TRIBUNKALTIM.CO - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan stok bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji aman menjelang Idulfitri 2026, meski situasi geopolitik di Timur Tengah memanas akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pemerintah menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap pasokan energi selama periode Lebaran.
Jaminan tersebut disampaikan di tengah ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Jika jalur ini terganggu, distribusi minyak global berpotensi terdampak signifikan.
"BBM kita untuk menjelang hari raya Idul Fitri, Insya Allah semua aman, termasuk dengan elpiji. Jadi enggak perlu ada keraguan sekalipun ada dinamika global di Iran dan Israel," ungkapnya kepada awak media di kantor Kementerian ESDM, Selasa (3/3/2026).
Baca juga: Harga Emas Batangan di Balikpapan Hari Ini Turun Jadi Rp3,091 Juta per Gram
Bahlil juga memastikan tidak ada kenaikan harga BBM bersubsidi hingga Hari Raya Idul Fitri yang diprediksi jatuh pada 21-22 Maret 2026.
Tetapi, untuk BBM non-subsidi, Bahlil menyiratkan potensi fluktuasi harga.
"Untuk harga BBM non-subsidi itu memang mekanisme pasar dan itu sesuai dengan Permen tahun 2022 daripada ESDM," ungkapnya.
Sementara pada jumpa pers, Bahlil menyebut stok elpiji dan BBM dipastikan aman hingga lebih 21 hari ke depan.
"Kita tahu bahwa standar minimum nasional adalah 21 hari. Ini semuanya di atas 21 hari," ungkapnya.
Bahlil juga menyatakan, pemerintah telah menyiapkan skenario terburuk atas pasokan minyak mentah atau crude oil untuk mengantisipasi berlanjutnya konflik antara AS-Israel dengan Iran.
Salah satu solusi yang diambil adalah mengalihkan impor crude ke AS dari Timur Tengah.
Menurut dia, penutupan Selat Hormuz oleh Iran berisiko mengganggu distribusi minyak ke pasar dunia dan situasi itu disebut tidak dapat diprediksi kapan akan berakhir.
Bahlil menyebut, apabila krisis terhadap pasokan minyak berlangsung lama, maka pemerintah menyiapkan strategi pengalihan sumber impor minyak mentah demi memastikan pasokan dalam negeri tetap tersedia tanpa gangguan distribusi.
Menurut dia, sebanyak 20-25 persen impor minyak mentah Indonesia selama ini berasal dari kawasan Timur Tengah.
"Dengan berbagai macam dinamika yang ada, alhamdulillah ternyata setelah tadi kita detailing, dari total impor crude kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20-25 persen."
"Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brazil," tuturnya.
Baca juga: Stok BBM dan LPG Diklaim Aman 19 Hari, DPRD Kaltara Soroti Antrean di SPBU
Akan tetapi, kerentanan terhadap proses distribusi dari Timur Tengah tersebut dinilai masih bisa dikelola melalui menambah opsi pemasok.
Karena itu, Bahlil menyatakan, pemerintah memutuskan mengambil kemungkinan untuk mengambil crude dari AS.
"Nah, dalam rangka itu kami mengambil alternatif terjelek, katakanlah ini lambat. Maka apa skenarionya? Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Middle East, sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika. Supaya apa? Ada kepastian ketersediaan crude kita," ucap dia.
Meski begitu, Bahlil memastikan, selain AS, pemerintah juga membuka peluang memperluas kerja sama dengan negara lain yang lebih stabil secara geopolitik. (*)