Maunya Trump Ikut Tentukan Pemimpin Baru Iran, Sebut Putra Khamenei Tak Layak!
Joanita Ary March 06, 2026 01:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.

Ia menyatakan bahwa dirinya harus ikut terlibat dalam proses penentuan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, menggantikan Ayatollah Ali Khamenei.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Kamis (5/3/2026).

Dalam pernyataannya, ia secara tegas menolak kemungkinan Mojtaba Khamenei, putra dari Ali Khamenei, untuk menggantikan posisi ayahnya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.

Trump menyebut gagasan tersebut sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima. Ia bahkan menilai Mojtaba tidak memiliki kapasitas untuk memimpin negara yang selama ini menjadi salah satu rival utama Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

“Mereka membuang-buang waktu. Anak Khamenei itu tidak berkompeten. Saya harus terlibat dalam penunjukan tersebut, seperti halnya dengan Delcy (Rodriguez) di Venezuela,” ujar Trump dalam pernyataannya.

Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat menginginkan sosok pemimpin baru Iran yang mampu membawa stabilitas dan membuka jalan menuju perdamaian.

Menurut dia, keberlanjutan kepemimpinan yang mengikuti garis kebijakan keras dari pemimpin sebelumnya hanya akan memperpanjang konflik antara Iran dan Barat.

“Anak Khamenei tidak dapat diterima bagi saya. Kami ingin seseorang yang dapat membawa harmoni dan perdamaian ke Iran,” kata Trump.

Pernyataan Trump muncul di tengah situasi politik yang sangat sensitif di Iran setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan militer besar yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel beberapa waktu lalu.

Kematian pemimpin tertinggi Iran itu memicu ketidakpastian mengenai arah kepemimpinan negara tersebut.

Dalam sistem politik Republik Islam Iran, pemilihan Pemimpin Tertinggi sebenarnya merupakan kewenangan Majelis Ahli, sebuah lembaga ulama yang bertugas memilih dan mengawasi pemimpin tertinggi negara.

Namun konflik militer yang masih berlangsung membuat proses transisi kepemimpinan menjadi semakin kompleks dan sarat tekanan geopolitik.

Sejumlah pengamat sebelumnya menilai Mojtaba Khamenei sebagai salah satu kandidat kuat pengganti ayahnya.

Ulama tingkat menengah itu dikenal memiliki hubungan dekat dengan Garda Revolusi Iran (IRGC) serta memiliki pengaruh di kalangan elite politik dan keagamaan Iran.

Meski demikian, Trump menilai keberlanjutan kepemimpinan dari lingkaran keluarga Khamenei berpotensi memperburuk ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.

Ia bahkan memperingatkan bahwa memilih pemimpin yang tetap mengikuti garis kebijakan keras rezim sebelumnya dapat memicu konflik baru di masa depan.

Menurut Trump, jika Iran tetap dipimpin oleh tokoh yang mempertahankan kebijakan konfrontatif terhadap Barat, Amerika Serikat berisiko kembali terlibat dalam perang dengan Iran dalam waktu lima tahun mendatang.

Pernyataan tersebut menambah panjang daftar kontroversi kebijakan luar negeri Trump yang kerap dianggap terlalu jauh mencampuri urusan dalam negeri negara lain.

Di sisi lain, konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan sekutu-sekutunya masih terus berkembang dan telah meluas ke berbagai kawasan di Timur Tengah.

Hingga kini, Iran belum secara resmi mengumumkan siapa yang akan menggantikan posisi Pemimpin Tertinggi setelah wafatnya Ali Khamenei.

 Ketidakpastian tersebut membuat dinamika politik di Teheran terus menjadi sorotan dunia internasional.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.