POS KUPANG.COM -- Perang Amerika dan Israel melwan Iran semakin meningkat dan semakin menghancuka.
Amerika dan Israel mengerahkan pesawatn tempur siluman untuk membombardir ibu kota Iran Teheran. Akibatnya, kota pusat pemerintahan Iran itu luluh lantak.
Pesawat-peraat tempur AS dan Israel bebas jadikan wilayah udara taman bermain setelah istim pertahanan udara Iran runtuh .
Dan, Teheran, diguncang gelombang pengeboman besar pada Jumat (6/3/2026), menandai eskalasi tajam konflik yang telah memasuki hari ketujuh perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Serangan udara yang dilaporkan semakin intens itu menghantam sejumlah titik strategis di kota tersebut, memicu kepanikan warga dan meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Baca juga: Putra Ali Kahmenei Dikabarkan Terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
Laporan dari media-media Iran menyebutkan ledakan keras terdengar di beberapa wilayah Teheran ketika pesawat tempur melancarkan serangan udara bertubi-tubi.
Beberapa lokasi yang dilaporkan terkena dampak berada di kawasan permukiman serta wilayah yang berdekatan dengan Universitas Teheran.
Sebuah akademi militer di ibu kota Iran juga disebut menjadi salah satu sasaran dalam serangan tersebut.
Militer Israel menyatakan bahwa gelombang serangan ke Teheran menargetkan apa yang mereka sebut sebagai “infrastruktur rezim”.
Pemerintah Israel juga mengumumkan bahwa operasi militer terhadap Iran kini telah memasuki “fase baru”, yang menandai perluasan target dan peningkatan intensitas serangan.
Selain Teheran, serangan udara juga dilaporkan terjadi di beberapa kota lain di Iran.
Baca juga: Militer Amerika Serikat Klaim Tembak Kapal Induk Drone Iran
Media setempat menyebutkan kota Shiraz dan Isfahan turut menjadi sasaran pengeboman. Kedua kota itu dikenal sebagai pusat penting aktivitas industri dan pendidikan di negara tersebut.
Di wilayah barat Iran, kota Kermanshah yang diketahui memiliki sejumlah fasilitas militer strategis juga dilaporkan menjadi target serangan.
Kota tersebut selama ini disebut sebagai salah satu lokasi pangkalan peluncuran rudal balistik milik Iran.
Militer Amerika Serikat mengonfirmasi keterlibatan langsung dalam operasi militer tersebut.
Kepala Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, mengatakan bahwa pihaknya mengerahkan pesawat pengebom siluman B-2 dalam operasi yang dilakukan pada Jumat.
Pesawat B-2 merupakan salah satu aset militer paling canggih milik Amerika Serikat yang dirancang untuk menembus sistem pertahanan udara lawan tanpa terdeteksi.
Dalam misi ini, pesawat tersebut membawa bom jenis “penetrator” yang dirancang untuk menghancurkan target yang berada jauh di bawah tanah.
Menurut Cooper, sasaran utama operasi tersebut adalah fasilitas peluncuran rudal balistik Iran yang dibangun di instalasi bawah tanah.
Serangan juga menargetkan Komando Antariksa Iran yang dinilai memiliki peran penting dalam pengembangan kemampuan militer negara tersebut.
“Kami juga menyerang Komando Antariksa Iran yang mengurangi kemampuan mereka untuk mengancam Amerika Serikat,” kata Cooper seperti dikutip dari Al Jazeera.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyatakan bahwa Washington siap meningkatkan tekanan militer terhadap Iran.
Ia mengisyaratkan bahwa operasi militer yang berlangsung saat ini berpotensi diperluas dalam waktu dekat.
Menurut Hegseth, Amerika Serikat akan mengerahkan lebih banyak skuadron jet tempur serta memperkuat kemampuan pertahanan udara di kawasan.
Ia juga memperingatkan bahwa frekuensi pengeboman dapat semakin meningkat.
“Akan ada lebih banyak skuadron jet tempur, kapabilitas lebih besar, dan kapabilitas pertahanan lebih banyak. Dan akan ada getaran pengeboman yang lebih sering,” kata Hegseth.
Eskalasi serangan udara tersebut membuat situasi keamanan di Iran semakin tegang.
Komunitas internasional kini memantau perkembangan konflik dengan kekhawatiran bahwa perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel berpotensi berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas.
Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban akibat gelombang serangan terbaru tersebut.
Namun sejumlah laporan dari dalam Iran menyebutkan kerusakan terjadi di beberapa wilayah yang menjadi sasaran pengeboman.*