TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - "Guru besar Universitas Muslim Indonesia sudah berjumlah 117 orang," kata Ketua Dewan Profesor UMI sekaligus Ketua Pengawas Yayasan Wakaf UMI, Prof Mansyur Ramly.
"Menurut angka statistik UMI perguruan tinggi swasta di Indonesia yang terbanyak profesornya,” lanjutnya.
Hal tersebut disampaikan Prof Mansyur Ramly dalam sambutannya saat pengukuhan guru besar Auditorium Al Jibra Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI), Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Kamis (5/4/2026).
Ada dua guru besar yang dikukuhkan.
Pertama, Prof Amir Mahmud, Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Kedua, Prof Adnan Lira Guru Besar Hukum Tata Guna Tanah dan Tata Ruang Fakultas Hukum.
Prosesi pengukuhan diawali dengan pidato pengukuhan kedua guru besar.
Prof Amir Mahmud membawakan pidato berjudul Green Marketing Dalam Perspektif Global dan Berkelanjutan.
Sementara Prof Adnan Lira membawakan pidato berjudul Menata Keadilan Ruang: Integrasi Hal Atas Tanah dan Zonasi Ruang di Indonesia.
Pidato disaksikan anggota senat, tamu undangan, dan keluarga.
Lalu prosesi pemasangan kalung kehormatan oleh Rektor UMI Prof Hambali Thalib kepada dua guru besar.
Kemudian dilanjutkan tanda tangan sebagai serah terima penerimaan sebagai anggota dewan profesor UMI.
Dengan bertambahnya dua profesor baru, UMI kini memiliki 117 profesor.
Angka tersebut terbanyak di wilayah Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) IX Sulawesi Selatan, Barat, dan Tenggara (Sultanbatara) dan di Indonesia untuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS).
Prof Mansyur Ramly dalam kesempatan itu mengajak para profesor UMI untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang berbasis dengan pendekatan epistemologi Islam.
“Karena kita ini perluan tinggi Islam, sehingga semua aktivitas kita seharusnya berbasis dengan nilai-nilai Islam,” kata Prof Mansyur Ramly.
Bukan Sekadar Seremoni Akademik
Rektor UMI, Prof Hambali Thalib dalam kesempatan itu mengatakan, pengukuhan guru besar bukan sekadar seremoni akademik, tetapi momentum penting untuk menegaskan peran ilmu pengetahuan dalam menentukan arah peradaban.
Menurutnya, momentum tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan intelektual universitas dalam menjawab berbagai tantangan global.
“Hari ini kita tidak sekadar mengukuhkan dua guru besar, tetapi kita sedang menegaskan posisi ilmu, apakah hanya mengikuti arus sejarah atau menjadi penentu masa depan peradaban,” kata Prof Hambali.
Guru Besar Fakultas Hukum ini menilai pengukuhan tersebut menjadi momen strategis dalam perjalanan akademik UMI.
Dalam sambutannya, Prof Hambali juga menyinggung situasi global yang penuh ketidakpastian.
Ia menyebut konflik antara Rusia dan Ukraina telah mengguncang stabilitas energi dan pangan dunia.
Selain itu, dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran turut menunjukkan bahwa faktor geopolitik masih sangat memengaruhi harga minyak dan arah ekonomi global.
“Kita hidup dalam lanskap global yang rapuh namun bergerak sangat cepat. Dunia saat ini berada dalam ketidakpastian yang kompleks,” katanya.
Prof Hambali berharap kehadiran para guru besar tersebut dapat memperkuat kontribusi akademik UMI dalam menghasilkan gagasan dan solusi terhadap berbagai persoalan bangsa dan dunia. (*)