Iran Klaim Hancurkan Pangkalan Tentara Bayaran yang Didukung AS di Perbatasan
Faisal Zamzami March 06, 2026 12:36 AM

 

SERAMBINEWS.COM, TEHERAN – Pemerintah Iran mengklaim telah melancarkan serangan terhadap kelompok yang disebut sebagai “teroris separatis” yang berupaya memasuki wilayah perbatasan barat negara tersebut.

Serangan ini diumumkan oleh Kementerian Intelijen Iran pada Kamis (5/3/2026).

Menurut laporan yang dikutip dari CNN, Teheran menuding kelompok tersebut mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat (AS).

Iran menyatakan operasi militer itu dilakukan sebagai respons terhadap ancaman keamanan di kawasan perbatasan.

Ledakan tersebut diduga terkait dengan operasi yang dilancarkan oleh aparat keamanan Iran.

Dalam pernyataan bersama, Kementerian Intelijen Iran dan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan bahwa serangan tersebut berhasil menghancurkan sebagian besar fasilitas dan pangkalan kelompok yang mereka sebut sebagai “tentara bayaran”.

Iran juga mengklaim operasi itu menimbulkan kerugian besar bagi kelompok tersebut.

Serangan ini terjadi di tengah laporan yang menyebutkan bahwa Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) tengah berupaya mempersenjatai pasukan Kurdi. Upaya tersebut disebut-sebut bertujuan untuk memicu pemberontakan di dalam wilayah Iran.

Beberapa sumber yang mengetahui rencana tersebut menyebutkan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump terlibat dalam diskusi dengan kelompok oposisi Iran serta para pemimpin Kurdi di Irak mengenai kemungkinan pemberian dukungan militer.

Hingga saat ini belum ada tanggapan resmi dari pihak Amerika Serikat maupun kelompok Kurdi terkait klaim yang disampaikan oleh pemerintah Iran tersebut.

Baca juga: Iran Klaim Luncurkan Rudal Khoramshahr-4 ke Tel Aviv, Bawa Hulu Ledak 1 Ton

Bantahan Pemerintah Regional Kurdistan

Menanggapi situasi tersebut, Pemerintah Regional Kurdistan (KRG) di Irak membantah laporan yang menyebut mereka terlibat dalam rencana mempersenjataan oposisi Iran.

Juru bicara pemerintah, Peshawa Hawramani, menyatakan bahwa laporan tersebut sama sekali tidak berdasar.

"Pemerintah Regional Kurdistan dan partai-partai politik di dalamnya bukanlah bagian dari kampanye apa pun untuk memperluas perang dan ketegangan di kawasan ini," tegas Hawramani dalam pernyataan resminya.

Dia menambahkan informasi mengenai keterlibatan KRG sengaja disebarkan secara jahat dan terencana.

"Sebaliknya, kami menyerukan perdamaian dan stabilitas di kawasan ini. Kami mengutuk keras serangan pengecut yang menargetkan Wilayah Kurdistan, dan menyerukan kepada pemerintah federal serta komunitas internasional untuk turun tangan menghentikan serangan ini demi melindungi tanah, rakyat, dan wilayah kami," lanjutnya.

Saat ini, ribuan pasukan dari kelompok bersenjata Kurdi Iran memang beroperasi di sepanjang perbatasan Irak-Iran. 

Sejak AS melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026), beberapa kelompok tersebut telah merilis pernyataan yang mengisyaratkan akan adanya aksi militer dalam waktu dekat.

Namun, upaya untuk mempersenjatai kelompok-kelompok ini dipandang sangat berisiko karena membutuhkan izin transit senjata melalui wilayah Kurdistan Irak. 

Seorang pejabat senior KRG yang enggan disebutkan namanya mengakui posisi sulit yang mereka hadapi.

"Ini sangat berbahaya, tapi apa yang bisa kami lakukan? Kami tidak bisa melawan Amerika," ungkap pejabat tersebut kepada CNN.

Hingga saat ini, Kementerian Intelijen Iran mengeklaim terus memantau area perbatasan secara ketat dan bekerja sama dengan warga Kurdi di dalam wilayah Iran untuk menjaga stabilitas domestik.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.