Warga Kolaka Keluhkan Bau Bangkai Paus Sperma di Pesisir Totobo, Tercium hingga 400 Meter
Amelda Devi Indriyani March 05, 2026 07:04 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Warga Kolaka Sulawesi Tenggara (Sultra), mengeluhkan bau bangkai paus sperma di pesisir Desa Totobo, Kecamatan Pomalaa.

Bangkai paus dengan nama latin physeter macrocephalus itu pertama kali ditemukan warga setempat, Selasa (3/3/2026).

Hingga hari ini, Kamis (5/3/2026), bangkai mamalia laut tersebut belum dievakuasi, masih tampak dari jalan raya.

Warga, Acat mengeluhkan aroma tak sedap tercium hingga kejauhan 400 meter.

Baca juga: Bangkai Paus Sperma di Pesisir Kolaka Sulawesi Tenggara Bakal Ditenggelamkan ke Luat Dalam

"Baunya kayak pergi di empang, terus banyak ikan mati, nah begitu baunya, busuk," ujarnya kepada TribunnewsSultra.com, Kamis sore.

Dari foto yang diterima TribunnewsSultra.com, terlihat warga memadati jembatan di dekat pesisir Desa Totobo.

Bahkan pengendara juga ikut menepi melihat bangkai paus.

warga penasaran lihat bangkai paus sperma di pesisir Desa Totobo Pomalaa Kolaka
PAUS TERDAMPAR DI KOLAKA - Warga dan pengendara menepi di dekat jembatan Desa Totobo, Kecamatan Pomalaa, Kolaka Sulawesi Tenggara (Sultra), Kamis (5/3/2026). Warga menyaksikan bangkai paus sperma yang terdampar di pesisir Desa Totobo yang belum dievakuasi sejak Selasa (3/3/2026).

Dari jembatan tersebut, bagian atas paus sperma yang sebagian badannya terendam air laut itu terlihat jelas.

Pomalaa dapat ditempuh melalui jalur darat naik motor atau mobil dari Kota Kendari, ibu kota Provinsi Sultra.

Jaraknya sekira 170 kilometer atau menempuh perjalanan 5-6 jam berkendara.

Bangkai Paus Bakal Ditenggelamkan ke Laut Dalam

Rencana evakuasi bangkai paus yang terdampar, bakal diitenggelamkan ke laut dalam.

Hal itu disampaikan Kepala Seksi Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSL) Sultra, Jufri melalui WhatsApp, Rabu (4/3/2026).

Baca juga: Kronologi Warga Temukan Paus Sperma Terdampar di Pesisir Desa Totobo Kolaka Sulawesi Tenggara

Dia menjelaskan, penanganan bangkai hewan mamalia laut raksasa ini dibagi menjadi tiga cara yaitu dikubur, dibakar, atau ditenggelamkan.

Metode penguburan atau land burial dilakukan di lokasi saat air laut surut dengan menggunakan alat berat.

Bangkai dikubur sedalam mungkin, minimal 2-3 meter, untuk mencegah dibongkar hewan liar maupun kembali hanyut terbawa air laut.

Selain itu, terdapat metode pembakaran yang dilakukan secara bertahap apabila kondisi lokasi tidak memungkinkan untuk penguburan, terutama di kawasan pasang surut.

Adapun metode penenggelaman atau sea burial dilakukan dengan cara menarik bangkai ke laut dalam, kemudian diberi pemberat agar dapat tenggelam.

Baca juga: Kronologi Lumba-lumba Terdampar di Pantai Komba-komba Muna Sulawesi Tenggara Viral Disembelih Warga

Namun sebelum ditenggelamkan, gas yang terdapat di dalam tubuh paus harus dikeluarkan terlebih dahulu untuk menghindari risiko ledakan.

"Metode tersebut disesuaikan dengan kondisi lokasi terdamparnya, untuk di Kolaka cara yang bisa dilakukan yaitu menarik bangkai ke tengah laut," kata dia.

"Harus jauh dari aktivitas nelayan dan diberikan pemberat supaya tidak hanyut," jelasnya saat dikonfirmasi TribunnewsSultra.com.

Saat ini, BPSL sedang berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kolaka terkait penanganannya.

Sebab, evakuasi paus itu memerlukan kapal besar untuk menarik bangkainya ke laut lepas.(*)

(TribunnewsSultra.com/Wa Ode Ika Ria Hasana/Apriliana Suriyanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.