BOLASPORT.COM – Eks pemain Inter Milan, Radja Nainggolan, buka-bukaan soal alasannya tak pernah mau gabung Juventus, di mana salah satunya berkaitan dengan wasit Italia.
Pemain keturunan Indonesia itu dikenal sebagai salah satu pemain top yang pernah bermain di kasta tertinggi Liga Italia, Serie A.
Pamornya sebagai salah satu gelandang top di Serie A membuat Radja Nainggolan sempat dilirik oleh Juventus di masa silam.
Namun sepanjang kariernya, pria yang kini berusia 37 tahun itu hanya membela dua klub top Italia, yakni AS Roma dan Inter Milan.
Tercatat, pria yang akrab disapa Radja itu membela AS Roma selama empat tahun, yakni sejak 2014 hingga 2018.
Setelahnya, pemain yang pernah membela Bhayangkara FC itu bergabung Inter Milan pada musim pans 2018 dan bertahan semusim saja sebelum dipinjamkan.
Selain dua klub top itu, Radja Nainggolan juga pernah bermain di klub Italia lainnya seperti Piacenza dan juga Cagliari.
Soal pengalamannya di Liga Italia, Radja mengaku bisa bergabung klub mana pun di negara yang identik dengan Pizza itu.
Namun dari semua klub itu, dirinya tak akan pernah mau bergabung Juventus karena dua alasan khusus.
Alasan pertama adalah alasan personal di mana Radja Nainggolan merasa bergabung klub yang berjuang menjadi juara lebih menantang ketimbang bergabung klub yang selalu juara.
Di masa pirmanya, Juventus adalah klub yang selalu juara. Baginya hal tersebut tak menantang seperti halnya saat membela AS Roma.
"Saya suka Football Manager, dan saya tidak pernah bergabung dengan tim terbaik," buka Radja, dikutip BolaSport.com dari Tuttomercato.
"Ketika klub seperti Roma memenangkan Scudetto, itu adalah perayaan selama dua puluh tahun, sementara di Juve Anda harus memenangkannya setiap tahun," lanjutnya.
Selain alasan tersebut, Radja punya alasan lain mengapa dirinya tak pernah mau merapat ke klub berjulukan I Bianconeri itu.
Pemain yang kini membela Patro Eisden itu mengklaim Si Nyonya Tua sering dibantu wasit, sehingga dirinya tak mau merapat ke Turin.
"Ada masalah dengan wasit. Saya mengalaminya sendiri. Saat Stadion Juventus dibuka, saya bermain di sana melawan Cagliari," tambahnya.
"Saya ingat sebuah pertandingan di mana kami bermain imbang 1-1 dengan penalti yang sebenarnya tidak ada untuk Juve."
"Kemudian saya tiba di Roma, pertandingan pertama di Stadion Juventus, kami kalah 3-2 dengan dua penalti dari (pelanggaran di) luar kotak penalti."
"Semua orang melihatnya, itu benar, hanya saja tidak semua orang bisa mengatakannya. Dan dari situlah perasaan ini (benci Juventus) berasal," pungkasnya.
Selama berkarier di Italia, Radja Nainggolan tercatat berhadapan dengan tim Putih-Hitam tersebut sebanyak 19 kali.
Dari 19 pertemuan, pemain berdarah Batak itu hanya menang tiga kali, lima kali imbang, dan 11 kali menelan kekalahan.
Meski punya rekor buruk, Radja bisa membusungkan dada karena dirinya tercatat dua kali membobol gawang Juventus dari 19 pertemuan itu.