Syahrul Qur’an
Irfani Rahman March 06, 2026 08:47 AM

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA

Ulama Kalimantan Selatan

BANJARMASINPOST.CO.ID- RAMADAN dikenal sebagai bulan Al-Qur’an. Umat Islam membaca Al-Qur’an lebih banyak dari bulan-bulan biasa, masing-masing berupaya mengkhatamkan Al-Qur’an, baik secara perorangan maupun secara berjemaah. Hal ini diistilahkan dengan “tadarus”, kendati sebenarnya tadarus berati study; mempelajari dan mendalami Al-Qur’an dari segi isi dan kandungannya disitilahkan pula dengan tadabbur.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu ’Abbas ra., ia berkata: “Nabi SAW adalah orang yang paling gemar memberi. Semangat beliau dalam memberi lebih membara lagi ketika bulan Ramadan dan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadan.

Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul SAW adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Hadits di atas menunjukkan bahwa kaum muslimin dianjurkan untuk banyak mempelajari Al-Qur’an pada bulan Ramadan dan berkumpul untuk mempelajarinya.

Hafalan Al-Qur’an pun bisa disetorkan pada orang yang lebih hafal darinya. Dalil tersebut juga menunjukkan dianjurkan banyak melakukan tilawah Al-Qur’an di bulan Ramadan.

Abu Hurairah ra. mengatakan “Jibril itu (saling) belajar Al-Qur’an dengan Nabi SAW setiap tahun sekali (khatam). Ketika di tahun beliau akan meninggal dunia dua kali khatam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pula beri’tikaf setiap tahunnya selama sepuluh hari. Namun di tahun saat beliau akan meninggal dunia, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR Bukhari)

Di antara alasan bahwa bulan Ramadan adalah bulan Al-Qur’an yaitu dibuktikan dengan bacaan ayat Al-Qur’an yang begitu banyak dibaca di salat malam di bulan Ramadan dibanding bulan lainnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah salat bersama sahabat Hudzaifah di malam Ramadan, lalu beliau membaca surat Al-Baqarah, surat An-Nisa’ dan surat Ali ‘Imran. Jika ada ayat yang berisi ancaman neraka, maka beliau berhenti dan meminta perlindungan pada Allah dari neraka.

Begitu pula ‘Umar bin Khattab pernah memerintahkan kepada Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Daari untuk mengimami shalat tarawih. Dahulu imam salat tersebut membaca 200 ayat dalam satu rakaat.

Sampai-sampai ada jemaah yang berpegang pada tongkat karena saking lama berdirinya. Dan salat pun selesai dikerjakan menjelang fajar. Di masa tabi’in yang terjadi, surat Al-Baqarah dibaca tuntas dalam 8 rakaat. Jika dibaca dalam 12 rakaat, maka berarti salatnya tersebut semakin diperingan. (Lihat Lathaif Al-Ma’arif)

Banyak cerita dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala yang mengisahkan tentang para ulama yang mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan lebih banyak daripada bulan lainnya. Seorang ulama yang bernama Al-Aswad bin Yazid, seorang ulama besar tabi’in yang meninggal dunia tahun 74 atau 75 Hijriyah di Kufah bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadan setiap dua malam.

Al-Aswad juga biasa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam enam malam. Patut diketahui bahwa ternyata waktu istirahat beliau untuk tidur hanya antara Maghrib dan Isya.

Seorang ulama di kalangan tabi’in yang bernama Qatadah bin Da’amah yang meninggal dunia tahun 60 atau 61 Hijriyah. Beliau adalah salah seorang murid dari Anas bin Malik ra. Beliau ini disanjung oleh Imam Ahmad bin Hambal sebagai ulama pakar tafsir dan paham akan perselisihan ulama dalam masalah tafsir.

Sampai-sampai Sufyan Ats-Tsauri mengatakan bahwa tidak ada di muka bumi ini yang semisal Qatadah. Salam bin Abu Muthi’ pernah mengatakan tentang semangat Qatadah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Ia berkata “Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari.

Namun jika datang bulan Ramadhan, ia mengkhatamkannya setiap tiga hari. Bahkan ketika datang sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, ia mengkhatamkannya setiap malam.”

Begitu pula cerita tentang Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i yang kita kenal dengan Imam Syafi’i, salah satu ulama madzhab terkemuka. Disebutkan oleh muridnya, Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata “Imam Syafi’i biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali.” Ditambahkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa khataman tersebut dilakukan dalam shalat”.

Ada lagi seorang ulama pakar hadits dari negeri Syam yang bernama Ibnu ‘Asakir, anaknya yang bernama Al-Qasim menceritakan tentang ayahnya ““Ibnu ‘Asakir adalah orang yang biasa merutinkan shalat jamaah dan tilawah Al-Qur’an.

Beliau biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekannya. Lebih luar biasanya di bulan Ramadan, beliau mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari. Beliau biasa beri’tikaf di Al-Manarah Asy-Syaqiyyah. Beliau adalah orang yang sangat gemar melakukan amalan sunnah dan rajin berdzikir.” (Lihat Siyar A’lam An-Nubala)

Jika para ulama bisa mengkhatamkan Al-Qur’an lebih banyak daripada bulan lainnya, bagaimanakah dengan kita hari ini? adakah kita betul-betul meluangkan waktu kita yang sebenarnya diberikan waktu yang sama 24 jam oleh Allah SWT seperti para ulama terdahulu? ataukah kita hanya membacanya disaat diperlukan saja? apakah ketika kematian saja? lebih ironi ada sebuah rumah muslim, ketika ada penghuni rumah itu yang meninggal, baru diketahui di rumah itu tidak ada kitab suci Al-Qur’an.

Wahai shaimin-shaimat janganlah engkau sia-siakan Ramadanmu berlalu begitu saja tanpa membaca Al-Qur’an sedikitpun. Ya Al-Qur’an tidak memberikan materi tapi ia memberikan keberkahan hidup. Keberkahan yang datang dari Nur Ilahi ke dalam hati setiap insan, sehingga hidupnya selalu dibanjiri dengan kebaikan-kebaikan. Wallahua’lam. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.