Roket Hizbullah Lukai 8 Tentara Israel, Juga Putra Menteri Keuangan, IDF Ancam Beirut Jadi Gaza Ke-2
Budi Sam Law Malau March 07, 2026 02:16 AM

 

WARTAKOTALIVE.COM -- Konflik di perbatasan Israel–Lebanon kembali memanas setelah roket yang ditembakkan kelompok HIzbullah melukai sejumlah tentara Israel.

Serangan tersebut memicu gelombang serangan udara balasan Israel ke Beirut yang memperparah situasi kemanusiaan di Lebanon.

Militer Israel Defense Forces (IDF) menyatakan delapan tentaranya terluka setelah roket yang ditembakkan kelompok Hizbullah menghantam posisi militer Israel di wilayah utara dekat perbatasan Lebanon pada Jumat (6/3/2026).

Baca juga:  Timur Tengah di Titik Nadir: 123 Tewas di Lebanon, Iran Gempur Israel-AS Lewat True Promise 4

Dari delapan korban, lima tentara dilaporkan mengalami luka serius sementara tiga lainnya luka ringan.

Para korban merupakan anggota Givati Brigade dan langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis.

Di antara korban luka ringan terdapat putra Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, menurut juru bicara kementerian.

Serangan roket ini menjadi salah satu insiden paling signifikan dalam eskalasi terbaru di perbatasan Israel–Lebanon yang terus meningkat sejak awal pekan.

Israel Gempur Basis Hezbollah di Beirut

Sebagai balasan, Angkatan Udara Israel melancarkan serangan udara intensif ke wilayah selatan Beirut pada Kamis malam hingga Jumat pagi.

Militer Israel menyatakan serangan menargetkan sekitar 10 gedung bertingkat di kawasan Dahiyeh, yang dikenal sebagai basis kuat Hezbollah di ibu kota Lebanon.

Menurut militer Israel, bangunan-bangunan tersebut digunakan untuk gudang drone, pusat komando, dan markas dewan eksekutif Hezbollah yang diduga menjadi pusat perencanaan serangan terhadap Israel.

Serangan ini merupakan bagian dari operasi militer Israel untuk mendorong Hezbollah menjauh dari perbatasan utara Israel.

Perintah Evakuasi Massal Picu Kekhawatiran Dunia

Sebelum melakukan serangan udara, militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi besar-besaran bagi warga di empat lingkungan utama di Dahiyeh.

Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, memperingatkan bahwa perpindahan penduduk secara masif tersebut berpotensi memicu bencana kemanusiaan.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan Kepala HAM PBB, Volker Türk, yang menyatakan keprihatinan serius terhadap dampak kemanusiaan dari perintah evakuasi massal tersebut.

Baca juga: 88 Ulama Iran yang Siapkan Pemimpin Tertinggi Baru Diserang Rudal Israel, Trump Klaim Punya Kandidat

Israel menyatakan langkah evakuasi dilakukan untuk meminimalkan korban sipil sebelum serangan terhadap infrastruktur militan.

Namun perintah serupa juga dikeluarkan Israel untuk wilayah selatan Lebanon dan Lembah Beqaa, yang turut menjadi basis operasi Hezbollah.

Korban Sipil Bertambah

Media pemerintah Lebanon melaporkan serangan Israel juga menghantam sebuah bangunan di kota pesisir Sidon tanpa peringatan sebelumnya.

Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, sedikitnya lima orang tewas dan tujuh lainnya terluka dalam serangan tersebut.

Secara keseluruhan, sejak awal pekan ini serangan udara Israel di Lebanon dilaporkan telah menewaskan 123 orang dan melukai 683 lainnya, meski pihak berwenang belum membedakan antara korban sipil dan kombatan.

Di tengah eskalasi konflik, laporan media menyebut sejumlah perwira dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) Iran meninggalkan Lebanon.

Sebagian besar perwira dari Pasukan Quds disebut merupakan penasihat militer bagi Hezbollah.

Namun sejumlah kecil personel Iran diperkirakan tetap berada di Lebanon untuk mempertahankan koordinasi militer dengan kelompok tersebut.

420.000 Warga Mengungsi

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan sekitar 420.000 warga Lebanon telah mengungsi dari rumah mereka di wilayah selatan akibat meningkatnya konflik.

Koordinator kemanusiaan PBB di Lebanon, Imran Riza, mengatakan sekitar 100.000 orang kini tinggal di 477 tempat penampungan sementara.

Namun kapasitas penampungan hampir penuh dan jumlah pengungsi diperkirakan terus meningkat.

“Orang-orang bergerak ke segala arah tanpa tahu harus pergi ke mana,” kata Riza, menggambarkan kepanikan warga sipil yang berusaha menyelamatkan diri dari konflik.

Pernyataan Kontroversial Smotrich

Sebelumnya, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich sempat memperingatkan bahwa Beirut selatan bisa mengalami kehancuran seperti kota Khan Younis di Gaza jika konflik terus berlanjut.

Pernyataan itu disampaikan saat ia berada di pagar perbatasan Israel–Lebanon ketika operasi militer Israel terhadap Hezbollah meningkat.

Ucapan tersebut memicu kritik dari sejumlah pihak karena dianggap memperkeras retorika perang di tengah meningkatnya korban sipil di Lebanon.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.