Indeks Pembangunan Literasi di Sleman Merosot
Yoseph Hary W March 05, 2026 06:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kabupaten Sleman yang wilayahnya menjadi tempat berdirinya puluhan perguruan tinggi, tengah menghadapi tantangan serius dalam pembangunan literasi. 

Berdasarkan data statistik tahun 2025, nilai Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kabupaten Sleman menurun. Sleman hanya memeroleh nilai 11,14 yang menjadikannya berada di urutan keempat dibanding Kabupaten/Kota di DIY.

Angka tersebut juga menurun drastis dibanding tahun sebelumnya, 76,97. 

Tren penurunan ini juga sejalan dengan merosotnya tingkat kegemaran membaca (TGM) yang terjadi di seluruh wilayah DIY. Hampir semua Kabupaten/Kota di DIY tingkat kegemaran membacanya turun di angka 50 dari sebelumnya 75-80.

TGM Sleman kalah dari Kulon Progo dan Bantul

Tingkat kegemaran membaca di Kabupaten Sleman tahun 2025 hanya mencapai 55,07 atau merosot satu tingkat dari tahun sebelumnya peringkat kedua di DIY dengan nilai 82,81.

Tahun 2025 ini, tingkat kegemaran membaca Kabupaten Sleman menempati urutan ketiga, kalah dari Kulon Progo dan Bantul. 

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Kabupaten Sleman, Shavitri Nurmala Dewi mengaku tidak mau mencari kambing hitam terkait penurunan tingkat kegemaran membaca di Sleman ini.

Pengaruh internet

Namun, menurut dia, suka atau tidak, penurunan terjadi karena keaktifan dan penggunaan internet yang cukup tinggi. Hal ini membuat kecenderungan anak-anak untuk membaca buku secara konvensional atau fisik menurun. 

"Kalau didalam survei, memang ada pilihan. Membaca buku dari buku konvensional atau dari internet, e-book gitu ya. Tapi mungkin ini menjadi perhatian bagi pendidik dan kita semua, bagaimana anak-anak kita itu mencari sumber referensinya dari internet. Jika dulu, kita mengetahui sesuatu dengan mencari dari buku, tapi anak sekarang menggunakan chat-gpt ataupun gemini,"kata Shavitri, Kamis (5/3/2026). 

Ia mengungkapkan bahwa penurunan ini menjadi perhatian dirinya bersama pegawai di Dinas Perpustakaan dan Arsip untuk segara mengambil langkah. Meskipun, target literasi masyarakat Sleman di tahun 2025 ternyata menunjukkan tren positif bahkan berhasil melampaui target dari 54,04 menjadi 67,18.

Hal ini menunjukkan kesadaran literasi masyarakat meningkat, namun infrastruktur dan sistem pendukung pembangunan literasi perlu kembali diperkuat. 

Shavitri mengatakan, ada beberapa stategi yang disiapkan. Antara lain dengan penguatan kegiatan literasi melalui penguatan perpustakaan desa dan digitalisasi kearsipan menyeluruh. Ia menargetkan di 2030, kearsipan seluruh perangkat daerah di kabupaten Sleman dan institusi pendidikan sudah terdigitalisasi. Dinas juga mengoptimalkan program Sleman baca melalui program Digital Literacy Corner (DLC) yang memberikan layanan perpustakaan atau e-Library. 

35 Taman Bacaan Masyarakat 

Kemudian, literasi berbasis komunitas yang kini telah ada 35 Taman Bacaan Masyarakat di Sleman. Menurut Shavitri, pihaknya juga telah mengajukan penambahan armada untuk menjalankan program Jaka Tingkir atau Jelajah Perpustakaan Menuju Literasi yang Terkini dan Responsif. Armada dibutuhkan untuk memenuhi tingginya permintaan dari ratusan sekolah di Sleman yang kini belum terlayani secara maksimal. 

Inovasi di ruang publik dan layanan edukatif juga terus digencarkan, dengan pemanfaatan kafe salam literasi dan pojok baca di lingkungan kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Sleman. Harapannya dapat menarik kembali minat generasi muda melalui kegiatan komunitas yang lebih inklusif. Kemudian program Jumat ceria dan Cerita Dongeng Literasi atau Cendol Manis. 

"Cendol manis ini kami mengundang pendongeng. Jadi di Sleman ini ada beberapa pendongeng juga yang peduli pada pembinaan karakter pendidikan di SD dan SMP. Sehingga harapan kami dengan pengundang pendongeng ini terkait dengan peningkatan wawasan kebangsaan, budi pekerti ini bisa masuk pada anak-anak melalui dongeng," kata Shavitri. 

Lebih lanjut, Mantan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Sleman ini juga menginginkan agar ada transformasi arsip daerah menjadi semacam Diorama Sleman yang interaktif sebagai sarana edukasi sejarah bagi masyarakat.

Ia berkomitmen menjadikan perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan sebagai pusat inovasi yang mampu mengakomodir setiap kegiatan literasi. Simbol semangat ini disimbolkan melalui peluncuran logo baru yang menandai tekad Sleman untuk bangkit dan unggul dalam pembangunan literasi nasional.

"Logo ini memaksa kami untuk lebih naik literasi di Sleman. Meskipun indeks pembangunan literasinya turun tapi kami bertekad bahwa kabupaten Sleman 2030 adalah pionir literasi masa depan," harapnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.