikan dan menjadi produk yang ada di bandara, ada di mana-mana, bahkan worldwide di seluruh dunia? Inilah yang perlu kita dorong," sambungnya.
"Bagaimana kita melakukan studi agar ogoh-ogoh menjadi sesuatu yang memang berpotensi dikembangkan menjadi nilai usaha. Ujung-ujungnya adalah scale up dari bisnis kreatif itu sendiri," jabar Ari.
Upaya ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Wakil Ketua Umum DPP Gekrafs, Laja Lapian.
Ia melihat bahwa Bali sejatinya adalah tolak ukur ekonomi kreatif di Indonesia.
Menurutnya, tantangan terbesar Gekrafs saat ini adalah memberikan penghargaan yang setara bagi pelaku kreatif lokal agar tidak kalah saing dengan pelaku dari luar negeri.
Laja menyebutkan bahwa Bali memiliki keunggulan karena ekosistem promosi dan kreativitasnya sudah berjalan dengan sangat baik.
Keberhasilan Bali inilah yang rencananya akan direplikasi ke provinsi-provinsi lain di Indonesia.
Apalagi, subsektor ekonomi kreatif terus berkembang, dari 17 menjadi berpotensi 24 subsektor, termasuk masuknya modifikasi otomotif yang kini digandrungi generasi Z dan memiliki potensi ekspor yang menjanjikan.
Namun, kembali pada akar budaya, penguatan identitas lokal melalui IP tetap menjadi prioritas utama.
Gekrafs Bali saat ini tengah dalam proses menjembatani para anggotanya agar karya-karya mereka dapat diterima sebagai alat ukur jaminan oleh lembaga keuangan seperti OJK dan Bank Indonesia melalui program inkubasi 'Craf-lab'.
Dengan kepengurusan baru yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Bali, Gekrafs berharap para seniman tidak lagi hanya bergerak secara offline, tetapi mulai merambah dunia digital dengan perlindungan IP yang kuat.
Harapannya, di masa depan, dunia tidak hanya mengenal Ogoh-ogoh sebagai bagian dari parade malam pengerupukan, tetapi juga sebagai produk kreatif bernilai tinggi yang menghiasi ruang-ruang publik internasional.
"Bali justru merupakan tolak ukur kita sebenarnya, karena saya yakin pelaku ekonomi kreatif di sini sangat luar biasa banyak, sehingga sebenarnya dari semua provinsi PR-nya lebih mudah Bali ya," kata Laja.
"Karena promosinya sudah jalan dan segala macamnya. Nah, ini kita mau mencoba menduplikasi, mereplikasi apa yang dilakukan oleh teman-teman pelaku ekonomi kreatif di Bali itu sendiri terhadap provinsi-provinsi yang lain," pungkasnya. (*)