TRIBUNBATAM.id - Perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran membuat negara di Timur Tengah terkena dampaknya.
Terutama setelah Iran melancarkan aksi balasan dengan menargetkan pangkalan militer AS di beberapa wilayah Timur Tengah.
Hal tersebut mengakibatkan ketegangan perang AS-Israel melawan Iran semakin meluas.
Rusia turut mengomentari perang AS-Israel melawan Iran yang berdampak ke negara sekitar.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut AS dan Israel berupaya menyeret negara-negara Arab ke dalam perang terhadap Iran.
AS dan Israel sengaja untuk memancing Iran agar menyerang pangkalan militer di Timur Tengah.
“Mereka sengaja memprovokasi Iran untuk melakukan serangan balasan terhadap target di beberapa negara Arab, yang mengakibatkan kerugian jiwa dan material, yang sangat disesalkan oleh pihak Rusia,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan, Kamis (5/3/2026).
“Dengan melakukan itu, mereka mencoba menyeret bangsa Arab ke dalam perang demi kepentingan pihak lain," lanjutnya.
Rusia lantas beranggapan bahwa cara untuk mencegah perang semakin melebar adalah AS dan Israel menghentikan agresi.
Meski demikian, hingga asaat ini belum ada pertanda bahwa kedua belah pihak akan menghentikan serangan.
Perang AS-Israel VS Iran
Sebagai informasi, AS dan Israel mulai menyerang Iran pada Sabtu, 28 Februari lalu dengan meluncurkan rudal ke berbagai wilayah Iran.
Pemicu AS-Iran melancarkan serangan karena tidak adanya kesepakatan jelas ketika perundingan nuklir putaran ketiga di Jenewa, Swiss, pada Kamis, 26 Februari 2026 lalu.
AS-Israel menuding Iran mengembangkan senjata nuklir melalui program nuklirnya.
Namun, Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa programnya bertujuan damai.
Tahun lalu, AS berulang kali mengancam akan mengambil “opsi militer” jika Iran tidak memenuhi tuntutan dalam perundingan.
Pada 22 Juni 2025, AS menyerang fasilitas nuklir Iran untuk membantu Israel dalam serangan selama 12 hari terhadap negara itu.
Meski hubungan semakin memanas setelah serangan tersebut, AS dan Iran kembali duduk di meja perundingan.
Oman yang menjadi mediator menyebut ada “kemajuan signifikan” dalam pembicaraan di Jenewa, namun kedua pihak gagal menyepakati poin-poin penting sehingga belum tercapai kesepakatan final dan pembahasan lanjutan direncanakan.
Harapan tercapainya kesepakatan pupus setelah AS dan Israel tiba-tiba kembali menyerang Iran pada Sabtu lalu, yang membuat Iran memutuskan mundur dari proses perundingan.
Baca juga: Isi Pertemuan Prabowo dengan Mantan Presiden soal Perang AS-Israel Vs Iran
Berikut perkembangan terkini perang AS-Israel VS Iran, menurut laporan Al Jazeera:
Lebih dari 1.045 Orang Tewas dalam Serangan AS-Israel di Iran
Pada hari ke-6 perang, media pemerintah Iran melaporkan jumlah korban tewas akibat serangan gabungan AS dan Israel selama lima hari pertama perang telah mencapai 1.045 orang, sementara lebih dari 6.000 orang lainnya terluka.
Pemerintah Iran juga menuduh serangan tersebut menyasar 33 lokasi sipil, termasuk rumah sakit, sekolah, kawasan permukiman, Pasar Besar Teheran, serta kompleks bersejarah Istana Golestan.
Di tengah situasi tersebut, nama Mojtaba Khamenei, putra dari mendiang pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, mulai disebut-sebut sebagai kandidat kuat untuk memegang posisi kepemimpinan tertinggi negara.
Ia disebut memiliki pengaruh besar di dalam pemerintahan serta hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Kapal Perang Iran Ditenggelamkan
Sebuah kapal selam Amerika Serikat dilaporkan menembakkan torpedo dan menenggelamkan fregat Iran IRIS Dena di Samudra Hindia, di lepas pantai selatan Sri Lanka.
Angkatan Laut Sri Lanka menyatakan telah menemukan 87 jenazah dari kapal tersebut dan menyelamatkan 32 orang.
Serangan Kurdi dan Ancaman Selat Hormuz
Kelompok bersenjata Kurdi-Iran dilaporkan mulai melancarkan serangan darat di wilayah barat laut Iran.
Sementara itu, pasukan Kurdi di Irak utara dilaporkan dalam status siaga, setelah pejabat AS meminta bantuan mereka untuk kemungkinan operasi militer lintas perbatasan.
Di sisi lain, IRGC mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.
Ancaman Iran terhadap kapal-kapal yang melintas membuat aktivitas pelayaran di wilayah tersebut hampir berhenti.
Ketegangan Meluas ke Negara Teluk
Iran melancarkan serangan balasan yang mengganggu aliran minyak regional di Timur Tengah.
Arab Saudi mengecam serangan drone Iran yang menargetkan Kedutaan Besar AS di Riyadh.
Di Qatar, pemerintah mengevakuasi warga yang tinggal di sekitar Kedutaan Besar AS di Doha sebagai langkah pencegahan.
Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, juga menghubungi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk pertama kalinya sejak konflik dimulai dan menyerukan penghentian segera perang.
Selain itu, sebuah ledakan dilaporkan terjadi di dekat kapal tanker di perairan Kuwait, sekitar 56 kilometer dari wilayah Mubarak al-Kabeer.
Israel Tingkatkan Serangan
Militer Israel mengumumkan gelombang baru serangan terhadap infrastruktur militer Iran di Teheran.
Pejabat Barat menyatakan bahwa serangan gabungan AS dan Israel telah berhasil menghancurkan sebagian besar kemampuan militer Iran.
Dengan supremasi udara yang diperoleh, jet tempur kedua negara kini disebut dapat terbang relatif bebas di atas wilayah Iran.
Meski demikian, Israel mulai sedikit melonggarkan aturan keselamatan masa perang di dalam negeri.
(TribunBatam.id)