SURYA.co.id, SURABAYA - Pemkot Surabaya mewaspadai dampak gejolak geopolitik global terhadap stabilitas ekonomi daerah.
Menyusul memanasnya situasi di Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan Surabaya menyiapkan sejumlah langkah antisipatif.
Baca juga: Pembelian BBM di Sejumlah SPBU Lamongan Meningkat, Polres Imbau Warga Tak Panic Buying
Eri menyampaikan hingga saat ini pemerintah daerah terus menjalin komunikasi antarinstansi.
Sambil menunggu arahan dari pemerintah pusat, pihaknya juga terus memantau perkembangan situasi global.
Menurut Eri, potensi ancaman inflasi telah dibahas berulang kali bersama seluruh pemangku kepentingan di Surabaya.
Pemkot Surabaya akan memantau perkembangan serta skala kenaikan harga hingga pekan depan sebagai langkah antisipatif.
Salah satu dampak yang diantisipasi adalah potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
"Ini sudah kita rapatkan berulang kali dengan semua stakeholder terkait kemungkinan inflasi," kata Cak Eri.
"Kita lihat skala harga sampai minggu depan. Karena dengan Selat Hormuz yang diblokir dan semakin masifnya perang ini, kami khawatir ketika harga minyak naik otomatis akan mempengaruhi harga semua barang di Indonesia, khususnya Surabaya,” ujarnya.
Ketua Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) ini menegaskan, prioritas Pemkot Surabaya adalah mencegah gejolak global tersebut menjalar menjadi lonjakan harga yang sulit dikendalikan di tingkat lokal.
Menurutnya, gejolak geopolitik dapat memicu kenaikan harga bahan bakar dan kebutuhan pokok.
“Yang menjadi perhatian utama kami adalah potensi dampak terhadap inflasi. Kondisi geopolitik bisa berpengaruh pada kenaikan harga bahan bakar dan kebutuhan pokok. Karena itu, kami akan memperkuat langkah-langkah pengendalian inflasi di daerah,” tegasnya.
Pemkot Surabaya akan mengintensifkan pemantauan harga di pasar, memperkuat koordinasi dengan distributor, serta memastikan ketersediaan stok bahan pokok tetap aman.
Selain itu, intervensi melalui Pasar Murah juga disiapkan sebagai langkah konkret menjaga daya beli masyarakat.
“Kita akan melakukan Pasar Murah. Kita juga akan menjaga inflasi agar di Surabaya tidak tinggi meskipun dengan kejadian global ini,” imbuhnya.
Seiring dengan itu, Pemkot Surabaya terus mencermati perkembangan situasi internasional dan menyiapkan langkah-langkah strategis demi menjaga stabilitas ekonomi serta ketenteraman masyarakat Kota Pahlawan.
“Yang terpenting bagi kami di daerah adalah menjaga stabilitas dan kondusivitas kota. Jangan sampai terjadi lonjakan harga yang tidak terkendali akibat situasi global,” lanjutnya.
Terkait pendataan warga Surabaya yang berada di luar negeri, Pemkot Surabaya telah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri.
Berdasarkan informasi yang diterima, warga Indonesia, termasuk warga Surabaya, dalam kondisi aman.
Eri juga memastikan tidak ada pejabat Pemkot Surabaya yang sedang menjalankan ibadah umrah di tengah situasi tersebut.
Di samping langkah pengendalian inflasi, ia kembali mengimbau masyarakat untuk mempertimbangkan kembali rencana perjalanan ke luar negeri yang tidak mendesak.
“Kepada masyarakat Surabaya, saya mengimbau agar mempertimbangkan kembali rencana perjalanan ke luar negeri yang tidak mendesak. Dengan melihat situasi saat ini, demi keamanan dan keselamatan, perjalanan tersebut bisa dijadwalkan ulang,” ujarnya.