TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Gubernur Bali Wayan Koster dan Walikota Denpasar, Jaya Negara dan Bupati Badung, Adi Arnawa hadiri rapat koordinasi (rakor) membahas permasalahan sampah dan TPA Suwung bersama Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq di Gedung Wiswa Sabha, Kamis 5 Maret 2025.
Ketika ditemui usai rapat, Koster menjelaskan rapat tersebut masih seputar bagaimana mengelola sampah dari hulu atau sumber.
“Soal bagaimana mengelola di hulu dengan melakukan pemilahan secara masif di masing-masing rumah tangga, itu poinnya,” jelas, Koster.
Baca juga: TPA Suwung Tutup Perlahan, Mulai April Hanya Menerima Sampah Anorganik, Ini Kata Menteri LH Hanif
Baca juga: MEGAWATI Sangat Kehilangan Sosok Ida Bhagawan Blebar Gianyar, Datang Melayat ke Puri Agung Gianyar!
Kebijakan yang disarankan oleh Menteri LH, yakni sosialisasi penhelolaan sampah yang harus dilakukan secara massif dalam waktu 1 bulan. Ia juga mengatakan penutupan pasti kapan TPA Suwung belum diputuskan hingga saat ini.
“Belum, tunggu saja dulu. Masih (beroperasi),” pungkasnya.
Penutupan TPA Suwung Diundur hingga Juli 2026
Penutupan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung, Kota Denpasar akhirnya ditunda hingga Juli 2026. Penundaan ini pun akan dimanfaatkan Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar untuk melakukan akselerasi penanganan sampah dari sumber.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar, I Wayan Tagel Sidartha mengatakan, ke depan sampah organik harus selesai di rumah tangga. Dengan pemilahan yang baik sejak awal, penanganan sampah akan jauh lebih mudah dan volume sampah yang dibuang ke TPA bisa ditekan.
“Bulan ini benar-benar kita kebut. Semua desa dan lurah sudah dikumpulkan bapak Wali Kota untuk mempersiapkan pembagian komposter ke masing-masing keluarga. Sekalian juga akan dilakukan sosialisasi cara penggunaannya ke seluruh kepala keluarga,” katanya.
Namun, pihaknya tetap menunggu arahan dari menteri sambil melihat perkembangan di lapangan. Menurut Sidartha, dalam masa transisi ini Kementerian Lingkungan Hidup (LH) akan memantau langsung progres penanganan sampah dari sumber. Bahkan, menteri dijadwalkan berkunjung ke Denpasar pada Rabu (4/3) untuk melihat langsung implementasi di lapangan.
“Agendanya mulai dari bersih-bersih pagi, lalu meninjau Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) dan beberapa desa yang sudah menerima komposter bag. Mau dilihat sejauh mana efektivitasnya,” katanya.
Komposter bag yang sudah dibagikan akan dievaluasi penggunaannya. Jika hasilnya dinilai baik, program tersebut akan diperluas. Karena itu, Wali Kota Denpasar juga telah menekankan kepada desa dan kelurahan agar lebih serius menggerakkan penanganan sampah dari sumber.
Selama masa penghentian pembuangan ke TPA, TPS menjadi tumpuan yang membuat sampah meluber. Namun dengan pelonggaran ini, sampah yang terkumpul dan terpilah sudah sebagian dialihkan ke Pusat Daur Ulang (PDU) dan TPS3R. Beberapa TPS terjadi kelebihan atau meluber, sampah tersebut sementara masih masuk ke TPA Suwung.
“Saat ini sekitar 30 persen sampah sudah berhasil ditangani dari sumber. Angka ini harus terus dinaikkan supaya sampah yang masuk ke TPA makin sedikit. Harapannya ke depan sampah tidak lagi dibuang ke TPA, atau minimal hanya residu yang benar-benar tidak bisa diolah,” katanya.
Sementara itu, deretan truk pengangkut sampah swakelola Bali tampak di pinggir Jalan Serangan hingga TPA Suwung Denpasar. Deretan truk sampah tersebut mengantre membuang sampah ke TPA Suwung, Senin (2/3) yang sebelumnya sempat ditutup satu hari pada Minggu (1/3).
Salah satu supir truk pengangkut sampah swakelola Bali, Rinto (22) mengungkapkan ia sempat menginap di jalan untuk membuang sampah.
“Kemarin kami menginap di sini dari kemarin pagi sampai sekarang baru dibuka katanya kemarin ditutup. Mau demo lalu batal, dibilang tidak usah demo masuk seperti biasa,” jelasnya ketika ditemui di TPA Suwung, Senin (2/3).
Lebih lanjut ia mengungkapkan syukur dan terima kasih karena TPA Suwung tetap dibuka kembali dan pembuangan sampah dapat dengan lancar kembali. “Saya mengambil sampah di daerah pariwisata di Seminyak, sampah yang diambil sampah organik dan non organik ini sampah campur yang dibawa,” imbuhnya.
Selama cuaca buruk berlangsung di Bali, Rinto mengatakan pembuangan sampah ke TPA Suwung Denpasar dilakukan hanya dua kali dalam waktu seminggu.
“Pembuangannya pakai truk ini hanya dua kali karena macet dan cuacanya kurang bagus. Baru lancar pagi ini (kemarin) pembuangannya kemarin ditutup tetapi tidak ada informasi dari petugas TPA, makanya kemarin datang ke sini, ternyata tutup dari pagi sampai tadi (kemarin) baru dibuka,” pungkasnya.
Hal senada dikatakan Forum Swakelola Sampah Bali (FSSB) I Wayan Suarta. Menurutnya, sejak pagi kemarin, aktivitas pembuangan sampah di TPA Suwung telah kembali berjalan.
Armada swakelola pengangkut sampah mulai masuk ke area TPA. Meski demikian, kendaraan operasional berpelat merah milik pemerintah disebut belum terlihat hingga pagi hari.
“Dari tadi pagi pergerakan swakelola sudah mulai masuk. Biasanya pelat merah masuk lebih awal, tapi tadi belum terlihat,” katanya.
Untuk sementara, sampah yang dibuang masih dalam kondisi tercampur antara organik dan non-organik. Edukasi dan sosialisasi pemilahan sampah dari sumber disebut menjadi agenda yang diharapkan berjalan sebelum batas waktu Juni. “Masih tercampur. Mungkin nanti sampai Juni ini diedukasi agar sampah diselesaikan dari sumber dan dipilah,” imbuhnya. (*)