TRIBUNJATENG.COM, KEBUMEN - Kekayaan geologi, keanekaragaman hayati dan keragaman budaya di pesisir Jawa bagian selatan, tepatnya Kabupaten Kebumen telah diakui oleh dunia.
Kebumen ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp) pada April 2025 lalu.
Sejumlah sukarelawan yang tergabung dalam Sahabat Bumi berupaya mengedukasi kepada masyarakat luas mengenai apa itu Geopark Kebumen melalui sekolah bumi.
Pengurus Sahabat Bumi sekaligus bagian dari Badan Pengelola Geopark Kebumen, Rizal Nur Alfian menyampaikan, Sahabat Bumi merupakan wadah gerakan masyarakat yang peduli terhadap konservasi geodiversitas, biodiversitas, dan cultural diversitas di Geopark Kebumen.
"Tujuannya, masyarakat itu teredukasi karena banyak yang masih salah kaprah geopark itu apa, dikiranya geopark hanya batu. Iya konsep awalnya dia adalah warisan geologi bernilai internasional, tapi sebenarnya tidak sampai di situ saja.
Di situ tidak hanya geologi. Ada tentang lingkungan hidup, dan terakhir ada pembangunan berkelanjutan bagi masyarakat di wilayah tersebut, Ini poin yang sering dilupakan," katanya saat dihubungi Tribun Jateng, Kamis (5/3).
Pihaknya berupaya menggandeng sebanyak mungkin relawan untuk menjadi bagian dari Sahabat Bumi melalui Sekolah Bumi.
Mereka yang ingin menjadi bagian dari Sahabat Bumi Kebumen UGGp wajib mengikuti kegiatan edukasi bernama Sekolah Bumi, yakni kelas edukasi gratis tanpa ada batasan usia.
Melalui Sekolah Bumi, pihaknya berupaya menjangkau masyarakat secara luas untuk bisa berpartisipasi dalam mensukseskan Kebumen UGGp. Dia menuturkan, Sekolah Bumi adalah sebuah program edukasi sederhana dengan tujuan agar peserta memahami apa itu Geopark Kebumen.
"Bagaimana bisa menjadi warisan geologi yang bernilai dunia dan diakui UNESCO, serta mengkampanyekan tiga pilar Geopark: Konservasi, Edukasi, dan Pembangunan Perekonomian Masyarakat Secara Berkelanjutan," terangnya.
Program Sekolah Bumi sudah berjalan sejak dua tahun lalu.
Dalam program itu, pihaknya mengajak peserta mengikuti berbagai kegiatan mulai dari kelas edukasi mengenai UGGp, city tour mengunjungi Galeri Geopark dan Pusat Informasi Geologi Kebumen.
"Terus di Alun-alun Pancasila yang banyak orang tidak tahu di pojok-pojoknya itu banyak titik-titik papan informasi mengenai geopark," tuturnya.
Setelah city tour, peserta kemudian diajak berdiskusi mengenai peran serta dalam melakukan kampanye, pendampingan masyarakat/kelompok di geosite sesuai dengan background keilmuan dan bakat masing-masing peserta.
Selain mengedukasi, jelas Rizal, dengan semakin banyaknya relawan yang tergabung dalam Sahabat Bumi diharapkan juga mereka nantinya dapat berpartisipasi mendampingi warga yang tinggal di sekitar geosite untuk pengembangan pembangunan ekonomi masyarakat berkelanjutan.
Menurutnya, pariwisata berupa eduwisata dan geowisata merupakan motor penggerak pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu peserta sekolah bumi juga diajak berkunjung langsung ke sejumlah situs-situs yang perlu dikembangkan.
"Contoh kayak Bulupitu. Bulupitu itu berpotensi menjadi sebuah site dengan branding baru, yaitu hutan hujan tropis yang tersisa di tanah Jawa. Itu harusnya diangkat. Kami sudah melakukan uji coba untuk edutrip di sana," ungkapnya.
Selain itu mencoba mengembangkan lokasi geosite, Sahabat Bumi juga mendampingi pengrajin anyaman pandan terkait pemasaran produk-produk yang dihasilkan oleh para pengrajin.
Dengan begitu, pembangunan ekonomi masyarakat dapat berkelanjutan di kawasan yang masuk dalam Geopark Kebumen.
Sebelumnya, pada acara Konsultasi Publik dan Pembukaan Masa Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kebumen 2026 dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) di Pendopo Kabumian, Januari silam, Perwakilan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jateng, Muji Purnomo mengatakan, Pemerintah Provinsi Jateng memiliki program prioritas 1.000 desa wisata.
Potensi yang ada di Kebumen berupa geopark dapat mendukung program tersebut dan masuk dalam RPJMD.
"Hal-hal yang mendukung destinasi wisata baru, berupa kampung wisata atau desa wisata itu, Kebumen yang ada Geopark dan pantai itu menjadi tujuan wisata yang bisa mendukung target 1.000 desa wisata baru program prioritas Jawa Tengah," ungkapnya. (Agus Iswadi)