Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) bahkan terpaksa tutup akibat terputusnya pasokan energi global menyusul perang di Timur Tengah
PROHABA.CO, YANGON - Antrean panjang kendaraan mengular di berbagai wilayah Myanmar pada Rabu (4/3/2026).
Para pengendara berupaya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) yang stoknya kian menipis.
Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) bahkan terpaksa tutup akibat terputusnya pasokan energi global menyusul perang di Timur Tengah.
Serangan AS-Israel terhadap Iran selama akhir pekan dan perang yang lebih luas di seluruh Timur Tengah telah menghambat pasokan minyak.
Kondisi ini memukul telak Myanmar yang menggantungkan 90 persen kebutuhan bbm melalui impor.
Negara ini sebenarnya telah lama bergelut dengan rantai pasokan energi yang rapuh akibat perang saudara sejak kudeta militer lima tahun silam.
Separuh kendaraan pribadi dilarang beroperasi
Dikutip dari AFP, junta militer telah melarang separuh dari kendaraan pribadi beroperasi di jalan setiap hari.
Baca juga: Mojtaba Khamenei Terpilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Ini Sosoknya
Baca juga: Stasiun CIA Amerika Serikat di Riyadh Diserang Drone, Diduga dari Iran
Pembatasan tersebut akan diterapkan berdasarkan nomor plat kendaraan mulai akhir pekan ini guna menghemat cadangan bahan bakar nasional.
Juru bicara junta, Zaw Min Tun mengatakan, Myanmar memiliki stok bahan bakar yang cukup untuk 40 hari.
"Pembatasan lalu lintas dimaksudkan untuk memastikan negara tersebut mampu mengatasi kesulitan minyak yang dihadapi dunia dengan menggunakannya secara sistematis," ujarnya.
Namun, di kota terbesar, Yangon, seorang jurnalis AFP melihat sekitar 50 kendaraan mengantre di luar masing-masing dari lima SPBU yang mereka kunjungi pada Rabu.
Beberapa SPBU tutup
Negara tetangga Thailand mengatakan telah mengamankan pasokan minyak untuk dua bulan ke depan tetapi akan menangguhkan ekspor untuk menghemat cadangannya.
Baca juga: Bupati Haili Yoga Imbau Warga Tak Panic Buying BBM, Stok di Aceh Tengah Dipastikan Aman
Di tempat lain di kawasan itu, SPBU di ibu kota Laos yang mengimpor hampir seluruh minyak dan bensinnya dari Thailand, dipenuhi antrean kendaraan yang berhenti sepanjang Senin (2/3/2026).
Bangkok dengan cepat mengumumkan pengecualian untuk Laos, meredakan pembelian panik.
Pada Rabu pagi, antrean mobil dan sepeda motor telah menghilang dari halaman depan SPBU di Vientiane.
Namun di kota perbatasan Myanmar, Tachileik, seorang reporter AFP melihat tanda-tanda pasokan lintas batas dari Thailand telah terputus.
Beberapa stasiun bensin ditutup pada Rabu setelah lonjakan harga hingga tiga kali lipat sehari sebelumnya.
Di luar gerbang sebuah SPBU yang tutup, puluhan pengendara sepeda motor masih mengantre dengan penuh harap.
Kendaraan listrik, bus, taksi, kendaraan barang, layanan darurat, dan truk sampah akan dikecualikan dari aturan baru junta.
Akan tetapi, belum jelas bagaimana aturan tersebut akan ditegakkan mengingat sebagian besar wilayah negara berada di tangan faksi pemberontak.(*)