Laporan Joanita Ary
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA - Republik Islam Iran tengah bersiap melepas kepergian Pemimpin Tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, yang gugur dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir pekan lalu (28/2/2026).
Di tengah suasana duka jelang prosesi pemakaman sang mendiang di kota suci Mashhad, konstelasi politik Iran langsung bergejolak dengan munculnya sosok calon kuat penerus takhta.
Dari Tanah Air, Pemerintah Indonesia melalui Presiden Prabowo Subianto turut menunjukkan empati dan sikap diplomasi yang tegas atas tragedi yang berpotensi mengubah wajah geopolitik Timur Tengah ini.
Baca juga: Hancurkan Sistem Rudal THAAD yang Dibanggakan Washington, Iran Klaim Tewaskan 500 Tentara AS
Sumpah Mojtaba Khamenei: "Berjuang untuk Kehormatan"
Di saat jutaan rakyat Iran menanti prosesi pemakaman di Mashhad—kota yang dikenal sebagai pusat spiritual Syiah sekaligus kota terbesar kedua di Iran—sebuah pesan kuat datang dari Mojtaba Ali Khamenei.
Putra kedua dari mendiang Ali Khamenei ini kini santer disebut oleh berbagai media internasional sebagai kandidat terkuat untuk menggantikan sang ayah.
Mojtaba, yang dilaporkan lolos dari maut karena sedang tidak berada di kompleks kediaman saat rudal menghantam Teheran, muncul ke publik pada Kamis (5/3/2026).
Melalui akun X @Iran_Agency, ulama yang dikenal memiliki garis keras ini menyampaikan sumpah setianya kepada rakyat Iran di tengah huru-hara yang ditimbulkan AS dan sekutunya.
“Dengan nama Allah, salam kepada rakyat Iran yang gagah berani dan tetap tegar di masa-masa sulit,” kata Mojtaba dalam pernyataannya.
Sosok yang memiliki pengaruh besar di balik layar dan kedekatan kuat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) ini menegaskan bahwa jika tampuk kepemimpinan jatuh ke tangannya, Iran tidak akan mundur selangkah pun.
“Saat kami mengemban kepemimpinan ini, kami berjanji untuk mengikuti jalan para martir kami, berjuang untuk kehormatan, kebebasan, dan martabat,” pesannya.
Jika Mojtaba benar-benar disahkan sebagai Pemimpin Tertinggi, banyak analis menilai dominasi faksi garis keras di pemerintahan Iran akan semakin tak tertandingi, memperkecil peluang negosiasi damai dengan negara Barat dalam waktu dekat.
Pesan Duka dan Solidaritas dari Presiden Prabowo
Sementara suhu konflik di Timur Tengah kian memanas, Pemerintah Indonesia mengambil langkah diplomasi yang elegan.
Menjelang prosesi pemakaman di Mashhad, Presiden RI Prabowo Subianto secara khusus mengirimkan surat dukacita yang ditujukan langsung kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan bahwa surat tersebut ditulis langsung oleh Presiden Prabowo sebagai wujud solidaritas dan penghormatan Indonesia atas wafatnya tokoh sentral Iran tersebut.
“Presiden Prabowo Subianto menulis surat dukacita atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang gugur dalam serangan militer pada awal Maret 2026,” ujar Teddy dalam keterangan tertulisnya, Kamis (5/3/2026).
Penyerahan surat bersejarah tersebut dilakukan melalui jalur diplomatik pada Rabu (4/3/2026), di mana Menteri Luar Negeri Sugiono menyerahkannya langsung kepada Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi.
Dalam suratnya, Presiden Prabowo menyampaikan simpati yang mendalam serta harapan agar rakyat Iran diberikan kekuatan dan ketabahan dalam melewati masa duka nasional ini.
Bagi diplomasi Indonesia, langkah ini menegaskan komitmen untuk terus menjaga hubungan persahabatan bilateral yang stabil dengan Iran—yang mencakup sektor ekonomi, energi, hingga pendidikan.
Teddy juga menambahkan bahwa di tengah dinamika global yang tak menentu ini, Pemerintah Indonesia membawa harapan besar bagi stabilitas kawasan. Harapannya, eskalasi di Timur Tengah dapat tetap terkendali dan tidak melebar menjadi konflik global yang lebih destruktif usai wafatnya Khamenei.