TRIBUN-BALI.COM - Pemerintah memastikan cadangan pangan nasional masih dalam kondisi aman meski ketegangan geopolitik global memanas akibat konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Ketersediaan beras nasional bahkan diklaim cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga hampir 11 bulan ke depan.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut, total ketersediaan beras nasional per Maret 2026 mencapai 27,99 juta ton. Jumlah tersebut diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi selama 324 hari atau sekitar 10,8 bulan.
Amran mengatakan, kondisi stok yang kuat ditopang oleh produksi beras nasional yang masih berada di atas tingkat konsumsi. Produksi beras bulanan saat ini berada pada kisaran 2,6 juta ton hingga 5,7 juta ton, sementara konsumsi nasional sekitar 2,59 juta ton per bulan.
Baca juga: WALAU Dunia Memanas, Pendapatan Premi Asuransi Umum Naik 18,42 Triliun, Simak Alasannya
Baca juga: RESAH Warga Usai Peredaran Uang Palsu di Nusa Penida, Pengedar Ditangkap Seusai Berbelanja di Warung
“Per Maret 2026 total ketersediaan beras nasional mencapai sekitar 27,99 juta ton. Jika dihitung dengan kebutuhan konsumsi rata-rata, stok ini cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga 324 hari ke depan atau sekitar 10,8 bulan,” kata Amran dalam Konferensi Pers di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan) RI, Jumat, (6/3).
“Produksi pangan juga berjalan setiap bulan sehingga pasokan terus bertambah dan kondisi ini membuat ketahanan pangan kita relatif aman,” ujarnya.
Cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog juga terus meningkat. Saat ini stok beras Bulog tercatat sekitar 3,7 juta ton dan diperkirakan dapat menembus 5 juta ton dalam dua bulan ke depan seiring masuknya panen raya di berbagai daerah.
Amran menambahkan, pemerintah juga memperkuat langkah antisipasi terhadap potensi gangguan produksi, terutama risiko kekeringan akibat fenomena El Nino.
“Kami sudah menyiapkan berbagai langkah mitigasi, salah satunya melalui program pompanisasi dan penguatan sistem irigasi. Dengan dukungan ketersediaan pupuk serta pengelolaan air yang lebih baik, kami optimistis produksi tetap terjaga sehingga pasokan pangan nasional tetap aman,” katanya.
Di tengah situasi geopolitik global yang memanas, pemerintah juga memantau pergerakan harga pangan domestik. (kontan)
Ditopang Konsumsi Domestik
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan hingga kini konflik di Timur Tengah belum memberikan dampak signifikan terhadap harga kebutuhan pokok di dalam negeri.
Menurut Budi, struktur ekonomi Indonesia yang lebih ditopang konsumsi domestik membuat dampak langsung konflik global terhadap harga pangan relatif terbatas.
“Kalau kita bicara kontribusi terhadap PDB, porsi terbesar berasal dari belanja dalam negeri. Artinya, dinamika yang terjadi di luar negeri tidak serta-merta langsung memengaruhi harga pangan di dalam negeri. Sampai sekarang dari pemantauan sistem harga pangan dan pengecekan di berbagai daerah, kondisi harga maupun pasokan kebutuhan pokok masih relatif stabil,” ujarnya di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (5/3).
Ke depannya, pemerintah akan tetap mencermati potensi dampak tidak langsung dari konflik global terhadap rantai pasok energi dunia.
Jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz diketahui mengalirkan sekitar 20 juta barel minyak per hari atau setara sekitar 20 persen konsumsi minyak global.
Gangguan pada jalur ini berpotensi memicu kenaikan harga energi dan biaya logistik global yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga pangan. (kontan)