Cerita 3 Napi Banyuwangi Menulis Al-Quran Raksasa, Awalnya Tak Bisa Kaligrafi
Wiwit Purwanto March 06, 2026 10:32 AM

 

SURYA.co.id Banyuwangi - Para narapidana penghuni Lapas Kelas IIA Banyuwangi punya aktivitas baru saat Ramadan tahun ini. 

Mereka membaca Al-Quran berukuran besar mencapai tinggi 1 meter. Menariknya, Al-Quran itu merupakan buatan tiga napi di lapas tersebut.

Butuh Waktu 3 Tahun 

Pembuatan Al-Quran besar itu telah berlangsung sejak sekitar setahun lalu. Setiap hari, tiga warga binaan menorehkan tinta di atas kertas besar untuk merampungkan penulisan ayat-ayat Tuhan itu. 

Setelah jadi, Al-Quran besar itu menjadi salah satu sarana utama dalam bertadarus selama Bulan Suci.

Al-Quran besar itu dibuat dalam program pembinaan berbasis pondok pesantren di Lapas Banyuwangi tahun lalu. 

Baca juga: Khotmil Quran Di Kota Probolinggo Gunakan Al-Quran Raksasa, Butuh 2 Orang Untuk Buka Lembaran

Yang menarik, tiga warga binaan yang terlibat awalnya sama sekali tidak memiliki dasar ilmu menulis Al-Qur'an maupun kaligrafi.

Kemampuan tersebut mereka dapatkan melalui bimbingan intensif hasil kerja sama Lapas dengan pengrajin kaligrafi profesional.

Kepala Lapas (Kalapas) Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, menjelaskan, proses pengerjaan Al-Quran raksasa ini memakan waktu kurang lebih 10 bulan. 

Penulisan dimulai sejak momentum Ramadhan tahun lalu dan diselesaikan pada Ramadan tahun ini.

"Al-Quran ini adalah bukti keberhasilan pembinaan berbasis pondok pesantren kami. Meskipun para penulisnya berangkat dari nol tanpa keahlian kaligrafi, berkat ketekunan dan bimbingan pengrajin yang kami hadirkan, mereka mampu melahirkan mahakarya yang luar biasa ini," ujar Wayan, Kamis (5/3/2026).

Baca juga: Pameran Kaligrafi Seniman Kota Blitar, Meriahkan Momen Ramadan 2026

Wayan menyebut, aspek akurasi ayat menjadi prioritas mutlak. Sebelum digunakan secara resmi, naskah tersebut telah melalui proses tashih atau pemeriksaan mendalam oleh Pondok Pesantren Nur Cahaya Tarbiyatul Quran.

"Kami memastikan setiap huruf dan harakatnya benar. Setelah melalui proses tashih dan pemeriksaan ulang, dilakukan pembetulan pada bagian-bagian tertentu hingga akhirnya dijilid kembali untuk kedua kalinya guna memastikan kualitas fisik dan kerapiannya," sambungnya.

Pihaknya berharap karya itu akan membawa manfaat, berkah, serta memotivasi warga binaan lain untuk terus berkarya.

Chanafi, salah satu dari tiga penulis utama Al-Quran tersebut, mengatatakan, perjalanan selama 10 bulan menulis kalam illahi menjadi sarana refleksi dan pendewasaan spiritual yang berharga.

"Saya sangat bangga bisa menyelesaikan Al-Quran raksasa ini, apalagi saya memulainya dari tidak bisa sama sekali," kata dia.

Selama menulis, ia belajar banyak hal. Misalnya, ia menjadi lebih sabar dan lebih meresapi nilai-nilai luhur dari setiap ayat yang digoreskannya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.